BerandaHits
Kamis, 17 Des 2025 09:01

Warga Jakarta Habiskan 108 Jam Setahun Terjebak Kemacetan

Ilustrasi: Kemacetan di Jakarta. (Beritanasional/Oke Atmaja)

Jika dikonversi, 108 jam setara dengan 4,5 hari terjebak kemacetan. Durasi ini tentu sangat luar biasa, bukan?

Inibaru.id - Kalau kamu merasa hidup di Jakarta itu rasanya lebih sering di jalan daripada di rumah, perasaan itu ternyata ada datanya. Berdasarkan catatan Kementerian Perhubungan, warga Jakarta rata-rata menghabiskan 108 jam dalam setahun hanya untuk terjebak kemacetan.

Kalau ditarik ke satuan yang lebih kebayang, itu setara dengan sekitar 4,5 hari penuh yang habis di balik setir, di atas motor, atau duduk diam di angkutan umum sambil menatap lampu rem di depan. Lama banget, kan?

Angka ini muncul bukan tanpa sebab. Sekitar 66,89% warga Jakarta masih mengandalkan kendaraan pribadi untuk beraktivitas sehari-hari. Dari jumlah itu, mobil pribadi menyumbang 43,71%, sementara sepeda motor 23,18%. Bandingkan dengan pengguna transportasi umum yang baru menyentuh 23,43% dari total penduduk, terlihat jelas siapa yang paling memenuhi jalanan ibu kota.

Kondisi ini membuat tingkat kemacetan Jakarta berada di kisaran 43%, sebuah angka yang menjelaskan kenapa perjalanan 10 kilometer bisa terasa seperti perjalanan antar-kota di daerah-daerah lain. Ironisnya, pertumbuhan kendaraan terus melaju, sementara pertumbuhan jalan nyaris jalan di tempat. Alhasil, macet jadi rutinitas, bukan lagi kejadian khusus.

Jakarta bahkan tercatat lebih macet dibanding Hanoi, ibu kota Vietnam. Padahal, persentase penggunaan kendaraan pribadi di Hanoi hampir sama. Bedanya ada di konteks kota. Jakarta punya kepadatan penduduk yang jauh lebih tinggi, dengan ruang kota yang relatif lebih sempit. Ditambah lagi, persentase pejalan kaki di Jakarta jauh tertinggal dibanding Hanoi, yang warganya masih cukup akrab dengan transportasi umum dan berjalan kaki untuk kebutuhan mobilitas.

Lebih dari 66 persen warga Jakarta masih mengandalkan kendaraan pribadi. (Voi/Unsplash/Larry James Baylas)

Tak heran kalau Jakarta kemudian masuk daftar kota termacet dunia. Pada 2024, sebuah laporan dari Global Traffic Scoreboard menempatkan Jakarta di peringkat ketujuh kota termacet, naik dari peringkat sepuluh tahun sebelumnya. Artinya, masalah ini bukan cuma belum terurus, tapi justru semakin serius.

Pemerintah sebenarnya tidak tinggal diam. Salah satu strategi utama yang terus didorong adalah mengalihkan pergerakan warga ke transportasi umum. Targetnya, jumlah penumpang transportasi umum bisa naik hingga sekitar 4,5 juta orang per hari. Secara hitung-hitungan, tambahan dua juta pengguna transportasi umum saja bisa memindahkan jutaan perjalanan harian dari jalan raya.

"Penambahan penumpang transportasi umum sampai 2 juta orang sudah bisa mengeluarkan 20 juta perjalanan dari jalanan," ucap Dirjen Integrasi Transportsai dan Multimoda Risal Wasal sebagaimaan dinukil dari Katadata, Kamis (31/7/2025).

Masalahnya, mengubah kebiasaan warga kota bukan perkara instan. Transportasi umum harus nyaman, terintegrasi, dan benar-benar bisa diandalkan. Selama naik kendaraan pribadi masih terasa “lebih praktis”, kemacetan akan terus jadi bagian dari identitas Jakarta.

Pada akhirnya, 108 jam atau 4,5 hari yang hilang setiap tahun bukan cuma soal waktu. Itu adalah energi, produktivitas, dan kesehatan mental yang ikut terkuras. Macet Jakarta bukan sekadar keluhan harian, tapi cermin dari pekerjaan rumah besar kota ini, yaitu bagaimana membuat pergerakan dari satu titik ke titik lain tidak lagi terasa seperti perjuangan. (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: