BerandaHits
Jumat, 7 Apr 2022 16:33

Revolusi Kutil, Dombreng Koruptor, dan Negara Talang di Tegal

Kutil, berdiri nomer dua dari kiri bersama para tokoh revolusioner Tiga Daerah. (Banyumas Suaramerdeka)

Meski Indonesia telah mengumumkan kemerdekaannya, ternyata rakyat di Tegal belum merasakannya. Antek penjajah masih menduduki jabatan strategis di sana. Akibatnya, rakyat Tegal turun tangan untuk membersihkannya.

Inibaru.id – Pada bulan Oktober hingga Desember 1945, bergejolak suatu gerakan rakyat yang dikenal dengan “Peristiwa Tiga Daerah”. Gerakan akar rumput ini merupakan sejarah revolusi sosial Indonesia yang terjadi di wilayah Karesidenan Pekalongan meliputi Brebes, Tegal, dan Pemalang.

Lahirnya gerakan ini dilatarbelakangi pada era penjajahan Jepang di mana sebagian sumber daya dan bahan pangan dieksploitasi demi kepentingan perang Jepang. Sayangnya, adanya wajib setor padi serta penjatahan bahan pangan, diimbangi dengan korupsi dan penindasan yang dilakukan oleh pihak penguasa lokal.

Distribusi beras kepada rakyat kerap tersendat di tingkat birokrasi kecamatan dan desa. Padi dibiarkan menumpuk di gudang. Akibat kelaparan dan kekurangan pangan banyak terjadi di wilayah Tiga Daerah.

Kemarahan rakyat terhadap otoritas pemerintah khususnya Tegal kian memuncak ketika para birokrat dan pangreh desa (residen, bupati, wedana, dan camat) kembali dipercaya untuk menjabat setelah Kemerdekaan RI. Pasalnya, mereka dulunya antek penjajah.

Revolusi Kutil

Sakhiyah alias Kutil. (via Suarapantura)

Rakyat yang marah kemudian melahirkan Peristiwa Tiga Daerah. Penggerak dari aksi ini adalah para lenggaong yang memanfaatkan kekosongan otoritas kekuasan di tingkat lokal semasa era peralihan kekuasaan. Nama tokoh lenggaong yang terkenal adalah Sakhiyah alias Kutil. Hal inilah yang membuat gerakan ini juga disebut Revolusi Kutil.

Gerakan ini merupakan upaya pembersihan terhadap antek penjajah yang menjadi praja atau pejabat daerah pasca-kemerdekaan RI. Sasaran Gerakan Kutil adalah para aparat kepala desa, camat, bupati, residen dan jajaran yang dulu pada masa penjajahan ikut menindas rakyat.

Para target gerakan ini bakal diarak keliling kampung. Aksi mengarak koruptor pada masa itu dikenal dengan istilah “dombreng”. Istilah ini berasal dari suara tetabuhan kentong kayu dan kaleng yang dimainkan ketika mengarak koruptor-koruptor lokal ini. Mereka diarak dengan berpakaian karung goni. Yap, itulah pakaian rakyat ketika Jepang menjajah.

Awal Peristiwa Dombreng koruptor terjadi di desa Cerih, Tegal. Pada 7 Oktober 1945, warga mengepung rumah Lurah Cerih Raden Mas Harjowiyono. Desa ini tergolong miskin, namun jadi pusat gerakan radikal sejak era kolonial Belanda. Tahu dirinya diincar, Harjowiyono bertahan di dalam rumah semalaman.

Bukannya kabur, pagi harinya Harjiwiyono justru mendatangi massa dengan pakaian kebesarannya. Langsung saja, pakaian itu diganti rakyat yang marah dengan karung goni. Sang istri yang kala itu ikut, dipakaikan kalung padi. Keduanya kemudian diarak keliling kampung seperti jatilan dengan iringan gamelan yang dimiliki sang lurah.

Nggak cukup cuma diarak, pasangan ini masih dihina dan diperlakukan seperti hewan. Mereka dipaksa minum air dari tempurung kelapa dan makan dedak.

Gerakan pembersihan ini membesar dan meluas ke Brebes, Tegal, dan Pemalang dalam kurun waktu yang singkat.

Negara Talang

Sayangnya, gerakan yang murni untuk pembersihan antek penjajah ini membesar dan dianggap ditumpangi kepentingan komunisme. Oleh pemerintah pusat, gerakan ini dianggap bertujuan mendirikan negara sendiri. Menurut Bung Karno, peristiwa Gerakan Tiga Daerah ini disebut dengan sebutan pemberontakan “Negara Talang”.

Imbas karena dituduh sebagai pemberontak, Kutil dijatuhi vonis mati oleh Pengadilan Negeri Pekalongan pada 21 Oktober 1946. Dia dieksekusi pada 5 Mei 1951.

Hm, nggak disangka ya kalau akhir dari gerakan pembersihan dari korupsi ini adalah hukuman mati. Kalau menurut kamu, gimana, Millens? (Sua,Tir, His/IB32/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: