BerandaKulinary
Selasa, 19 Mar 2018 07:20

Mengunyah "Bantalan Rel" dari Semarang

Roti ganjel rel (traveltodayindonesia.com)

Selain lunpia dan beberapa lainnya, ada satu penganan penuh sejarah yang nggak boleh dilupakan saat berkunjung ke Kota Semarang, yaitu roti ganjel rel. Memiliki tekstur padat dan agak keras, roti lawas dari zaman Belanda ini memiliki sensasi kelezatan tersendiri.

Inibaru.id – Namanya roti ganjel rel. Pernah mendengarnya? Dari namanya, jangan dikira roti ini terbuat dari ganjel rel (bantalan rel kereta) ya. Bagi orang Semarang pastinya makanan ini sudah nggak asing lagi. Yang belum mengetahuinya, penasaran seperti apa bentuk dan rasa roti yang memiliki nama unik ini?

Dinamakan ganjel rel karena roti ini bentuknya menyerupai ganjal rel. Rotinya berwarna kecokelatan dengan tekstur padat dan agak keras mirip seperti tekstur bantalan balok kayu yang kerap digunakan sebagai pengganjal roda rel kereta. Bedanya, di bagian atas roti ini ditaburi biji wijen.

Melansir beritagar.id (10/3/2018), konon roti ganjel rel sudah ada sejak zaman kolonial. Roti ini menyebar ke Batavia dibawa orang-orang Belanda. Karena memiliki bentuk yang mirip juga juga dengan alat musik gambang kromong, kesenian khas Jakarta, maka roti ini juga dikenal dengan roti gambang.

Menikmati roti ganjel rel terbilang butuh “usaha keras”. Lo? Ini dikarenakan rotinya terbuat dari tepung singkong yang memiliki sifat kenyal sehingga rotinya menjadi agak keras. Kenapa bukan tepung terigu? Pasalnya pada zaman kolonial dulu, untuk mendapatkan bahan pembuat kue sangat langka dan sulit.

Baca juga:
Gurih Manis Legit Si Putu Tegal
Olah Nasi Sisa Jadi Sega Loyang Khas Jepara

Nah, untuk menyiasatinya, bahan tepung terigu digantikan dengan tepung singkong yang menjadikan tekstur kue ini khas, padat sedikit keras. Meski demikian, roti ganjel rel menjadi favorit orang Indonesia pada zaman dahulu karena mengenyangkan. Nggak percaya? Kamu coba saja sendiri. Cukup dengan dua potong saja, roti ganjel rel ini sudah cukup mengenyangkan perut, lo.

Nggak hanya mengganti tepung terigu dengan tepung singkong, gula pasir juga diganti dengan gula aren. Lagi-lagi karena situasi zaman yang nggak memudahkan orang membeli gula pasir seperti sekarang. Namun gula aren justru menambah keunikan roti ini dengan cita rasa khas yang nggak terlampau manis.

Dan jika orang-orang Belanda tempo dulu menggunakan bumbu spekuk atau campuran rempah seperti cengkeh, pala dan kayu manis, maka dalam pembuatan roti ganjel rel cukup memakai kayu manis saja. Hmm, pantas saja roti yang memiliki bentuk kotak panjang ini memiliki cita rasa legit dan manis dengan aroma unik.

Sayang, seiring waktu, kehadiran aneka toko roti dan kesukaan orang pada tekstur roti yang lembut membuat roti ganjel rel mulai tergeser. Namun ada juga yang menyiasati dengan membuat roti ganjel rel dengan tepung terigu pilihan agar teksturnya lebih lembut dan nikmat. Selain itu, aroma unik roti selain dari kayu manis juga dikombinasi dengan cengkeh dan kembang lawang.

Oya, perlu kamu tahu juga, roti ganjel rel ini sering dijadikan sebagai roti khas festival dugderan di Semarang yaitu sebuah festival untuk menandai dimulainya bulan Ramadan. Jika saat bulan puasa tiba, biasanya permintaan roti ganjel rel akan meningkat. Sebanyak delapan ribu potong roti ini juga akan dibagikan kepada masyarakat dalam acara tersebut. Kehadiran roti ganjel rel menjadi simbol tak ada gangguan atau ganjalan, di mana harapan orang dapat memperkuat diri saat menjalankan ibadah puasa.

Selain itu, roti ganjel rel juga kerap dijuluki sebagai roti ospek, lo. Ini lantaran bagi mahasiswa Semarang, roti ini kerap dibutuhkan saat masa orientasi mahasiswa baru. Karena susah didapat, maka para mahasiswa baru yang kebanyakan dari perantauan ini nggak jarang diwajibkan oleh seniornya untuk mencari dan membawa roti ini. Wah, ada-ada saja ya!

Bagaimana, tertarik untuk mencicipinya? Walaupun awalnya susah dijumpai, namun sekarang roti ganjel rel dapat dengan mudah kamu dapatkan. Menjadi oleh-oleh khas Semarang, kamu bisa mendapatkan roti legendaris tersebut di pusat oleh-oleh, Pasar Johar atau Waroeng Semawis.

Biasanya roti ganjel rel dikemas dalam kotak karton yang bertuliskan "Koewih Tempo Doeloe Gandjelrel". Sedangkan di pasar-pasar tradisional, roti ganjel rel ini dijual dalam plastik-plastik kecil seharga seribuan, namun jarang ada yang menyadari bahwa roti tersebut adalah roti ganjel rel yang legendaris itu.

Baca juga:
Kue Jotosan Pemalang Menjotos Lidahmu
Nasi Bulat dalam Sepincuk Daun Pisang

Harganya juga nggak terlalu mahal kok. Untuk ukuran 10 x 30 sentimeter, harganya mulai Rp 24 ribu. Sedangkan ukuran yang lebih besar 24 x 24 sentimeter harganya Rp 37 ribu.

Eh, tapi kamu juga bisa mendapatkannya di toko Oen yang berada di Jalan Pemuda No.52. Di toko legendaris tersebut juga menyediakan roti ganjel rel dengan cita rasa otentik. Tekstur nggak keras dan nggak juga lembut namun tetap lezat untuk dinikmati.

Memberikan kelezatan tersendiri, roti ganjel rel cocok nih disajikan untuk teman minum teh. Apalagi kepadatan rotinya juga bisa jadi pengganjal perut kosong,  sehingga sangat cocok untuk sarapan. Setuju nggak, Millens? (ALE/SA)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: