BerandaPasar Kreatif
Rabu, 4 Nov 2025 15:01

Disebut sebagai 'Safe-haven Asset', Adakah Risiko Berinvestasi Emas saat Harga Naik?

Ilustrasi: Emas disebut sebagai safe-haven asset. (Antara Foto/Irwansyah Putra via Kontan)

Bukan tanpa alasan para investor menjadikan emas sebagai 'safe-haven asset'.Apa maksudnya dan adakah risiko menjadikan logam mulia yang nggak terpengaruh secara langsung terhadap inflasi ini sebagai tempat yang aman untuk berinvestasi.

Inibaru.id - Ketika pasar keuangan berguncang dan ekonomi dunia tampak nggak pasti, banyak investor yang memilih lari ke satu jenis investasi yang digadang-gadang sebagai safe-haven asset, yakni emas. Mengapa logam mulia ini mendapatkan julukan ini?

Secara harfiah, safe haven berarti "tempat yang aman". Dikutip dari Investopedia, safe haven asset adalah aset yang diharapkan dapat mempertahankan atau meningkatkan nilainya selama turbulensi pasar.

Dengan kata lain, ketika nilai saham, obligasi, atau aset lain jatuh karena krisis, safe haven asset tetap bisa menjadi pelarian, tumpuan, atau pilihan untuk melindungi kekayaan agar nggak ikut tergerus dan terjun bebas.

Bukan tanpa alasan emas disebut sebagai tempat yang aman. Berdasarkan bukti empiris dan historis, ada beberapa bukti mendasar yang membuat emas layak disebut safe haven.

Alasan Emas Layak Disebut Safe Haven

1. Menjadi Store of Value sejak ribuan tahun

Emas telah digunakan sebagai penyimpan nilai (store of value) selama ribuan tahun. Royal Mint menyebut, emas berfungsi sebagai tempat penyimpanan kekayaan yang dapat diandalkan, yang secara konsisten mempertahankan nilainya sepanjang sejarah.

Karena bukan mata uang fiat yang bisa dicetak tanpa batas, jumlah emas terbatas dan sifat fisiknya tahan korosi. Inilah yang menjadikannya unik.

2. Aman dari pengaruh inflasi

Ketika inflasi naik atau mata uang suatu negara melemah, daya beli uang kertas bisa menyusut. Sebaliknya, emas sering naik atau setidaknya mempertahankan nilai riilnya. Nilai emas juga cenderung aman terhadap risiko inflasi.

3. Korelasi negatif terhadap aset risiko

Riset mengindikasikan bahwa dalam periode krisis, korelasi antara emas dan aset-aset berisiko seperti saham dan obligasi tertentu menurun atau bahkan negatif. Sebuah studi menyebut:

Ketika pasar saham atau obligasi melemah, emas bisa bergerak ke arah berbeda, bahkan naik sehingga sering disebut sebagai penyeimbang (diversifier).

4. Nggak terikat pada kinerja perusahaan atau negara

Berbeda dengan saham yang bergantung pada kinerja perusahaan atau obligasi yang dipengaruhi oleh kredibilitas negara, emas adalah komoditas global yang nilainya nggak secara langsung tergantung pada satu entitas.

Ia juga nggak terikat pada salah satu mata uang dan ekonomi suatu wilayah secara langsung. Hal ini membuat emas menjadi pilihan saat risiko geopolitik dan fiskal meluas.

Kenapa Harga Emas Naik Hari-Hari Ini?

Ilustrasi: Harga emas terus meroket hari-hari ini. (Bloomberg/Getty Images via BBC)

Sebagaimana diketahui, harga emas saat ini terus meroket. Hal tersebut dipengaruhi oleh situasi global belakangan yang memperkuat peran emas sebagai safe haven. Analis Bank of America menyebut bahwa naiknya utang nasional dan pengeluaran pemerintah membuat emas menjadi aset yang penting.

“Emas adalah safe haven asset paling utama saat ini," tulisnya, dikutip via Financial Times, belum lama ini..

Sementara itu, Wei Li dari Black Rock mengungkapkan bahwa emas kini telah menjadi penyeimbang yang lebih baik ketimbang instrumen utang terbitan pemerintah seperti obligasi untuk negara-negara dengan utang yang tinggi.

Inilah mengapa pada masa pandemi Covid-19 serta di tengah situasi geopolitik yang tegang akibat perang di sejumlah wilayah di dunia seperti sekarang ini, pembelian emas oleh bank sentral dan investor institusi meningkat tajam.

Catatan Penting sebelum Membeli Emas

Walaupun banyak keunggulan, ilmuwan dan ekonom memberi catatan bahwa berinvestasi pada emas bukannya tanpa risiko. Ada satu studi kuantitatif yang menunjukkan bahwa kemampuan emas sebagai safe haven nggak selalu konsisten di semua krisis atau pasar.

Hasil empiris mengenai sifat emas sebagai safe haven bisa beragam. Emas tidak menghasilkan pendapatan rutin seperti dividen atau bunga. Kemudian, karena emas sering dibeli saat ada potensi krisis, ia bisa mengalami “overheating”; nilainya melonjak lalu stagnan atau tertahan saat kondisi membaik.

Berikut adalah sejumlah implikasi penting yang bisa kamu jadikan catatan:

  1. Memiliki sebagian portofolio dalam emas bisa menjadi strategi diversifikasi yang cerdas, terutama untuk menghadapi gejolak makro-ekonomi dan geopolitik.
  2. Emas paling efektif sebagai “asuransi” daripada perangkat asuransi umum. Artinya, bukan untuk diharapkan naik cepat, tetapi melindungi nilai saat badai keuangan.
  3. Perhatikan kondisi global seperti utang negara, pencetakan uang, geopolitik, dan inflasi. Ini adalah indikator-indikator ini sering menjadi pemicu aliran modal ke emas.
  4. Jangan melihat emas sebagai solusi tunggal. Pasar tetap kompleks dan emas juga bisa mengalami koreksi. Maka, kombinasikan dengan aset lain untuk manajemen risiko yang lebih baik.

Dengan memahami mekanisme dan kondisi yang mendorong aliran ke emas, kita bisa menggunakan aset ini dengan bijak. Maksudnya, belilah emas bukan sekadar untuk ikut tren, tapi bagian dari strategi yang berdasarkan pengetahuan. (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Bukan Rekaman Asli 17 Agustus 1945, Ini Sejarah Suara Proklamasi Bung Karno

19 Agu 2026

Negara Pertama yang Mengakui Indonesia Merdeka

20 Agu 2026

Sinewara, Bioskop BUMN Besutan PFN Siap Meluncur 2027

21 Agu 2026

Garuda Indonesia Uji Internet Cepat di Udara, Video Call dari Ketinggian 30 Ribu Kaki

22 Agu 2026

Mulai 1 Oktober, Semua Merchant Bisa Nikmati Transaksi QRIS Bebas Biaya

24 Agu 2026

Mengenal Sekaten, Tradisi Maulid Nabi Warisan Dakwah Wali Songo

25 Agu 2026

Indonesia Mulai Program PLTS, 14 Proyek Jadi Tahap Awal

26 Agu 2026

Wayang Klithik, Wayang Kayu Pipih yang Lahir dari Tradisi Jawa dan Bunyi "Klithik"

27 Agu 2026

DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Disahkan 15 Desember 2026

28 Agu 2026

ARTOTEL Gajahmada Semarang Hadirkan “Layers of Living”, Pameran Dua Seniman dengan Perspektif Berbeda

28 Agu 2026

Berburu Barang Antik di Solo? Ini 3 Tempat Favorit yang Wajib Dikunjungi Kolektor

29 Agu 2026

Komdigi Larang Operator Hanguskan Sisa Kuota Internet Pelanggan

31 Agu 2026

Manuskrip Al-Qur’an Berusia 180 Tahun dari Aceh Mulai Didigitalisasi

1 Sep 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: