BerandaPasar Kreatif
Kamis, 1 Sep 2021 10:29

Menjual Wayang Kulit di Media Sosial, Cara Promosi Pengrajin Wayang Kekinian

Wayang kreasi buatan Ekky yang menempel pada pakeliran. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Menjual wayang kulit di media sosial menjadi cara promosi yang menarik. Kendati pengrajin wayang di era sekarang kurang diperhitungkan, para pembeli terus saja berdatangan.

Inibaru.id – Putranda Ekky Prananda tampak serius dengan pekerjaannya saat saya berkunjung ke rumahnya di Pudakpayung, Kota Semarang, belum lama ini. Setelah mempersilakan saya duduk, dia kembali bersila di depan sebuah meja kecil berbentuk bulat.

"Sebentar ya, Mas!" ujar Ekky, sapaan akrab pengrajin wayang tersebut.

Sejurus kemudian, kedua matanya sudah kembali tertuju pada pola wayang di selembar kulit kerbau di atas pandukan, semacam talenan untuk landasan menatah. Tangan kanan Ekky menggenggam ganden, semacam palu kayu besar, sedangkan yang kiri memegang tatah berbentuk bilah besi berujung runcing.

Sebetulnya, saya nggak menyangka bakal bertemu pengrajin wayang semuda ini. Umurnya baru 23 tahun, tapi dia tampak sudah lihai menatah wayang. Terang saja, berdasarkan pengakuan Ekky, dirinya sudah membuat wayang sejak belasan tahun silam.

Kesukaan Ekky pada dunia pewayangan bahkan sudah dimulai sejak balita. Dia yang kerap diajak menonton pergelaran wayang oleh kakek dan bapaknya mulai mengoleksi wayang setelahnya. Namun, lantaran harganya mahal, dia pun memutuskan membuat wayang sendiri saat duduk di kelas 4 SD.

“Awal-awal (membuat), bikin model kreasi, bahan wayang, sandangan (pakaian dan atribut), dan gagrak (kekhasan badan)," ungkap lelaki yang masih tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Semarang itu. "Sejak SMA baru seusai pakem dalang untuk pergelaran.”

Kekuatan Media Sosial

Ekky tampak memegang wayang buatannya untuk mengecek kelenturan kulit dan gapit yang menempel. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Menyukai dunia pewayangan pada era modern seperti sekarang ini tentu menjadi sebuah anomali. Kendati ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia, kesenian yang konon sudah ada sejak abad ke-4 tersebut bukanlah pergelaran populer. Nggak banyak lagi yang menanggap wayang sekarang.

Namun, rupanya hal itu nggak menyurutkan minat Ekky untuk menggemari wayang kulit, lalu mulai membuat sendiri, hingga akhirnya memutuskan menjual dan menerima pesanan untuk hasil karyanya tersebut.

Kendati yang dia jual adalah produk "klasik" yang nggak populer bagi masyarakat kiwari, bukan berarti cara berjualannya juga konvensional. Ekky justru menggunakan media sosial seperti Instagram dan Facebook sebagai media promosi utamanya.

“Pembeli kebanyakan malah tahu saya dari Facebook, Instagram, dan Youtube. Kadang ada yang tahu setelah baca berita tentang saya," kelakar lelaki berkumis tipis ini. "Oya, getuk tular (promosi dari mulut ke mulut) juga jadi andalan."

Wayang Ekky dijual mulai Rp 750 ribu hingga puluhan juta rupiah, tergantung detail dan tingkat kesulitannya, ukuran, dan berapa buah wayang yang dipesan.

“Paling murah wayang versi perempuan yang memakai emas foil atau yang sering dibilang grenjeng. Kalau wayang perempuan warna emas asli (food grade) kurang lebih Rp 2 jutaan,” bebernya.

Berbagai macam wayang buatan Ekky. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)

Sementara, untuk wayang laki-laki dengan emas asli, Ekky membanderolnya dengan harga lebih dari Rp 2 juta, sedangkan yang menggunakan foil dimahar Rp 1,5 juta. Harga ini jauh berbeda kalau wayang itu untuk pajangan, biasanya sepaket wayang berukuran besar dalam figura, yang bisa mencapai puluhan juta rupiah.

“Untuk dalang dan kolektor, saya buatkan yang standar pergelaran, pakai kulit. Berbeda dengan untuk instansi atau cinderamata yang biasanya saya buatkan pakai kardus karena cuma untuk pajangan,” terangnya.

Ekky mengaku, dirinya lebih suka kalau wayangnya dibeli dalang karena berarti buah karyanya tersebut bakal benar-benar dipakai, nggak sekadar dipajang. Namun dia juga nggak akan menolak kalau ada kolektor yang membeli, karena baginya, mereka akan melestarikan budaya juga.

Selama menekuni profesi sebagai pengrajin wayang, Ekky mengungkapkan, para pelanggannya nggak hanya datang dari pasar lokal. Dia juga sering melayani pembelin dari luar pulau dan mancanegara.

“Untuk luar Jawa, paling jauh Palembang, karena di sana banyak dalang juga. Kalau ke luar negeri ada banyak, mulai Jerman, Korea, hingga Meksiko,” tuturnya semringah, lalu tertawa senang sembari merapikan peralatan tatah di hadapannya yang mungkin berjumlah sekitar 20-an buah.

Hm, obrolan panjang yang menyenangkan. Saya sejatinya bisa lebih lama di sana, sayangnya nggak memungkinkan. Menjelang pamitan, Ekky masih sempat bercerita bahwa suatu ketika ada dalang asli Semarang yang datang ke tempatnya dan mengatakan bahwa dia bersyukur di Semarang ada pengrajin wayang.

"Sebelum bertemu saya, dalang itu mengaku membeli wayang di sekitar Wonogiri, Solo, dan Sukoharjo," tandasnya.

Dari sorot mata Ekky, saya bisa melihat betapa bangganya lelaki muda itu kini. Entah sudah berapa banyak yang mencibirnya, tapi agaknya dia sekarang bisa membusungkan dada atas pencapaian yang didapatkannya ini. Selamat, Ekky! (Kharisma Ghana Tawakal/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: