Asap Pekat dan Tungku yang Terus Membara di Kampung Mangut Bandarharjo Semarang

Kota Semarang memang terkenal dengan kuliner khas pesisir. Salah satu sentra kulinernya adalah Kampung Mangut Bandarharjo. Di sinilah tempat berbagai jenis ikan yang dipakai sebagai mangut diasap dan diperjualbelikan.

Inibaru.id - Asap putih nan pekat dari deretan cerobong seng membumbung tinggi dari kejauhan, menandakan proses produksi ikan asap tengah berlangsung, Lokasinya berada di Bandarharjo, Semarang Utara, Kota Semarang. Di sinilah sebagian besar ikan asap yang beredar di Kota Semarang diproduksi. 

Sejak lama, kampung yang berlokasi di Jalan Lodan Raya itu memang dikenal sebagai sentra pengasapan ikan. Orang Semarang biasa menyebut tempat ini sebagai Kampung Mangut Bandarharjo. Mangut memang menjadi cara memasak ikan asap paling familiar di kota ini.

Yayuk menjadi salah seorang pembuat ikan asap di tempat ini. Ibu dua anak ini mengaku sudah menjalani profesi tersebut sedari muda. Sejak masih kanak-kanak, dia bahkan sudah kerap dimintai bantuan untuk memanggang ikan oleh orang tuanya.

Rasa pedih di mata lantaran terpapar asap pembakaran sepanjang hari agaknya nggak lagi dihiraukan Yayuk. Dari neneknya, pekerjaan mengasap ikan diturunkan ke sang ibu, lalu diwariskan ke dirinya. mau nggak mau, perempuan kelahiran 1974 itu pun terpaksa mengemban "takdir" tersebut.

Menjadi salah seorang karyawan di sentra pengasapan yang sudah ada sejak 1992 itu, Yayuk nggak serta merta menerimanya. Dia sempat mengaku keberatan karena matanya menjadi pedih terkena asap. Namun, kini dia sudah mulai terbiasa.

Laiknya Yayuk, semua orang yang bekerja di sentra pengasapan ini memang harus bertahan dengan asap pekat di situ. Asap yang dihasilkan oleh pembakaran tempurung kelapa tersebut memang diperlukan untuk membuat ikan bisa terpanggang dengan baik.

Rumah yang Terus Mengepul

Kampung Mangut Bandarharjo terdiri atas 25 rumah pengasapan. Pelbagai jenis ikan asap diproduksi di sini, mulai dari tongkol, patin, pari, hingga manyung. Dalam sehari, ratusan kilogram daging ikan segar didatangkan untuk membuat ikan asap di tempat ini. 

Yaenuri, salah seorang pemilik rumah asap di Bandarharjo mengatakan, proses pengolahan ikan asap dimulai dari pemilihan ikan segar. Ikan-ikan tersebut segera dibersihkan begitu tiba di sentra pengolahan, lalu dipotong tipis sesuai ukuran ikan panggang. Setelahnya, ikan yang ditata di atas papan dikeringkan dengan bantuan sinar matahari.

Setelah kering, ikan diasapi di atas tungku berbahan bakar arang tempurung kelapa. Butuh waktu sekitar 15-30 menit untuk mengasapi ikan-ikan tersebut. Begitu matang, ikan segera dikemas, lalu didistribusikan ke berbagai daerah di Semarang, bahkan hingga ke Demak, Kudus, Kendal, dan Kabupaten Semarang.

Di Jawa Tengah, khususnya di wilayah pesisir utara, ikan asap menjadi salah satu sumber protein yang paling sering tersaji di meja makan. Ikan asap bisa diolah menjadi berbagai masakan, mulai dari mangut, pecak, hingga sekadar diberi bumbu kecap. Rasanya? Hm, coba saja sendiri! Ha-ha. (Triawanda Tirta Aditya/E03)