BerandaPasar Kreatif
Senin, 28 Sep 2025 15:01

Menggantungkan Hidup dengan Penghasilan Semenjana sebagai Buruh Emping di Batang

Zumrotul, salah seorang buruh emping di Dukuh Lempuyang, Desa Surjo, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang. (Inibaru.id/ Sekarwati)

Saat harga anjlok, upah yang semenjana membuat buruh emping di Batang nggak bisa menggantungkan hidup sepenuhnya dari pekerjaan tersebut. Untuk alasan inilah perajin emping didominasi ibu rumah tangga.

Inibaru.id – Nggak sulit menemukan emping melinjo di Kabupaten Batang, khususnya saat kamu bertandang ke Kecamatan Bawang atau Limpung yang berada di sisi timur kota. Dari yang borongan hingga eceran, dari yang kecil hingga lebar, dan dari yang mentah hingga matang, tersedia di sini.

Memang sudah lama dua kecamatan itu dikenal sebagai sentra pembuatan emping di Batang, dengan pasar lokal, bahkan meluas hingga Jawa Tengah dan kawasan lain yang memerlukan ekspedisi dengan penanganan khusus untuk mengirimnya.

Emping melinjo banyak dijual di pasar tradisional. Maka, menjadi hal yang lazim berpapasan dengan pemotor dengan keranjang berisi emping di kiri-kanannya di Bawang atau Limpung. Menjadi hal yang lazim pula melihat orang menjemur kepingan emping berkilo-kilogram di pelataran rumah mereka pada siang hari.

Di kawasan tersebut, sebagian masyarakat memang menggantungkan hidupnya sebagai pembuat emping. Ada yang menjual, baik yang matang maupun mentah; ada yang memproduksi. Namun, mayoritas dari mereka adalah buruh perajin emping.

Yap, kamu nggak salah baca! Mereka adalah buruh; biasanya para perempuan, ibu-ibu yang tinggal di pelosok desa. Disebut buruh karena mereka menghasilkan emping berdasarkan melinjo yang disuplai oleh pengusaha, lalu dikembalikan jika sudah jadi sesuai waktu yang telah disepakati.

Yang para buruh dapatkan ini bukanlah laba penjualan, tapi upah yang nilainya cukup fluktuatif. Saat harga emping anjlok, mereka diupah Rp6.000 per kilogram, tapi bisa naik hingga Rp12.000 per kilogram saat harganya melonjak tinggi.

Pendapatan Kecil, tapi Fleksibel

Proses menumbuk melinjo menjadi kepingan emping. (Inibaru.id/ Sekarwati)

Inilah yang dikatakan Zumrotul, salah seorang perajin emping dari Dukuh Lempuyang, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang. Terakhir produksi, dia bisa menghasilkan 11 kilogram emping dalam empat hari, yang dihasilkan dari 20 kilogram melinjo mentah.

Meski hasilnya kecil, dia tetap bertahan melakoninya karena pekerjaan tersebut cukup fleksibel untuknya yang sehari-hari masih disibukkan oleh keharusan mengurus kebutuhan rumah tangga. Menurutnya, cepat atau lambatnya pengerjaan emping tergantung pada para perajinnya.

"Deadline kami tentukan sendiri. Jadi, semakin cepat selesai, semakin cepat dapat uang. Namun, kadang pengerjaan jadi lebih lama karena disambi mengurus anak," ucapnya di kediamannya, belum lama ini.

Zumrotul menerangkan, setiap harinya dia mendapatkan setoran melinjo dari produsen emping. Melinjo yang disetorkan sudah dalam keadaan kering dan dipisahkan dari kulitnya. Kemudian, saat garapan selesai, penyetor akan membawanya kembali untuk dijual atau disalurkan ke pusat pembelanjaan.

“Berapa banyak melinjo yang akan saya garap juga nggak ada paksaan. Fleksibel. Terserah kami,” jelas ibu dua anak yang mengatakan sudah 10 tahun melakoni pekerjaan sebagai buruh emping tersebut.

Dia mengaku sudah mulai membuat emping sejak duduk di bangku SD. Waktu itu hasilnya untuk tambahan uang saku. Kemampuan membuat emping didapatkannya setelah melihat langsung proses pembuatan emping yang dilakukan oleh tetangganya.

"Saya belajar otodidak. Awal-awal numbuk (melinjo), pegal sekali tangannya. Kulit panas dan napas sesak karena asap. Tapi, habis itu biasa. Sekarang saya bahkan lebih terampil dan lihai menumbuk melinjo (dibanding tetangganya)," kelakar perempuan murah senyum itu.

Hanya Penghasilan Tambahan

Zumrotul saat mengeringkan emping melinjo yang masih hangat. (Inibaru.id/ Sekarwati)

Dengan upah yang "semenjana", menurut Zumrotul, menjadikan upah sebagai buruh pembuatan emping sebagai pendapatan utama rumah tangga masih jauh panggang dari api. Harga emping yang fluktuatif membuat dirinya nggak bisa mengandalkan penghasilannya itu.

Sebagai gambaran, saat harga sedang bagus, yakni Rp12 ribu per kilogram, dia bisa mendapatkan upah sebesar Rp20 ribu per hari. Hasil ini lumayan, karena berarti dalam lima hari dia bisa mengantongi pendapatan hingga Rp100 ribu.

"Sebaliknya, saat harga anjlok (Rp6.000 per kilogram), seminggu paling-paling di kisaran Rp50-60 ribuan. Kalau harga bagus, senang. Tapi kalau begini (harga rendah), wah, sedih banget," paparnya.

Karena alasan inilah, dia menambahkan, buruh emping lebih banyak digeluti para ibu rumah tangga di kampung halamannya. Menurutnya, pekerjaan itu belum memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seisi rumah, jadi sifatnya hanya sebagai penghasilan tambahan.

"Buruh emping lebih banyak dikerjakan ibu rumah tangga untuk membantu suami yang juga mencari nafkah," sebutnya.

Namun begitu, Zumrotul mengaku tetap merasa bersyukur karena masih diberi kesempatan dan kemampuan untuk melakoni aktivitas ini. Sebagai orang desa, dia mengaku hanya dengan menjadi buruh emping ini dia bisa mendapatkan uang tambahan.

"Hasil dari jerih payah saya ini juga dipakai untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari di rumah," tandasnya lirih; matanya tertuju pada hamparan emping basah yang tengah dijemur di depan rumahnya, tapi hatinya terbang entah ke mana.

Seperti rasa emping yang gurih dengan sedikit getir di lidah, begitulah nasib para perajin emping di Batang. Menjadi sentra produksi emping nggak lantas membuat orang-orang di garda terdepannya kaya-raya. Meski menikmati hasil jerih payah, hidup mereka tetaplah semenjana. (Sekarwati/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Blok GM, Surga Anak Skena, dan Wajah Baru Kota Semarang saat Malam

9 Apr 2026

Puting Beliung Terjang Banyumanik, Pemkot Semarang Akan Perbaiki Rumah Warga Terdampak

9 Apr 2026

Kembalikan Ruh, Tiket Masuk Resmi Ditiadakan dalam Tradisi Bulusan

9 Apr 2026

Pecinan Semarang Bakal Dikelilingi Arak-arakan 50 Kelenteng Akhir Pekan Ini!

10 Apr 2026

30 Persen Jemaah Haji asal Semarang Masuk Kategori Muda, Puluhan di Antaranya Gen Z

10 Apr 2026

Kolaborasi AMSI dan Meta untuk Dukung Jurnalisme Berkualitas

10 Apr 2026

Jaga Produksi, Pengusaha Tahu Semarang Putar Otak saat Harga Kedelai dan Plastik Naik

10 Apr 2026

Ogah Cuma Jadi Formalitas, Sumanto Pengin Bedah LKPJ 2025 Hasilkan Solusi Nyata buat Jateng

11 Apr 2026

Investasi buat Anak Cucu, Sumanto Ajak Relawan Jaga Kali-Rawat Bumi

12 Apr 2026

Kecelakaan (Lagi) di Silayur Semarang, Mau sampai Kapan?

12 Apr 2026

Bernuansa Spiritual, Tradisi Kirab Kelenteng di Pecinan Semarang

13 Apr 2026

Lansia Dominasi Calhaj Asal Semarang, Kesehatan jadi Tantangan Serius

13 Apr 2026

ASN Jateng WFH Tiap Jumat, Sumanto: Jangan Sampai Pelayanan Publik Malah Libur

13 Apr 2026

Dishub Perketat Akses Masuk ke Silayur, Dua Portal Disiapkan untuk Batasi Truk Tronton

14 Apr 2026

Forbasi Matangkan Struktur Organisasi via Rakernas dan Sertifikasi Juri-Pelatih

14 Apr 2026

Ikhtiar Warga Silayur, Kembalikan Tradisi Ruwatan untuk Keselamatan Pengguna Jalan

14 Apr 2026

Grup Cowok: Batas Tipis antara Bercanda dan Pelecehan Seksual

15 Apr 2026

Menanti Surpres, Nasib RUU PPRT Kini di Tangan Presiden

15 Apr 2026

Temuan Fosil Purba di Bumiayu, Diduga Lebih Tua dari Sangiran

16 Apr 2026

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: