BerandaKulinary
Senin, 25 Sep 2022 15:00

Sei Sapi, dari Tradisional Menjadi Makanan Kekinian

Sei sapi merupakan irisan daging sapi yang dimasak dengan cara diasap dan disajikan bersama sayur serta sambal. (Detikfood)

Di beberapa restoran sei sapi, pengunjung selalu berjubel. Seenak apa sih makanan yang berasal dari NTT ini?

Inibaru.id - Ngomong-ngomong soal olahan daging sapi, saat ini kita nggak melulu bicara soal sate, bakso, steak, dan tongseng. Ada satu lagi olahan daging sapi yang kini mulai populer terutama di kalangan anak muda, yaitu sei sapi.

Awalnya , pada 2014, ada sebuah restoran di Bandung yang mempopulerkan hidangan sei sapi. Kemudian di banyak kota, jumlah restoran yang menyajikan sei sapi semakin banyak dan pembelinya selalu membludak. Makanan ini juga disebut viral karena sering berseliweran di beranda media sosial kita. Ya, itu mungkin karena sei disajikan dengan kombinasi-kombinasi unik yang menyesuaikan dengan tren sekarang.

Ada yang masih belum tahu apa itu sei sapi? Sei sapi merupakan makanan khas dari Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sei berarti daging yang disayat dalam ukuran kecil memanjang, lalu diasapi dengan bara api hingga matang.

Awalnya, sei menggunakan daging rusa. Karena semakin langka dan dilindungi, sekarang yang dipakai adalah daging sapi, ayam, atau babi. Syarat wajib daging yang bakal dimasak sei adalah daging berwarna merah yang segar dan nggak berasal dari hewan berpenyakit.

Proses Pengasapan yang Lama

Proses pengasapan sei berlangsung sekitar sembilan jam agar memperoleh cita rasa yang lezat. (Wisato)

Di daerah asalnya, sei diolah secara tradisional dengan cara mengiris daging sapi memanjang hingga sekitar 50 cm dengan ketebalan tiga cm. Dengan ukuran yang seragam seperti itu , setiap daging akan lebih mudah matang merata.

Daging lalu ditaburi garam dan rempah lainnya untuk proses marinasi berjam-jam. Untuk menghilangkan kadar air, daging digantung terlebih dahulu. Setelah itu, barulah proses memasak dengan metode pengasapan dilakukan.

Biasanya, yang menjadi media pengasapan adalah drum tanpa tutup yang diisi dengan arang dari kayu kosambi. Saat pengasapan yang berlangsung hingga sembilan jam itu daging ditutup menggunakan daun kosambi untuk mempertahankan warna merah yang khas.

FYI, pengasapan merupakan salah satu teknologi yang dilakukan oleh nenek moyang masyarakat NTT, yaitu Suku Mollo, untuk mempertahankan kualitas daging sapi. Karena teknik itu, sei menghasilkan aroma yang harum dan smokey, tekstur yang lembut serta rasa yang lezat.

Disantap dengan Sambal

Sambal matah, salah satu sambal favorit yang dipilih orang saat menikmati sei sapi. (Rinaresep)

Cara masyarakat NTT memakan daging sei berbeda dengan yang biasa kita temui di Jawa. Sei dipotong tipis-tipis terlebih dahulu dan ditumis bersama bawang putih, bawang merah, tomat, cabai merah, garam, dan kecap manis. Tumisan daging manis pedas itu kemudian dinikmati bersama nasi putih.

Sei sapi yang tengah viral cara penyajiannya lebih sederhana. Sei yang sudah matang disantap dengan nasi, tumis sayuran, dan sambal. Nasi yang bisa kita pilih yaitu nasi putih, nasi jagung, nasi daun jeruk, atau nasi goreng. Pilihan sambalnya yaitu sambal lu’at (sambal tradisional khas NTT), sambal matah, sambal bawang, sambal ijo, saus mentai, atau saus blackpaper.

Nah, setelah tahu cara memasaknya yang cukup panjang dan membutuhkan teknik tertentu, sudah pasti sei sapi jadi hidangan yang digemari banyak orang ya, Millens! (Idn/IB20/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: