BerandaKulinary
Kamis, 9 Apr 2025 09:01

Soto Yesus, Destinasi Wisata Kuliner selewat Jam Malam di Pusat Kota Semarang

Gerobak Soto Yesus Kota Semarang yang sederhana tapi jadi destinasi wisata kuliner andalan di Kota Semarang. (Inibaru.id/ Arie Widodo)

Buka sejak pukul 23.00 WIB, Soto Yesus yang ada di pusat kota jadi tujuan siapa saja yang pengin berwisata kuliner tengah malam di Semarang.

Inibaru.id – Setyo Nugroho, teman kuliah saya tiba-tiba mengajak ketemuan di Semarang, kota tempat kami mengenyam pendidikan bersama belasan tahun lalu. Dia yang sedang melintas di Kota Lunpia dalam perjalanan dari kampung halaman menuju Jakarta, tempatnya bekerja saat ini, mengaku pengin singgah sejenak untuk bernostalgia sekaligus berwisata kuliner.

Namun, karena baru tiba di Kota Semarang sekitar pukul 22.30 WIB, kami pun kebingungan mencari tempat bertemu. Pilihan untuk berwisata kuliner malam juga cukup terbatas.

Kami kemudian teringat pada lapak soto di Jalan Gajahmada yang acap menjadi rujukan untuk mengisi perut di sekitar pusat kota selewat jam malam. Namanya adalah Soto Yesus.

Tentu saja nama unik itu hanyalah julukan. Nama sebetulnya adalah Soto Pak Min. Warung kaki lima yang sudah eksis sejak 1999 ini berlokasi persis di seberang Hotel Gumaya, tepat di depan Gereja GBI Gajahmada.

Ihwal Mula Nama 'Soto Yesus'

Nah, karena berlokasi persis di depan gereja, warga setempat kemudian memutuskan untuk menyebutnya sebagai Soto Yesus, alih-alih nama warung aslinya, Millens.

Persis di seberangnya, terdapat sebuah kafe yang juga selalu dijejali anak muda sepanjang malam. Namun, hal ini nggak bikin Soto Pak Min yang hanya berjualan dengan gerobak dan tempat duduk lesehan di atas tikar yang digelar di trotoar pinggir jalan itu jadi sepi. Semakin larut, lapak yang buka mulai pukul 23.00 WIB justru kian ramai.

Soto Yesus yang baru buka pukul 23.00 WIB di Kota Semarang. (Googleuser/Andi Sulistiawan)

“Dulu pas kuliah sering makan di sini pas lagi gabut nyari tempat nongkrong dengan teman kos. Kebetulan sampai Semarang tengah malam, akhirnya bisa mencobanya lagi. Suasana street food-nya sangat terasa dan semakin malam semakin menyenangkan,” ungkap Setyo tentang tempat makan tersebut usai memarkir mobilnya nggak jauh dari gerobak soto, Senin (7/4/2025).

Nggak pengin kehabisan tempat duduk lesehan karena semakin banyak orang yang datang, saya dan Setyo pun langsung memesan soto yang harga per porsinya Rp10 ribuan tersebut.

Sebagai pelengkap, kami menjumput beberapa satai usus, kulit, dan telur puyuh, serta tempe goreng kering yang merupakan kondimen lazim pada soto semarang, dalam piring tersendiri.

Untuk minumnya, Soto Pak Min menyediakan es jeruk dan teh, serta air mineral. Kamu yang nggak suka minuman dingin pada malam hari juga bisa memesan teh atau jeruk hangat.

Suasana yang Ngangeni

Oya, selepas memesan, kami langsung membayar. Untuk sebuah destinasi kuliner di pusat kota, harga yang ditawarkan Soto Yesus terbilang masuk akal. Seporsi soto lengkap dengan kondimen lain dan minuman yang saya pesan dibanderol kurang dari Rp25 ribu. Pun demikian dengan Setyo.

Sembari menenteng minuman dan piring berisi lauk, kami pun duduk di trotoar dan mengobrol tentang banyak hal.

“Untuk soto sebenarnya nggak istimewa banget, sama dengan soto legend pada umumnya yang enak. Lauknya juga. Justrj suasananya yang bikin kangen. Apalagi semakin malam semakin ramai. Enak buat ngobrol, asal nggak hujan saja,” seloroh Setyo.

Sekitar 40 menit kami bercengkerama, cukup banyak yang kami obrolkan, mulai dari mengenang masa-masa kuliah hingga perkembangan kota transit ini. Tidak terasa, soto dan aneka lauk yang ada di hadapan ludes kami santap.

Karena dia harus melanjutkan perjalanan ke Ibu Kota, mau nggak mau pertemuan singkat tersebut harus kami akhiri.

Meski sebentar, setidaknya pertemuan di Soto Yesus yang asyik buat nongkrong itu cukup membekas. Barangkali, di kesempatan berikutnya, kami akan kembali datang ke sana.

Selain Soto Yesus, mana lagi ya destinasi wisata kuliner di pusat kota Semarang selewat jam malam? Kamu punya rekomendasi? (Arie Widodo/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: