BerandaKulinary
Kamis, 5 Des 2018 14:00

Beda Gaya Orang Indonesia dan Italia Saat Makan Gelato

Para pengunjung Gelato Matteo sedang menikmati gelato. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Es krim khas Italia gelato kini sudah menjamur di Indonesia. Kendati begitu, masuknya kuliner ini ke Indonesia nggak serta merta membawa kebudayaan Italia. Hal itu dibuktikan dengan gaya yang berbeda antara orang Italia dan Indonesia saat makan gelato.

Inibaru.id – Para penikmat es krim pasti tahu yang namanya gelato. Yap, sajian khas Italia itu bisa dikatakan primadona es krim karena teksturnya yang lembut dan rasanya yang manis. Satu lagi, varian es ini nggak bikin gendut karena gelato rendah lemak. Ha-ha.

Bila ditinjau dari sisi bahasa, kata gelato berasal dari bahasa Italia yang berarti beku. Hal ini terlihat dari tekstur gelato yang lebih padat dibanding dengan es krim biasa. Konon, udara yang terperangkap dalam gelato lebih sedikit dibanding es krim sehingga lebih padat. Namun, kalau sudah masuk mulut, kamu pasti merasakan lumernya.

Para penikmat gelato pun semakin bertambah seiring dengan banyaknya kedai gelato yang buka.

Dua orang pengunjung Gelato Matteo sedang memilih varian gelato yang akan dibeli. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Kendati begitu, rupanya gaya orang Italia dan orang Indonesia saat memakan gelato berbeda, Millens. Hal ini diungkapkan Mr. Matteo pemilik Gelato Matteo di Semarang kepada Inibaru.id.

“Di sini dan di Italia beda. Kalau di sana, orang mampir ke kedai, beli gelato langsung pergi ke tempat kerja atau melanjutkan perjalanan. Gelatonya dimakan sambil berjalan,” terang lelaki kelahiran Italia 56 tahun silam itu.

Mr. Matteo juga menyamakan kebiasaan makan gelato orang Italia seperti minum kopi. Mereka pergi beli kopi, minum di bar, dan kemudian melanjutkan aktivitas.

Tata ruang di kedai gelato menjadi pertimbangan tersendiri bagi pengunjung. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Kondisi tersebut sangat berbeda dengan warga Indonesia. Di Tanah Air, orang-orang betah berlama-lama di kedai gelato.

“Kalau di Indonesia, orang mau duduk, mau charge,” ungkapnya dengan bahasa campuran Indonesia-Inggris.

Selain itu, bagi orang Italia, gelato adalah hidangan penutup. Mereka biasa memakannya setelah hidangan pertama dan kedua.

“Mereka bisa mencampurnya dengan buah seperti stroberi,” kata Mr. Matteo

Orang Indonesia biasanya menambahkan topping pada gelatonya. (Inibaru.id. Ida Fitriyah)

Oh iya, satu lagi. Di Indonesia, orang-orang menyukai topping, sedangkan orang Italia nggak terlalu menyukainya.

Kebiasaan itulah yang membuat para penjual gelato di dalam negeri menyesuaikan diri. Mereka mendesain kedainya senyaman mungkin dan menyediakan beberapa topping atau makanan pendamping.

Ini seperti yang dilakukan Mr. Matteo. Selain menomorsatukan rasa, pemilik nama lengkap Matteo Bulgarini itu juga menata kedainya senyaman mungkin agar pelanggan betah.

Gelato Lab di Gelato Matteo. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

“Saya memang memadukan unsur Italia. Ada banyak lukisan, ada foto-foto, ada juga pojok untuk anak-anak di Gelato Lab. Permintaan anak saya. Itu juga ada kayu yang dicat sesuai warna bendera Italia,” jelas Mr. Matteo.

Pernak-pernik itu dipadukan dengan cat tembok berwarna putih dan biru laut supaya tampak lebih segar dan bersih. Dia juga menyediakan koneksi wifi yang menguntungkan pengunjung. Nyaman!

Nah begitulah, Millens. Hayo ngaku, siapa nih yang suka nongkrong berjam-jam di kedai gelato? Ha-ha (Ida Fitriyah/E05)

 

Gelato Matteo

Alamat                  : Jln MT Haryono No 914, Peterongan, Semarang

Jam buka              : 10.00-22.00 WIB

Harga gelato          : Rp 26.000–Rp 260.000 (1 kilogram)

Harga kopi dan teh : Rp 10.000-Rp 29.000

Harga makanan     : Rp 12.000-29.000

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Saat Rupiah Melemah, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

15 Mei 2026

Rahasia Matematika di Balik Motif Batik, dari Simetri hingga Pola Fibonacci

16 Mei 2026

ARTOTEL Gajahmada Semarang Hadirkan Pameran Seni Kontemporer “Episentrum”

16 Mei 2026

Nyandhang Tradisi untuk Menjaga Ingatan Batik Kudus

18 Mei 2026

9 WNI dalam Misi Kemanusiaan ke Gaza Dicegat Israel, Ada Wartawan Media Nasional

19 Mei 2026

Margin Kian Tipis, Banyak Seller Mulai Tinggalkan Marketplace

20 Mei 2026

SMA Negeri 1 Kemalang Resmi Berdiri, Anak Lereng Merapi Tak Perlu Sekolah Jauh Lagi

20 Mei 2026

Jateng Media Summit 2026 Bahas Masa Depan Media Lokal di Era Digital

21 Mei 2026

Di Tengah Gempuran AI dan Buzzer, Media Lokal Diajak Kembali ke Jurnalisme Publik

22 Mei 2026

Jejak Panjang Pecel, Lotek, dan Gado-Gado: Saat Salad Nusantara Punya Cerita Peradaban

22 Mei 2026

BI Jateng Ingatkan Bahaya Penipuan Digital di Tengah Tren Transaksi QRIS

23 Mei 2026

Belajar dari Estonia, China, dan Singapura dalam Membangun Infrastruktur Digital

23 Mei 2026

Walkot Semarang Resmi Luncurkan LOFF 2026, Perkuat Ekosistem Perfilman Kreatif

24 Mei 2026

Peluang “Godzilla El Nino” 2026 di Indonesia Relatif Kecil, Ini Kata BRIN

25 Mei 2026

Jadi Wisudawan Terbaik UNRIYO, Pemuda Asal Semarang Ini Ingin Ciptakan Banyak Peluang Kerja

25 Mei 2026

Sebelum Nasi Mendominasi, Leluhur Kita Sudah Diversifikasi Pangan Sejak Dulu

26 Mei 2026

5 Tradisi Iduladha di Indonesia yang Unik, Sarat Makna, dan Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

28 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: