BerandaTradisinesia
Minggu, 8 Nov 2025 18:52

Etika Berkabung Orang Jawa; Antara Unggah-Ungguh, Solidaritas, dan Filosofi Hidup yang Nggak Pernah Mati

Bagi orang Jawa, berkabung juga ada tata caranya. (Youtube/Mas Yoganteng)

Bagi orang Jawa, kematian bukan sekadar akhir kehidupan, melainkan bagian dari perjalanan spiritual yang dijalani dengan penuh tata krama, doa, dan solidaritas. Setiap langkah, dari slametan hingga brobosan, mencerminkan nilai unggah-ungguh yang menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Inibaru.id - Kematian bagi orang Jawa bukan sekadar akhir kehidupan, melainkan awal dari perjalanan roh menuju alam berikutnya. Dalam pandangan mereka, duka bukan urusan pribadi, melainkan tanggung jawab sosial yang sarat unggah-ungguh, sopan santun, dan solidaritas. Semua dijalankan dengan tata cara yang penuh makna, seolah setiap detail ritual dirancang untuk menjaga harmoni, baik antara manusia dengan Tuhan maupun sesama.

Filosofi kematian dalam masyarakat Jawa nggak lepas dari akulturasi panjang antara ajaran Islam, Hindu-Buddha, dan nilai lokal. Karena itu, tradisi slametan atau kenduri kematian tetap dijalankan lintas keyakinan. Baik abangan, santri, maupun priyayi sama-sama melaksanakan tahlilan di hari ke-3, ke-7, ke-40, hingga ke-100.

Bagi orang Jawa, slametan bukan hanya doa bagi almarhum, tetapi juga cara menjaga keseimbangan sosial dan spiritual agar roh tenang dan keluarga yang ditinggalkan tetap kuat.

Salah satu ritual yang penuh makna adalah Brobosan, ketika keluarga berjalan di bawah keranda jenazah. Secara simbolis, ini menjadi doa agar perjalanan roh lancar, tapi secara emosional, Brobosan adalah ungkapan kasih sayang terakhir keluarga, bentuk perpisahan yang lembut, penuh keikhlasan.

Upacara brobosan. (iNews Jateng)

Namun, yang membuat tradisi Jawa istimewa adalah hadirnya Sinoman, sebuah sistem gotong royong yang sudah mengakar sejak berabad-abad lalu. Tanpa perlu diminta, para tetangga datang membantu di rumah duka. Ibu-ibu menyiapkan hidangan, pemuda mendirikan tenda dan menyambut tamu. Tradisi ini bukan sekadar bentuk empati, tapi juga “asuransi sosial” agar keluarga nggak merasa sendirian dalam menghadapi kehilangan.

Bagi pelayat, unggah-ungguh tetap dijaga. Pakaian harus sederhana, warna hitam atau putih, tanpa perhiasan dan riasan mencolok. Sikap pun tenang dan nggak banyak bicara, sebab dalam kesunyian itu terselip penghormatan tertinggi. Bahasa Krama Inggil digunakan untuk mengucapkan belasungkawa, seperti “Nderek belasungkawa, mugi Gusti Allah paring kekiyatan”, doa yang sederhana namun sarat empati.

Selain dukungan doa dan kehadiran, masyarakat juga mengenal uang lelayu, bentuk gotong royong materi untuk meringankan beban keluarga berduka. Tradisi ini menunjukkan bahwa kepedulian sosial bukan hanya dalam kata, tapi juga tindakan nyata.

Etika berkabung a la orang Jawa sejatinya bukan tentang kematian itu sendiri, tapi tentang kehidupan yang terus dijaga dengan harmoni. Dalam duka, mereka tetap menegakkan nilai hormat, gotong royong, dan ketenangan. Sebuah pelajaran berharga bahwa bahkan di tengah kehilangan, orang Jawa tetap menaruh keindahan dalam kesedihan karena bagi mereka, rasa hormat adalah bentuk cinta yang abadi. (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengintip Sisi Lain Nusakambangan yang Indah di Pantai Bantar Panjang

11 Jan 2026

Waroeng Sate Pak Dul Tjepiring, Tempat Makan yang Juga Museum Mini

11 Jan 2026

Bahaya yang Mengintai saat Anak Terlalu Cepat Diberi Gawai

11 Jan 2026

Lebih dari Menikmati Kopi, 'Ngopi' adalah tentang Koneksi dan Ekspresi Diri

11 Jan 2026

Sungai Finke Sudah Mengalir Sebelum Dinosaurus Lahir

11 Jan 2026

Musim Hujan Bikin Para Ibu Gampang Capek dan Baperan? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

11 Jan 2026

Menilik Keindahan Curug Merak di Kabupaten Temanggung

12 Jan 2026

Cara Naik Kereta 36+3 di Jepang yang Santai dan Kaya Pemandangan Indah

12 Jan 2026

Belenggu Musim Baratan bagi Nelayan; Gagal Melaut dan Terjerat Lintah Darat

12 Jan 2026

Koperasi hingga Budi Daya Ikan, Upaya Pemkot Bantu Nelayan Semarang hadapi Paceklik

12 Jan 2026

3 Kode dari Tubuh Kalau Kamu Alami Intoleransi Gluten!

12 Jan 2026

Akses Jalan Mulai Terbuka, Desa Tempur Jepara Perlahan Bangkit Pascalongsor

12 Jan 2026

'Project Y', Film Korea Terbaru yang Duetkan Aktris Papan Atas Korea Han So-hee dan Jun Jong-seo

13 Jan 2026

Cerita Legenda Puncak Syarif di Gunung Merbabu

13 Jan 2026

Merti Sendang Curug Sari dan Kampanye 'Nggodog Wedang' Warga Pakintelan Semarang

13 Jan 2026

In This Economy, Mengapa Orang Masih Berburu Emas meski Harga Sudah Tinggi?

13 Jan 2026

Riset Ungkap Kita Sering Merasa Kebal dari Dampak Perubahan Iklim

13 Jan 2026

Bolehkah Makan Malam Cuma Pakai Buah?

13 Jan 2026

Sebenarnya, Boleh Nggak Sih Merokok di Trotoar Kota Semarang?

14 Jan 2026

Paradoks Memiliki Anak di Korea, Dianggap Berkah Sekaligus Kutukan Finansial

14 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: