BerandaTradisinesia
Kamis, 18 Feb 2026 09:01

Cerita Tradisi Ngangklang di Kendal, dari Jalanan Kini Naik Panggung Jadi Festival

Alat-alat musik sederhana yang dimainkan dalam tradisi Ngangklang. (iNews/Eddie Prayitno)

Awalnya, tradisi ngangklang digelar sebagai cara unik anak muda Kaliwungu, Kabupaten Kendal, membangunkan warga untuk sahur. Kini, tradisi ini digelar dalam wujud festival yang meriah.

Inibaru.id – Kalau kamu kebetulan singgah di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal pada bulan Ramadan, pasti bakal mendengar suara khas setiap dini hari sebelum jam sahur. Suara itu bukan alarm ponsel, melainkan dentingan kentongan bambu, angklung, dan bunyi panci yang dipukul ramai-ramai.

Suara khas itu berasal dari tradisi yang sudah eksis bertahun-tahun dan dikenal dengan nama ngangklang. Yang melakukannya adalah anak-anak muda untuk membangunkan warga agar segera bangun dan melakukan santap sahur.

Dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB atau 03.00 WIB, kelompok remaja akan berkeliling kampung sambil memainkan alat musik sederhana. Kentongan bambu jadi bintang utama, tapi seringkali dikombinasikan dengan angklung, ember bekas, sampai panci dapur. Irama yang dihasilkan memang sederhana, tapi justru di situlah keseruannya. Nadanya terdengar riuh, kompak, dan penuh semangat.

Bagi warga Kaliwungu, ngangklang bukan sekadar rutinitas Ramadan. Ini sudah jadi ruang kebersamaan, ajang kreativitas, sekaligus hiburan murah meriah di tengah sunyinya malam. Anak-anak muda melakukan hal kreatif dan positif, warga pun terbangun dengan senyuman karena merasa terbantu.

Dari tradisi kampung jadi festival tahunan

Festival Ngangklang Gus Alam Cup rutin digelar setiap ramadan. (FB/Alamudin Dimyati Rois)

Yang bikin tradisi ini semakin menarik, ngangklang tidak berhenti di jalanan kampung. Sejak 2014, tradisi ini bahkan “naik panggung” lewat Festival Ngangklang Gus Alam Cup yang rutin digelar jelang Lebaran, biasanya sekitar tanggal 26 Ramadan. Lokasi festival ini dipusatkan di pelataran Kantor Kecamatan Kaliwungu dan diikuti puluhan kelompok remaja dari berbagai desa.

Festival ini bukan cuma soal siapa yang paling berisik atau paling cepat membangunkan orang sahur. Panitia menilai musikalitas, kekompakan gerak, sampai kostum yang dikenakan peserta. Hadiahnya pun serius, berupa uang jutaan rupiah hingga paket wisata, lengkap dengan hiburan seperti pesta kembang api yang disaksikan ratusan warga.

Camat Kaliwungu, Nung Tubeno, menegaskan pentingnya festival ini sebagai upaya pelestarian budaya. “Festival lomba ngangklang ini menjadi salah satu kegiatan untuk menjaga tradisi lokal, yang mana selalu eksis dilakukan oleh para generasi muda pada bulan suci Ramadan untuk membangunkan masyarakat untuk sahur,” ujarnya sebagaimana dinukil dari situs resmi Kendalkab, Minggu (16/4/2023)

Sementara itu, penggagas festival sekaligus tokoh asal Kaliwungu, Alamudin Dimyati Rois atau yang akrab disapa Gus Alam, menyebut ngangklang sebagai identitas warga setempat. “Ngangklang adalah cara masyarakat Kaliwungu membangunkan orang sahur. Alat yang biasa digunakan adalah kentongan, panci, angklung, dan alat musik tradisional lainnya,” tuturnya.

Di tengah gempuran alarm digital dan notifikasi ponsel, ngangklang hadir sebagai pengingat bahwa kebersamaan masih punya tempat penting dalam kehidupan masyarakat. Tradisi ini bukan cuma soal bangun sahur, tapi juga soal merawat budaya, mempererat warga, dan memberi ruang ekspresi bagi generasi muda.

Selama bunyi kentongan masih bergema tiap Ramadan lewat tradisi ngangklang, selama itu pula semangat warga kampung di Kaliwungu akan terus hidup. Keren ya, Gez?(Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Blok GM, Surga Anak Skena, dan Wajah Baru Kota Semarang saat Malam

9 Apr 2026

Puting Beliung Terjang Banyumanik, Pemkot Semarang Akan Perbaiki Rumah Warga Terdampak

9 Apr 2026

Kembalikan Ruh, Tiket Masuk Resmi Ditiadakan dalam Tradisi Bulusan

9 Apr 2026

Pecinan Semarang Bakal Dikelilingi Arak-arakan 50 Kelenteng Akhir Pekan Ini!

10 Apr 2026

30 Persen Jemaah Haji asal Semarang Masuk Kategori Muda, Puluhan di Antaranya Gen Z

10 Apr 2026

Kolaborasi AMSI dan Meta untuk Dukung Jurnalisme Berkualitas

10 Apr 2026

Jaga Produksi, Pengusaha Tahu Semarang Putar Otak saat Harga Kedelai dan Plastik Naik

10 Apr 2026

Manisnya Kecap Kentjana Kebanggaan Kebumen

28 Mar 2026

Apa Saja yang Perlu Dipersiakan Traveler Muslim Sebelum Liburan ke Jepang?

28 Mar 2026

Hati-Hati, 56 Persen Konten Mental Health di Medsos Ternyata Ngawur!

28 Mar 2026

Balik Rantau Gratis Pemprov Jateng Panen Jempol

28 Mar 2026

Penyebab Tubuh Cepat Lelah saat Cuaca Panas

29 Mar 2026

Kuliner Malam Legendaris Yogyakarta; Bubur Pawon Mbah Sadiyo

29 Mar 2026

Waspada El Nino 'Godzilla'! Ini 7 Penyakit yang Mengintai saat Kemarau Panjang 2026

29 Mar 2026

Studi Temukan Kandungan Timbal pada Baju Fast Fashion Anak, Warna Cerah Paling Rawan

29 Mar 2026

Lezatnya Opor Enthok di Warung Enthok Bu Siti, Kuliner Legendaris Wonosobo

30 Mar 2026

Cuma 53 Detik di Udara, Begini Cerita Penerbangan Terpendek di Dunia

30 Mar 2026

Pahitnya Rahasia Secangkir Kopi Luwak

30 Mar 2026

Jemaah Umrah Wajib Pulang Sebelum 18 April!

30 Mar 2026

Tanggapan Warga Terkait Kemungkinan Harga BBM Naik pada 1 April 2026

31 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: