BerandaHits
Selasa, 28 Jul 2025 19:34

Tarif 0 Persen Produk AS, Sri Mulyani: Harga Migas dan Pangan Bisa Turun, tapi Petani Perlu Waspada

Kebijakan impor 0 persen berisiko merugikan petani. (Shutterstock)

Kebijakan tarif 0 persen untuk produk impor dari Amerika Serikat disebut bisa menurunkan harga migas dan pangan di Indonesia, namun juga berisiko menekan produsen lokal, terutama petani dan pelaku industri kecil.

Inibaru.id - Kabar datang dari meja dagang Indonesia-Amerika. Pemerintah Indonesia telah menyepakati pemberlakuan tarif bea masuk 0 persen untuk produk-produk asal Amerika Serikat. Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut kebijakan ini bisa berdampak langsung pada harga minyak dan pangan dalam negeri yang lebih murah. Tapi, seperti dua sisi mata uang, kabar baik ini juga membawa potensi risiko besar bagi petani dan produsen lokal.

"Di sisi lain, impor dengan tarif 0 persen atas produk Amerika Serikat diperkirakan mendorong harga produk migas dan pangan Indonesia menjadi lebih rendah. Perkembangan risiko rambatan perlu untuk terus dicermati," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Senin (28/7/2025).

Tarif 0 persen ini merupakan hasil kesepakatan dagang antara Indonesia dan AS terkait penurunan tarif resiprokal. Nggak hanya soal masuknya produk AS ke Indonesia, Negeri Paman Sam juga menurunkan tarif impor atas produk Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen. Langkah ini dinilai akan mendongkrak sektor industri padat karya seperti tekstil, alas kaki, hingga furniture.

"Keberhasilan dari negosiasi penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat untuk Indonesia menjadi 19 persen diperkirakan dapat mendorong kinerja sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan furniture," lanjut Sri Mulyani.

Namun, suara kritis datang dari Bhima Yudhistira Adhinegara, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios). Menurutnya, tarif 0 persen justru bisa membuka banjir produk-produk unggulan AS ke pasar domestik, seperti suku cadang pesawat, mesin, plastik, farmasi, BBM, LNG, elpiji, hingga komoditas pertanian seperti kedelai, jagung, dan gandum.

Bisa saja Indonesia dibanjiri produk pertanian impor seperti kedelai. (Freepik)

Bhima menyoroti potensi ancaman terhadap petani lokal. Misalnya, kedelai impor yang kini sudah mendominasi 80 persen konsumsi nasional, akan makin mudah masuk dan menekan petani dalam negeri. “Konsumen senang, tapi petani kedelai tentunya juga akan menjerit dengan tarif 0 persen dari barang Amerika,” ucapnya.

Hal serupa juga berpotensi terjadi pada jagung dan produk susu. Petani jagung bisa terpukul akibat kalah saing dengan harga jagung AS yang lebih murah, bahkan bisa menyebabkan petani lokal gulung tikar. Produk olahan susu lokal pun dikhawatirkan kehilangan tempat di pasar.

Sebagai catatan, nggak semua produk AS mendapat tarif 0 persen. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, ada pengecualian untuk produk seperti alkohol dan daging babi.

“Semua produk kecuali ada beberapa produk yang sekarang kita diskusikan untuk tidak dikenakan 0 persen dan mereka sepakat. Contoh minuman alkohol, kemudian yang sebenarnya tidak mungkin kita impor, tapi kita juga minta tidak 0 persen seperti daging babi,” jelasnya.

Dari 11.552 sistem harmonisasi (HS), sekitar 11.474 HS atau 99 persen produk disepakati bebas tarif masuk ke Indonesia.

Di tengah euforia harga pangan dan energi yang mungkin lebih murah, ada pekerjaan rumah besar untuk pemerintah: memastikan kebijakan ini nggak mengorbankan produsen lokal. Jangan sampai niat menekan harga malah membuat petani kita tersingkir di rumah sendiri. Hm, gimana menurutmu, Gez? (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

'Bom Nuklir' dan 'Perdamaian' yang Viral di Tengah Eskalasi Konfik Timur Tengah

6 Mar 2026

Saking Bekunya Musim Dingin, Warga Laut Baltik Berseluncur dari Satu Pulau ke Pulau Lain

6 Mar 2026

Bukan Emas Lagi; MUI Jateng Ubah Patokan Nisab Zakat Profesi

6 Mar 2026

Duduk Perkara Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip versi Polrestabes Semarang

6 Mar 2026

Oksigen Banyak dari Laut, Terus Kenapa Masih Ribut Soal Hutan?

6 Mar 2026

Tiket Mudik Ludes 400 Ribu! Cek Tanggal Favorit dan Kereta Pilihan di Daop 4 Semarang Ini

6 Mar 2026

Wisata Alam Kalikesek Semakin Ramai, Warga Desa Sriwulan Dapat THR

7 Mar 2026

Masjid Fujikawaguchiko, Tempat Salat dengan Latar Spektakuler Gunung Fuji di Jepang

7 Mar 2026

Sahur Tanpa Nasi Cuma Makan Lauk, Beneran Bikin Kuat Puasa Seharian?

7 Mar 2026

Ikan Air Tawar vs Ikan Laut: Siapa yang Paling Tahan Lawan Pemanasan Global?

7 Mar 2026

Aman Nggak Ya Mudik dengan Mobil Listrik?

8 Mar 2026

Membedah Mitos Minum Air Hangat Bisa Turunkan Berat Badan

8 Mar 2026

Restorative Justice Akhiri Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip Semarang

8 Mar 2026

Berburu Baju Bekas sekaligus Bantu Korban Kekerasan di Bazar Preloved Sintas

8 Mar 2026

Sarung Tangan Karet Bekas Ternyata Bisa Jadi 'Penyedot' Polusi

8 Mar 2026

Srikandi Ojol Jateng Kini Punya Aplikasi Khusus Anti-Pelecehan

8 Mar 2026

Musim Mudik, Pengendara Diimbau Istirahat di Rest Area Maksimal 30 Menit

9 Mar 2026

Menilik Keseruan Momen Membeli Kebutuhan Lebaran

9 Mar 2026

PDAM Semarang Gelar 'Operasi Ketupat', 14 Ribu Penunggak Jadi Sasaran

9 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: