BerandaIndo Hayati
Jumat, 22 Feb 2018 07:09

Lestarikan Elang Brontok!

Elang Brontok (trubus.id)

Meski dalam catatan IUCN Redlist burung ini berkategori "berisiko rendah" atau masih belum terancam kepunahan, perburuan liar dan semakin sempit habitat hidupnya, elang brontok patut dilestarikan. Salah satu peran penting burung ini adalah mengendalikan hama.

Inibaru.id - Memiliki nama lain burung rajawali, tahukah kamu bahwa burung yang dimaksud adalah elang brontok? Memiliki nama ilmiah Nisaetus cirrhatus yang bersinonim dengan Spizaetus cirrhatus, ukuran burung ini memang besar dengan rentang sayap yang lebar. Perawakannya juga tegap dan gagah. Karena itu, pantas saja elang brontok ini dinamai juga sebagai rajawali.

Kenapa dinamai elang brontok? Kemungkinan ini dikarenakan bulunya yang berwarna bercak-bercak. Dalam bahasa Inggris, elang brontok memiliki nama Changeable Hawk-eagle. Nama itu didapatkan lantaran warna bulunya yang sangat bervariasi dan berubah-ubah. Karena warna bulunya yang dapat berubah-ubah inilah, burung ini sulit dikenali di alam. Dibutuhkan kejelian untuk dapat mengenali dan mengidentifikasi jenis elang brontok.

Karakteristik

Perlu kamu tahu, mengutip bio.undip.ac.id, bulu elang brontok ini dibedakan menjadi tiga fase yaitu fase gelap, fase terang, dan fase peralihan. Burung jantan dan betina memiliki warna yang hampir serupa, hanya burung betina biasanya memiliki ukuran tubuh yang lebih besar.

Saat fase gelap seluruh tubuh cokelat gelap dengan garis hitam pada ujung ekor, terlihat kontras dengan bagian ekor lain yang cokelat dan lebih terang. Burung muda juga berwarna gelap. Lalu pada fase terang ditandai dengan tubuh bagian atas cokelat abu-abu gelap, tubuh bagian bawah putih bercoret-coret cokelat kehitaman memanjang. Setrip mata dan kumis kehitaman.

Baca juga:
Senarai Fauna Identitas Daerah di Jawa Tengah: Burung Branjangan, Maskot Sragen yang Kicauannya Digandrungi
Senarai Fauna Identitas Daerah di Jawa Tengah: Kijang, Si Gesit dari Lasem, Rembang

Pada saat peralihan terlihat seperti fase terang namun dengan lebih banyak coret kehitaman pada tubuh. Garis-garis hitam pada ekor dan sayap nggak teratur, serta garis-garis coklat kemerahan melintang pada perut bagian bawah, paha dan ekor bagian bawah.

Masih bersaudara dekat dengan elang jawa (Nisaetus bartelsi), elang brontok mempunyai panjang tubuh sekitar 70 cm dari ujung ekor hingga ujung paruh. Tubuhnya juga ramping. Sayap sangat lebar, ekor panjang berbentuk bulat dengan jambul sangat pendek. Elang brontok ini juga memiliki iris kuning sampai cokelat, paruh kehitaman, serta kuning kehitaman, kaki kuning kehijauan.

Lalu bagaimana suaranya?

Burung elang brontok ini memiliki suara nyaring dan keras berupa pekikan panjang “kwip-kwip-kwip-kwip-kwii-ah” meninggi atau “klii-liiuw” tajam. Hampir mirip dengan suara elang-ular bido, namun nadanya menaik dengan konsisten.

Terbuat dari ranting, sarang raptor yang memangsa mulai dari reptil, burung hingga mamalia ini juga berukuran besar, lo. Bayangkan saja, sarangnya berukuran sekitar 95-105 cm dengan kedalaman 35- 120 cm. Sarang tersebut biasanya akan ditempatkan di percabangan pohon yang besar pada pohon dengan ketinggian antara 10-50 meter dari permukaan tanah. Wah, tinggi sekali ya?

Biasanya elang brontok ini hidup sendiri. Dia akan berpasangan hanya pada musim berbiak saja yang berlangsung antara bulan April sampai sekitar Agustus atau Oktober. Dalam sekali musim berbiak yang terjadi dua tahun sekali, elang brontok hanya bertelur satu hingga dua butir. Telurnya berwarna putih dengan bintik kemerah-merahan. Telur itu akan dierami oleh induk betina selama 40 hari. Setelah itu anakan elang brontok akan mulai belajar terbang dan meninggalkan sarang umur 68 hari.

Habitat dan Populasi

Mengutip laman alamendah.org, elang brontok mempunyai habitat mulai dari padang rumput, hutan, kebun, sumber air yang dikelilingi pohon, perkebunan teh, hutan dekat perkampungan, bahkan hingga di pinggir perkotaan. Namun biasanya suka mengunjungi hutan dan daerah berhutan yang terbuka. Umumnya elang brontok ini hidup di daerah berketinggian di bawah 1.500 m dpl, meskipun terkadang ditemukan juga hingga di ketinggian 2.200 m dpl.

Adapun daerah persebaranya bisa dibilang cukup luas. Hidup juga di wilayah India, Asia Tenggara, Filipina, di Indonesia sang rajawali ini tersebar mulai dari pulau Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.

Memiliki lima subspesies, di Indonesia elang brontok termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya, dan PP No 7 Tahun 1999, serta PP Nomor 8 Tahun 1999.

Berdasarkan IUCN Redlist dan Birdlife Internasional, elang brontok masuk dalam status “Least Concern” atau berisiko rendah. Meski demikian, namun bukan berarti kelestarian burung ini aman. Bayangkan saja, dengan kondisi habitat yang makin sempit, tingkat perburuan dan perdagangan liar serta perkembangan elang yang lamban, tentu saja kelestarian satwa ini tetap perlu diperhatikan.

Baca juga:
Ketika Setiap Daerah Butuh Maskot Flora dan Fauna
Pesolek Itu Jadi Maskot Fauna Jawa Tengah

Mengutip kompas.com (21/2/2018), elang brontok kini sulit didapati, lo. Bahkan di Kawasan Waduk Sermo, Kulonprogo, DIY, yang merupakan kantong habitat raptor, jenis elang brontok ditemui terakhir pada 2010. Padahal sebagai predator, dia punya fungsi penting dalam ekosistem, misal bisa mengendalikan hama.

Karena itu, konservasi elang brontok dinilai sebagai alternatif terbaik. Sayang, tempat konservasi juga terbatas dibandingkan jumlah satwa yang perlu ditangani.

Jadi, mari kita lindungi dan lestarikan elang brontok. Nggak mau kan kalau burung ini punah? (ALE/SA)

Klasifikasi Ilmiah

Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Aves

Ordo: Accipitriformes

Famili: Accipitridae

Genus: Nisaetus

Spesies: Nisaetus cirrhatus

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: