BerandaIslampedia
Minggu, 10 Mar 2018 11:20

Masjid Baiturrohim Gambiran, Masjid Tertua Saksi Bisu Penyebaran Islam di Pati

Masjid Baiturrohim Gambiran (singgahkemasjid.blogspot.co.id)

Pernah menjadi masjid utama di Pati, Masjid Baiturrohim Gambiran merupakan masjid tertua di Pati. Dari masjid yang kini berusia lebih dari lima abad itu, Islam akhirnya menyebar ke seluruh pelosok Pati.

Inibaru.id – Berada di Dukuh Gambiran, Desa Sukoharjo, Kecamatan Margorejo, Masjid Baiturrohim Gambiran menjadi masjid tertua di Pati. Menjadi penanda masuknya Islam ke wilayah Pati, masjid itu itu kini telah berusia lebih dari 572 tahun. Ini jika dilihat dari tahun pembuatan masjid yang tertera pada prasasti yaitu 9 Oktober 1445.

Dinamakan juga Masjid Wali oleh masyarakat setempat, masjid yang ukurannya nggak terlalu besar itu disebut-sebut sebagai pusat penyebaran dan pengembangan Islam di wilayah Pati pada abad ke 19. Selain itu masjid ini juga masih memiliki kaitan erat dengan sejarah Masjid Agung Baitunnur Pati. Karena tonggak sejarah Masjid Agung Baitunnur Pati yang berupa sebuah prasasti pembangunan justru tersimpan di Masjid Baiturrohim Gambiran ini. Bahkan Masjid Baiturrohim Gambiran pada masanya menjadi masjid utama di Pati, sebelum akhirnya pusat keislaman berpindah ke Masjid Agung Baitunnur.

Mengutip projectmedias.blogspot.co.id, jika dibandingkan dengan bangunan aslinya, Masjid Baiturrohim Gambiran sudah mengalami banyak perubahan. Jika dahulu atapnya terbuat dari ijuk, kini telah diganti dengan genting tanah. Dinding masjid yang sebelumya dari kayu juga sudah berubah menjadi tembok semen. Lalu lantainya juga kini sudah berkeramik.

Walaupun sudah banyak perubahan, kamu masih bisa melihat beberapa bagian masjid yang masih asli. Apa itu? Salah satunya adalah bentuk atap limas bersusun yang menyerupai Masjid Demak yang merupakan arsitektur khas pada masa Kerajaan Islam Demak. Mimbar khatib yang terbuat dari kayu jati kuno juga masih utuh seperti aslinya, serta tabung beduk di halaman masjid yang tetap terawat hingga sekarang.

Baca juga:
Geliat Pondok Pesantren pada Masa Kolonial
Masjid, Petilasan, dan Makam, Tiga Jejak Dakwah Islam di Pekalongan

Di Masjid Baiturrohim Gambiran ini, kamu juga masih dapat melihat kekunoan pada pilar masjid yang masih asli. Memiliki empat pilar, masing-masing memiliki dua buah jendela yang berada di depan dan di belakang, serta di samping. Keempat pilar masjid itu dibuat dari kayu jati utuh langsung dari pohon. Kayu jati dibentuk persegi memanjang dengan pahatan sederhana tanpa sentuhan modern.

Konon, kayu jati yang digunakan untuk membangun masjid tersebut juga sangat istimewa, karena diambil dari hutan di Semenanjung Muria, saat Muria masih terpisah dengan Pulau Jawa.

Sementara itu, pintu dan jendela yang dibuat dari pahatan alat pertukangan kuno juga masih asli seperti semula. Nah, di atas pintu depan masjid, kamu akan menemukan sebuah catatan dengan huruf Arab pegon. Yakni, huruf Arab yang bila dibaca memiliki bahasa dan makna Jawa. Bahkan, satu-dua kata ditemukan bahasa Belanda. Catatan yang disebut “Prasasti Gambiran” itu menceritakan tentang renovasi pertama yang dilakukan oleh Pemerintahan Adipati Ario Candrahadinegoro pada 1885,  saat masa penjajahan Belanda.

Diceritakan, dalam renovasi tersebut ada suatu perubahan yang sangat mendasar, yakni pergantian kubah. Dan kubah yang diganti kemudian dipasangkan pada Masjid Tawangrejo. Saat renovasi itu pula, dinding masjid yang awalnya kayu mulai diubah menjadi tembok.

Selain empat pilar masjid, mihrab dan pintu, ada pula tempat semacam kolam kuno yang dulu digunakan untuk bersuci sebelum salat. Kolam itu tepat berada di samping kiri masjid, dekat pinggir jalan. Dahulu, ketika masjid tersebut masih digunakan sebagai tempat untuk menikah, maka para pengantin sebelum memasuki masjid, terlebih dahulu membasuh kakinya di kolam. Namun kini kolam tersebut sudah nggak dipergunakan lagi.

Hmm, pantas saja selain ada makam Mbah Cungkruk, di samping kiri masjid juga terdapat kompleks makam para penghulu (sebuah jabatan yang bertugas menikahkan orang Islam). Para penghulu dan keluarganya yang meninggal dunia dimakamkan di tempat ini, walaupun mereka sekarang sudah nggak bermukim lagi di Gambiran.

Baca juga:
Ziarah ke Makam Kiai Walik di Masjid Al Manshur Wonosobo
Jejak Islam di Masjid Kauman Sragen

Eh, tapi siapakah itu Mbah Cungkruk? Dia adalah murid Sunan Kalijaga dari dusun setempat. Perlu kamu tahu, pada awalnya Masjid Baiturrohim Gambiran ini dibangun oleh Sunan Kalijaga. Sayang, pembangunan masjid sempat tertunda karena dia harus berangkat ke Demak untuk memenuhi tugas-tugasnya. Nah, setelah itu pembangunan baru dilanjutkan kembali oleh Mbah Cungkruk. Dia dipercaya oleh sang wali untuk menjaga masjid sekaligus menyebarkan Islam di wilayah tersebut. Sebagai tanda penghormatan, makam Mbah Cungkruk yang berada hanya beberapa meter dari lokasi masjid tersebut masih terawat hingga sekarang. Bahkan nggak jarang ada yang menziarahi makamnya.

Well, meski jauh dari popularitas dan keramaian, keberadaan Masjid Baiturrohim Gambiran merupakan bukti sejarah tentang penyebaran agama Islam di wilayah Pati. Dari masjid inilah, Islam akhirnya berkembang pesat ke seluruh pelosok desa di Kabupaten Pati. (ALE/SA)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Di Korea Selatan, Siswa Pelaku Bullying Dipersulit Masuk Universitas

19 Jan 2026

Melegenda di Muntilan, Begini Kelezatan Bubur Mbah Gamping

19 Jan 2026

Terdampak Banjir, Warga Wonorejo Mulai Mengeluh Gatal dan Demam

19 Jan 2026

Antisipasi Doomscrolling, Atur Batas Waktu Youtube Shorts Anak dengan Fitur Ini!

19 Jan 2026

Opsi Layanan Kesehatan 'Jemput Bola' untuk Warga Terdampak Banjir Wonorejo

19 Jan 2026

Bijak Kenalkan Gawai dan Media Sosial pada Anak

19 Jan 2026

Bupati Pati Sudewo Kena OTT KPK! Terkait Kasus Apa?

19 Jan 2026

Jalur Pekalongan-Sragi Tergenang, Sebagian Perjalanan KA Daop 4 Semarang Masih Dibatalkan

19 Jan 2026

Cantiknya Pemandangan Air Terjun Penawangan Srunggo di Bantul

20 Jan 2026

Cara Unik Menikmati Musim Dingin di Korea; Berkemah di Atas Es!

20 Jan 2026

Kunjungan Wisatawan ke Kota Semarang sepanjang 2025 Tunjukkan Tren Positif

20 Jan 2026

Belasan Kasus dalam Dua Tahun, Bagaimana Nasib Bayi yang Ditemukan di Semarang?

20 Jan 2026

Ratusan Perjalanan Batal karena Banjir Pekalongan, Stasiun Tawang Jadi Saksi Kekecewaan

20 Jan 2026

Viral 'Color Walking', Tren Jalan Kaki Receh yang Ampuh Bikin Mental Anti-Tumbang

20 Jan 2026

Nggak Suka Dengerin Musik? Bukan Aneh, Bisa Jadi Kamu Mengalami Hal Ini!

20 Jan 2026

Duh, Kata Menkes, Diperkirakan 28 Juta Warga Indonesia Punya Masalah Kejiwaan!

21 Jan 2026

Jika Perang Dunia III Pecah, Apakah Indonesia Akan Aman?

21 Jan 2026

Ki Sutikno; Dalang yang Tiada Putus Memantik Wayang Klithik Kudus

21 Jan 2026

Statistik Pernikahan Dini di Semarang; Turun, tapi Masih Mengkhawatirkan

21 Jan 2026

Kabar Gembira! Tanah Sitaan Koruptor Bakal Disulap Jadi Perumahan Rakyat

21 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: