BerandaInspirasi Indonesia
Sabtu, 26 Des 2025 13:13

Dari Jurnalistik ke Musik; Perjalanan Karier Maestro Akustik Jubing Kristianto

Jubing Kristianto saat memainkan gitarnya dalam konser tunggal di Semarang. (Inibaru.id/ Sundara)

Sebelum dikenal sebagai maestro akustik Indonesia, Jubing Kristianto lebih dulu menapaki karier di dunia jurnalistik selama belasan tahun. Bagaimana perjalanan yang membawanya dari dunia tulis-menulis ke panggung musik itu?<br>

Inibaru.id - Jubing Kristianto seolah bernapas bersama gitarnya. Dari satu senar, dia mampu menenun ribuan nada, mengalir dari irama gamelan hingga entakan rock, memukau setiap penonton dengan keajaiban musik yang lahir dari satu alat sederhana tersebut.

Akhir pekan lalu, saya menyaksikan sendiri keajaiban musik Jubing Kristianto dalam konser tunggalnya di Semarang. Lagu "Bohemian Rhapsody" karya grup band Queen, yang terkenal dengan nada-nadanya yang kompleks berhasil dia interpretasikan melalui gitar.

Alunan nadanya begitu tepat hingga para penonton langsung mengenali lagu legendaris itu, meski hanya lewat satu instrumen.

Kepiawaian sang maestro akustik Indonesia tentu bukan hasil instan. Sejak muda, laki-laki kelahiran Semarang ini sudah menaruh minat besar pada dunia musik.

Di mana pun berada, Jubing tak pernah lepas dari senar gitarnya, selalu memetik nada demi nada dengan penuh ketekunan.

Namun, perjalanan karier seorang Jubing tergolong cukup unik. Sebelum dikenal sebagai maestro akustik, dia lebih dulu menapaki dunia jurnalistik selama belasan tahun.

Kini, dia sering mengenang masa-masa tersebut dengan tawa, menertawakan perjalanan kariernya yang penuh warna.

"Awalnya saya berkarier sebagai jurnalis karena waktu itu saya ingin melamar jadi guru gitar, mau main musik segala macam susah. Iklimnya berbeda, tahun 1990-an animo musik belum sebesar sekarang," ucap Jubing diawali dengan tawa, mengenang ihwal kariernya saat saya temui seusai konser tunggal di Kota Semarang beberapa waktu lalu.

Menjadi Jurnalis karena Terpaksa

Kesulitan mencari pekerjaan setelah lulus dari jurusan Kriminologi Universitas Indonesia (UI) membuat Jubing berpikir keras. Suatu hari, dia terinspirasi untuk menulis setelah melihat teman-temannya mengirim artikel ke media cetak, lalu mendapat penghasilan dari sana.

Jubing pun mulai menulis artikel, membahas kekerasan dalam sepak bola hingga kejahatan lingkungan dari perspektif kriminologi. Dia mencari semua referensinya di perpustakaan, mencatat dan mengetik dengan teliti sebelum mengirimkannya ke media massa.

Yang awalnya sekadar hobi untuk mencari uang, kebiasaan menulis membawa Jubing menapaki dunia jurnalistik. Tawaran menjadi jurnalis di Tabloid Nova membuka babak baru dalam hidupnya.

Aksi Jubing Kristianto saat duet dengan dua anak muda memukau penonton yang menyaksikan konser tunggalnya di Semarang. (Inibaru.id/ Sundara)

Karier Jubing Kristianto di dunia jurnalistik terbilang panjang. Selama 13 tahun, dia meniti karier dari reporter hingga menjadi redaktur pelaksana, dengan pengalaman menelusuri berbagai liputan, mulai dari hiburan, fashion, kuliner hingga berbagai kasus kriminal.

Meski dunia jurnalistik menyita waktunya, Jubing tetap tak pernah jauh dari gitarnya. Begitu tuntas menuntaskan pekerjaan menulis, dia akan mengeluarkan gitarnya, membiarkan nada-nada mengalir di ruang kantor.

Pimpinan perusahaan juga nggak keberatan, bahkan membiarkan momen itu menjadi bagian dari keseharian Jubing.

Jubing dan musik memang sejatinya telah berjodoh. Saat rasa jenuh melanda, dia berani mengambil risiko besar dengan meninggalkan puncak kariernya sebagai jurnalis demi bermain gitar. Padahal, profesi baru tersebut belum tentu menjanjikan penghasilan yang stabil.

"Saya hanya ingin mewujudkan cita-cita bermain musik. Saya memberanikan diri untuk mundur dari pekerjaan, karena sejatinya passion saya bermain gitar," tutur Jubing.

Perjudian besar Jubing berakhir manis. Hobi lamanya bermain musik membawanya menjadi seorang guru di Yamaha Musik, lalu berhasil merilis album yang laris, sebuah pencapaian luar biasa untuk musik instrumental tanpa vokal.


"Saya bikin album, walaupun nggak setenar lagu-lagu pop. Album instrumental solo gitar tanpa vokal terjual sekitar 8.000 keping CD sudah dianggap luar biasa oleh produser," imbuhnya.

Mulai Dikenal Publik & Menjadi Maesto

Jubing Kristianto kini dikenal sebagai salah satu maestro akustik Indonesia. (Inibaru.id/ Sundara)

Setelah merilis album tersebut, Jubing mulai dikenal publik. Dia mulai banyak mendapat tawaran manggung dari satu kota ke kota lain, sehingga waktu mengajar musik di ruang kelas menjadi lebih sedikit karena kesibukannya tampil di luar.

Jubing menambahkan bahwa pengalamannya berkarier di dunia jurnalistik tetap nggak sia-sia. Relasi dan kemampuan menulis membantunya mempromosikan karya musik, sekaligus membentuk disiplin dan mental yang kuat.

"Dulu yang penting bisa makan. Sekarang saya senang dengan musik dan merasa hidup lebih nyaman. Dulu juga gitar akustik solo di Indonesia sangat jarang, tapi sekarang anak-anak muda sudah banyak yang berkarya, terutama lewat platform YouTube," paparnya.

Menurut Jubing, di era digital seperti sekarang, semua orang lebih mudah dikenal lewat musik dengan memanfaatkan YouTube. Dulu, dia harus berjibaku dari satu panggung ke panggung lain untuk membangun nama dan pengalaman.

Bagi generasi muda, Jubing menyarankan satu hal sederhana tapi penting, yakni untuk mengarkan beragam jenis musik dari jazz, blues, keroncong, dangdut, hingga musik dari berbagai belahan dunia. Semua pengalaman mendengar ini akan menjadi database yang membentuk karakter musik.

"Pelan-pelan, sambil kita meniru dan belajar, lama-lama akan terbentuk sendiri karakter kita karena otak manusia itu kan ajaib. Dari situ, kita bisa mengolah sesuatu sendiri yang akhirnya menjadi barang baru, padahal sebenarnya barang baru itu lahir dari pergerakan sel-sel otak untuk mengolah database yang ada," pesan Jubing untuk anak muda.

Nama besar Jubing Kristianto tentu lahir dari kerja kerasnya, menyempatkan bermain gitar di sela-sela kesibukan sebagai jurnalis.

Bagi anak muda, Jubing bisa menjadi mentor yang tepat bagi siapa pun yang ingin menapaki karier di dunia musik. Setuju nggak, Gez? (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Lezatnya Kuliner Legendaris Sop Empal Bu Haryoko Muntilan

27 Jan 2026

Cerita Logo Korpri dan Penciptanya, Aming Prayitno

27 Jan 2026

Perjalanan Tjahjono Rahardjo Melacak Stasiun Kereta Pertama di Indonesia

27 Jan 2026

Membaca Sejarah Kudus dalam Balutan Busana Warisan

27 Jan 2026

Waspada Virus Nipah! Hindari Makan Buah Bekas Gigitan Kelelawar

27 Jan 2026

ChatGPT Diam-Diam Ngintip Lewat Kamera? Jangan Parno Dulu, Ini Fakta Teknisnya!

27 Jan 2026

Menguak Sejarah Es Gabus di Indonesia

28 Jan 2026

Go Youn-jung Ungkap Perbedaan Cha Mu-hee dan Do Ra-mi di 'Can This Love be Translated?'

28 Jan 2026

Sudah Tersedia, KAI Bagikan Tips Anti-gagal War Tiket Mudik Lebaran 2026!

28 Jan 2026

Etika Berbusana Para Saudagar Kudus: Adaptif, Sopan, dan Elegan

28 Jan 2026

Riset Sebut Uban Bisa Balik Normal Kalau Kamu Rileks!

28 Jan 2026

Gen Z Pilih Work Life Balance ketimbang Jabatan

28 Jan 2026

Nggak Seram, Sup Pocong di Warung Mbak Anis Pati Justru Bikin Ketagihan

29 Jan 2026

'My Tomorrow, Your Yesterday', Film yang Dibintangi Pemeran Hiro dari 'Can This Love Be Translated?'

29 Jan 2026

Jembatan Hanyut, Getek Jadi Transportasi Sehari-hari di Mangkang Wetan

29 Jan 2026

Rebung, Calon 'Superfood' Dunia yang Ampuh Lawan Diabetes

29 Jan 2026

Perusahaan Perlu Wawas Diri saat Karyawan Menolak Lembur dan Enggan Berinovasi

29 Jan 2026

Cari 'Bottleneck', BPBD Wonogiri Susur Sungai Wiroko Pakai Perahu Fiber dan Drone

29 Jan 2026

Segarnya Nasi Pindang Kranggan Bu Bas, Legenda Kuliner Kota Semarang

30 Jan 2026

Film Korea 'Pavane' Bakal Tayang di Netflix pada 20 Februari 2026

30 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: