BerandaHits
Minggu, 22 Feb 2025 08:56

Sejarah Kode ACAB yang Kembali Populer setelah Klarifikasi Sukatani

Kode ACAB kerap dipakai dalam aksi massa di pelbagai negara. (Flickr/Gregor Wünsch via Wikipedia)

Seiring dengan kemunculan tagar #kamibersamasukatani, kode ACAB juga kembali populer. Bagaimana sejarah kode yang juga dikenal sebagai 1312 ini?

Inibaru.id - Di belahan bumi mana pun, negara selalu dibangun di atas pemberedelan aksi atau karya yang dianggap "berbahaya", dengan kepolisian sebagai aktornya, Namun, ada hal-hal yang nggak bisa dibungkam, salah satunya aksi massa.

Sejarah mencatat begitu banyak gelombang massa yang membuat negara kewalahan. Ada yang digelar dengan terbuka, tapi banyak yang dilancarkan secara sembunyi-sembunyi. Untuk aksi terakhir, salah satunya adalah kemunculan Kode ACAB di banyak sudut kota di dunia.

Selain dalam bentuk grafiti atau corat-coret di jalan, kode yang seringkali disamarkan menjadi 1312 itu juga ramai di media sosial. Di Indonesia, baru-baru ini kode tersebut juga kembali menggema di medsos beriringan dengan tagar #KamiBersamaSukatani.

Tagar itu muncul setelah Sukatani, band indie asal Purbalingga mencabut lagu "Bayar, Bayar, Bayar" miliknya sekaligus melakukan klarifikasi di Instagram resmi mereka pada Kamis (20/2/2025) yang berisikan permintaan maaf kepada Kapolri dan jajarannya atas lagu yang dianggap menyinggung institusi kepolisian itu.

Kemunculan ACAB

Alectroguy dan Twister Angel, penggawa Sukatani yang sebelumnya selalu tampil di gigs atau konser memakai penutup kepala bahkan harus membuka identitas saat melakukan klarifikasi; hal yang rupanya justru memantik kemarahan publik, hingga muncullah gelombang dukungan untuk mereka.

Nah, bersamaan dengan kemunculan tagar dukungan untuk Sukatani di medsos, kode ACAB juga turut menggema di dunia maya. Lantas, apakah makna dari kode yang juga sempat muncul seusai Tragedi Kanjuruhan di Malang beberapa waktu lalu itu?

Grafiti ACAB di di Turin, Italia. (Wikimedia)

ACAB adalah singkatan dari All Cops Are Bastards yang kurang lebih berarti "Semua Polisi Itu Berengsek". Tom Dalzell dalam buku The Concise New Patridge Dictionary of Slang and Unconventional English menuliskan, kode ACAB muncul sebagai bentuk kemarahan atas perilaku oknum kepolisian yang buruk.

ACAB merupakan kode yang sudah cukup tua. Masyarakat Inggris diyakini telah menggunakannya sejak pertengahan abad ke-20, berawal dari aksi mogok kerja para pekerja di sana sekitar dekade 1940-an. Kala itu, istilah "All Coppers are Bastards" untuk kali pertama dilontarkan, yang kemudian disingkat jadi ACAB.

Peran Musik Punk

Nggak hanya dilontarkan, kode ACAB juga muncul sebagai grafiti yang tersebar di jalan, bahkan menjadi gerakan bawah tanah di kalangan anak muda. Istilah ini kian populer setelah media Daily Mirror memakainya sebagai tajuk utama pada 1970.

Popularitas kode tersebut kian besar setelah komunitas Punk memakainya dalam berbagai aksi dan karya mereka. Sedikit informasi, komunitas punk dengan gerakan antiotoriter-nya sejak awal memang selalu berada di garis terdepan untuk berhadapan langsung dengan otoritarianisme, dengan sasaran para aparat.

Dari komunitas punk dan karya-karyanya itu pulalah ACAB berkembang luas di dunia, termasuk Indonesia. Salah satu momen kemunculan terbesar ACAB terjadi pada 2018 bersamaan dengan rekaman kematian lelaki berkulit gelap George Floyd di tangan polisi berkulit putih setelah diborgol di Portland, Oregon.

Kode ACAB muncul sebagai bentuk protes masyarakat atas kebrutalan yang dilakukan oknum polisi tersebut, yang kemudian menjadi awal dari gerakan "Black Lives Matter".

Populer Pasca-reformasi

Kode ACAB di stadion pasca-Tragedi Kanjuruhan. (Detik/Deny Prastyo Utomo)

Sebelum kasus Sukatani, kode ACAB juga pernah populer di kalangan masyarakat di Tanah Air menjelang hingga setelah Reformasi 1998, terutama di kalangan mahasiswa yang kala itu banyak mendapat tekanan dari pihak kepolisian.

Terbaru, kode ini juga banyak terukir di jalanan dan stadion saat terjadi Tragedi Kanjuruhan pada 2022 lalu. Aksi itu muncul setelah 131 orang mati dan ratusan lain luka-luka dalam laga antara Arema FC vs Persebaya. Kebanyakan korban meninggal diyakini karena efek gas air mata yang ditembakkan polisi untuk meredam kaos di dalam stadion.

Lalu, kenapa ACAB juga kerap dikenal sebagai 1312? Kode itu merupakan "versi" numerik dari abjad ACAB dalam urutan alfabet, yakni 1 untuk A, 3 untuk C, dan 2 untuk B.

Tentu saja, seperti lagu "Bayar, Bayar, Bayar" yang telah ditarik Sukatani, kode ACAB nggak merujuk pada institusi kepolisian secara penuh, hanya sebagian oknum yang berperilaku buruk. Namun, popularitas yang mendunia dari kode itu seharusnya menjadi peringatan, bahwa para oknum itu ada di mana-mana! (Siti Khatijah/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: