BerandaHits
Selasa, 4 Agu 2025 16:22

Tes Kesehatan Mental sebelum Menikah; Mengapa Penting?

Ilustrasi: Skrining kesehatan mental sebelum menikah akan membuat kita memiliki kemampuan yang lebih baik untuk menyelesaikan konflik dalam pernikahan. (Shutterstock via Kompas)

Dengan melakukan tes kesehatan mental sebelum menikah, calon mempelai akan mengetahui kondisi psikologis masing-masing, yang akan berguna, salah satunya untuk penyelesaian konflik dalam pernikahan.

Inibaru.id - Nirma masih terlalu muda untuk menikah. Setidaknya, itulah yang dikatakannya. Namun begitu, keinginan untuk menjadikan skrining kesehatan sebagai salah satu syarat penting sebelum melangkah ke pelaminan sepertinya sudah bulat. Nggak hanya secara fisik, tapi juga mental.

"Menurutku, penting bagi pasangan untuk membicarakan ini sebelum menikah. Tujuannya bukan untuk menolak jika ada yang nggak sesuai, tapi justru saling menerima kekurangan atau mencari cara agar kemungkinan terburuk dari hasil tes itu bisa diantisipasi," tuturnya, Senin (4/8/2025).

Kebulatan tekad tersebut, lanjutnya, muncul setelah dia melakukan terapi mental selama tiga bulan di Kota Semarang, belum lama ini. Dalam terapi itu, mahasiswa jurusan Akuntansi di sebuah kampus negeri di Kota Lunpia itu akhirnya disadarkan bahwa memang ada yang "salah" dalam dirinya.

"Aku nggak bisa cerita, tapi aku pengin pasanganku nanti selesai dulu dengan masalahnya sebelum kami menikah atau minimal aku tahu apa masalahnya untuk dicari solusinya bareng-bareng. Inilah kenapa tes kesehatan pranikah, termasuk kesehatan mental, penting dilakukan," akunya.

Pentingnya Skrining Kesehatan Mental

Nggak hanya kebugaran fisik, memperhatikan kesehatan mental juga penting dilakukan. Nggak hanya untuk diri sendiri, tapi juga pasangan, karena dialah yang pada akhirnya akan menemani kita seumur hidup. Seperti yang dipikirkan Nirma, skrining kesehatan mental pranikah memang penting untuk dilakukan.

Sebuah studi menyebutkan, tekanan sosial dan tuntutan di media sosial membuat anak muda saat ini rentan mengalami masalah mental. Hampir 35 persen remaja dilaporkan mengalami penurunan kesehatan jiwa. Hal itulah yang membuat pemerintah memasukkan pemeriksaan mental dalam program Cek Kesehatan Gratis.

Maka, memeriksakan kesehatan mental sebelum menikah pun menjadi hal yang penting karena diyakini akan menentukan kesiapan pasangan mengarungi bahtera rumah tangga. Di banyak negara, tren ini bahkan meningkat cukup signifikan.

Dikutip dari CNA (5/2/2024), data dari klinik pranikah di Singapura menunjukkan adanya peningkatan pemeriksaan kesehatan hingga 15 persen pada 2022–2023. Ini mencerminkan tren bahwa pasangan sekarang lebih sadar pentingnya transparansi, baik fisik maupun mental, sebelum menikah.

Upaya Mitigasi Konflik

Ilustrasi: Kesiapan mental yang baik akan menghindarkan kita dari mewariskan trauma keluarga berulang kepada anak. (Justsayeverything)

Psikolog Novita Tandry memperingatkan bahwa gangguan mental yang nggak ditangani bisa menular secara sosial atau genetik, bahkan memicu trauma keluarga berulang. Menurutnya, tes sebelum menikah penting untuk memutus rantai ini.

"Sudah benar ada aturan usia untuk menikah. Ini untuk kematangan fisiologis, reproduksi, dan psikologi," tuturnya, dikutip dari Bloomberg Technoz (11/6/2024). "Bahkan usia 27-30 tahun saja masih ada yang kayak anak kecil secara mental. Karena itulah harus di tes sebelum menikah."

Menurut penelitian dan catatan praktisi, pasangan yang menghadiri bimbingan pranikah memiliki tingkat stabilitas jangka panjang lebih baik. Dialog terbuka seputar tekanan emosional, stres, dan harapan dapat memperkuat fondasi rumah tangga.

Dilansir dari Kompas, Senin (4/8), psikolog klinis Maharani Galuh Safitri mengungkapkan pentingnya refleksi atas kondisi mental pribadi dan pasangan, termasuk cara mereka bereaksi terhadap tekanan dan emosi. Dengan memahami kondisi diri dan pasangan, keduanya akan lebih siap menghadapi ketegangan hubungan.

Menerima Hasil Refleksi

Menurut Maharani, tiap individu perlu mempunyai kesiapan mental yang cukup matang untuk menerima hasil refleksi ini tanpa bersikap defensif, saling menyalahkan, dan terburu-buru menarik kesimpulan. Dia menekankan, yang terpenting adalah mereka mengenali kondisi psikologis masing-masing.

"Mereka tahu, termasuk bagaimana mengelola emosi, stres, serta menyadari adanya gangguan psikologis seperti kecemasan atau gangguan makan. Memahami riwayat gangguan mental dalam keluarga juga penting sebagai langkah antisipatif," terangnya.

Skrining pranikah, imbuh Maharani, akan membantu menilai sejauh mana pasangan mampu berkomunikasi secara sehat, termasuk dalam menyelesaikan konflik dan mengekspresikan kebutuhan emosional; karena komunikasi yang terbuka dan efektif akan menjadi fondasi penting untuk keharmonisan.

"Skrining ini bukan untuk menentukan kelayakan menikah, tapi menilai kesiapan mental dan merencanakan intervensi jika diperlukan; termasuk membekali pasangan dengan pemahaman yang lebih dalam sebelum menjalani kehidupan pernikahan," tandasnya.

Buat kamu yang tengah merencanakan pernikahan, nggak ada salahnya untuk membicarakan tentang kemungkinan melakukan skrining kesehatan mental pranikah ini ya, Gez! (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dikira Bahasa Gaul, "Anjir" Justru Kosakata Lama Nelayan Pantura

7 Jul 2026

Penelitian Terbaru Ungkap Fakta Baru Manusia Hobbit Flores

8 Jul 2026

Muhammadiyah Resmikan KucingMu, Kampanyekan Kepedulian terhadap Hewan

9 Jul 2026

Pemerintah Tetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan, Ini Dasar Pertimbangannya

10 Jul 2026

BRIN Targetkan Luncurkan Satelit NEO-1 pada Januari 2027, Tonggak Kemandirian Teknologi Antariksa Indonesia

13 Jul 2026

Indonesia dan India Berkolaborasi Konservasi Candi Prambanan, Perkuat Pariwisata Budaya Kelas Dunia

14 Jul 2026

Warisan Sejarah Indonesia Kembali, Dua Arca Buddha Kuno Dipulangkan dari AS

14 Jul 2026

4 Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Makanan Berbahan Tepung Tapioka Terbaik 2026 Versi Taste Atlas

15 Jul 2026

Istana Kepresidenan Yogyakarta Kini Bisa Dikunjungi Gratis, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

16 Jul 2026

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: