BerandaPasar Kreatif
Sabtu, 12 Jan 2018 06:24

Susi dan Inovasi Tas Batik-Kulit

Susi dan Tas Java Ume (Detik.com)

Ada begitu banyak tas wanita yang tersebar di pasaran dengan berbagai pilihan bahan dan desain. Mengombinasikan batik dan kulit sekaligus, tas produksi milik Susi banyak dibeli kalangan menengah atas, terutama yang berasal dari hotel berbintang lima.

Inibaru.id - Batik memang nggak ada duanya. Nggak hanya dijadikan sebagai baju saja, batik juga bisa dikreasikan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah tas batik. Tentu sobat Millens sudah sering menemukan tas batik, bahkan sudah menjadi hal yang biasa. Namun di tangan Susi, tas batik jadi nggak biasa. Berbeda dengan tas batik di pasaran, dia mengombinasikan tasnya dengan kulit. Jadi nggak hanya tas batik atau tas kulit saja, namun dua bahan menjadi satu.

Memiliki pangsa pasar menengah ke atas, Susi menggunakan Java Ume untuk nama produk tas miliknya. Memiliki range harga dari Rp 700 ribu hingga Rp 3 juta, langganannya pun berasal dari hotel berbintang lima. Padahal awalnya dia berencana memasukkan produk tasnya ke Debenhams Departement Store Kemang Village. Namun karena Kemang Village tutup dan menjadi waiting list di Debenhams cabang lain, Susi mencoba memasarkanya ke hotel berbintang seperti Hotel Fairmonth Senayan dan Grand Melia Kuningan, Jakarta. Bahkan dari hotel berbintanglah dia lebih sering mendapatkan pembeli.

Mengutip Detik.com (6/12/2016), Susi mulai memasukkan produknya ke hotel berbintang sejak Oktober 2016. Dari hotel berbintang, dia justru mendapat permintaan untuk membuat clutch bag atau tas berukuran kecil. Hal ini dikarenakan segmentasinya adalah traveller.

Baca juga:
Heni dan Bahar, Pasangan Susu Buah dari Semarang
Bisnis Kreatif Mengiurkan Berbahan Clay Tepung

"Pihak hotel meminta kami membuat clutch bag karena kalau terlalu besar itu susah bawa pulangnya ya sudah kita coba yang kecil, karena mereka kan traveling," jelas Susi.

Adapun untuk tas produksinya, Susi menggunakan batik tulis dari Yogyakarta, Madura, dan Cirebon. Untuk kulitnya dia menggunakan kulit sapi dan domba. Selain berbahan batik, dia juga membuat tas berbahan kain tenun yang berasal dari Bali, Lombok, dan Jepara.

Untuk mengombinasikan antara kulit dan batik atau tenun, sebelumnya dia bentuk dulu pola dan bagaimana pembagian porsi antara batik dengan kulitnya. Setelah itu baru ditentukan penjahitan kulitnya untuk disatukan dengan batik atau tenunnya. Supaya nggak salah, dia juga harus sering berdiskusi dengan pengrajinnya.

Memulai usaha bersama seorang temannya, modal awalnya saat itu Rp 20 juta pada 2015. Pada awalnya Susi memulai bisnisnya karena melihat banyak orang yang memakai batik. Melihat sudah banyak yang memakai tas kulit dan tas batik, dia lalu mencoba mengkombinasikan keduanya. Sampai akhirnya dia pun bisa mendapatkan bahan dan pengrajinnya di Jakarta.

Untuk menjaga kualitas produknya, Susi menargetkan satu hari satu orang pengrajin dapat memproduksi 1 tas berkualitas baik. Padahal jika mau, produksinya bisa ditekan menjadi tiga tas dalam sehari. Namun karena tas yang diproduksinya untuk kualitas butik, maka itu harus dikerjakan dengan rapi sekali.

Susi berusaha menyeriusi bisnisnya dari awal. Hal itu dibuktikannya nggak hanya dengan membuat tas berkualitas baik. Pada Februari 2016, dia juga produknya di Kementerian Hukum dan HAM untuk mendapatkan paten Haki (hak atas kekayaan intelektual). Pasalnya, saat itu untuk masuk Debenhams harus ada izin perdagangan berlabel Indonesia.

Baca juga:
Sapu Ijuk Galunggung Tetap Bertahan
Cilok Kekinian Kaya Saus

Memiliki karyawan kurang dari 10, dalam setahun Susi bisa meraih omzet rata-rata Rp 100 juta. Untuk memperluas pasar, dia pun mencoba memasarkan produknya ke luar negeri yaitu ke Italia dan Rusia.

So, kisah Susi menunjukkan bahwa keberhasilan itu perlu upaya keras, jeli melihat peluang, dan selalu kreatif dan inovatif. Sepakat? (ALE/SA)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: