BerandaHits
Minggu, 8 Jun 2024 16:58

Pengalaman Berharga dari Pandemi Covid-19 dan Pentingnya Protokol Kesehatan

Mematuhi protokol kesehatan harus tetap dijalankan agar nggak tertular Covid-19 atau virus lainnya. (via Alodokter)

Meski telah berstatus sebagai endemi, Covid-19 masih berpotensi menjangkiti kita. Karena itu, protokol kesehatan nggak boleh dikesampingkan.

Inibaru.id - Menerapkan perilaku hidup sehat dengan menjalankan protokol kesehatan selama pandemi Covid-19 diharapkan dapat memberikan pembelajaran berharga bagi masyarakat Indonesia. Kebiasaan seperti rajin mencuci tangan dan memakai masker saat batuk atau flu sebaiknya terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya saat pandemi.

Meskipun Covid-19 telah menjadi endemi, virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit ini terus bermutasi, sehingga masih memungkinkan seseorang terpapar dan sakit.

Ketua Komisi Nasional Pengkajian dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (Komnas PP KIPI), Prof. Dr. dr. Hinky Hindra Irawan Satari, MHK-IM, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada karena kasus Covid-19 masih terjadi pada masa endemi.

"Setelah pandemi berakhir, kita masuk ke fase endemi. Kasusnya ada terus, tapi tidak banyak dan gejalanya tidak berat. Oleh karena itu, tetap waspada dan jangan menurunkan kewaspadaan," kata Prof. Hinky saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (6/6).

Dia juga mengimbau untuk rajin cuci tangan, memakai masker saat batuk atau jika berada di sekitar orang yang batuk.

"Hindari tempat kerumunan dan area dengan ventilasi buruk. Protokol ini harus dijalankan seumur hidup. Jangan menunggu sampai ada pandemi lain," tambahnya.

Prof. Hinky menjelaskan bahwa infeksi Covid-19 terjadi ketika ada gangguan keseimbangan pada tubuh. Penyakit ini muncul dari interaksi antara virus, manusia sebagai inangnya, dan lingkungan sekitarnya.

"Ada inang, agen penyakit, dan daya tahan tubuh kita. Jika keseimbangan ini terganggu, kita akan jatuh sakit. Jika kita divaksinasi, walaupun terinfeksi, sakitnya tidak akan berat, tidak sampai masuk ICU atau mengalami sesak napas," tegasnya.

Dia menyampaikan bahwa virus akan terus ada dan bermutasi. Oleh karena itu, masyarakat harus selalu waspada dan nggak boleh lalai. Vaksinasi bukanlah satu-satunya cara mencegah Covid-19. Perilaku hidup sehat seperti mencuci tangan, menjaga jarak, dan memastikan sirkulasi udara yang baik juga penting.

Vaksin Nggak Menyebabkan Kekebalan Tubuh Runtuh

Nggak ada bukti konkret vaksinasi Covid-19 menyebabkan imun tubuh turun. (Kominfo)

Pada masa endemi Covid-19, hoaks tentang vaksin masih beredar luas di media sosial. Salah satu hoaks yang baru-baru ini muncul mengklaim bahwa vaksinasi Covid-19 empat kali atau lebih akan meruntuhkan sistem kekebalan tubuh.

Menurut Prof. Hinky, klaim tersebut nggak benar. Data menunjukkan bahwa orang yang mendapatkan vaksinasi ulang memiliki risiko lebih rendah untuk terpapar Covid-19, dan jika terpapar, gejalanya biasanya ringan.

"Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa vaksinasi ulang melemahkan sistem kekebalan tubuh," tegas Prof. Hinky.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah mengeluarkan edukasi tentang manfaat vaksin Covid-19. Pertama, vaksin merangsang sistem kekebalan tubuh dan mengurangi risiko penularan. Tubuh yang divaksin akan mengenali virus dan mengurangi risiko terpapar.

Kedua, vaksin mengurangi dampak berat dari virus. Jika sistem imun kalah dan terpapar, gejala akan lebih ringan.

Ketiga, mencapai kekebalan kelompok atau herd immunity. Semakin banyak individu yang divaksin, kekebalan kelompok akan tercapai, meminimalisasi risiko paparan dan mutasi virus.

Nggak Ada Laporan Kematian Masif Akibat Vaksin

Jangan mudah percaya berita yang tersebar di media sosial mengenai efek samping vaksin yang mematikan. (Getty images)

Klaim menyesatkan di media sosial yang menyebutkan penerima vaksin Covid-19 mRNA akan meninggal dalam 3 atau 5 tahun adalah tidak benar.

"Setelah vaksin diberikan, dilakukan Post-Marketing Surveillance (PMS) untuk memantau keadaan penerima vaksin. Jika ada kematian masif akibat vaksin, pasti sudah ada datanya. Hingga saat ini, belum ada laporan dari jurnal atau WHO tentang kematian masif setelah 3 tahun akibat vaksin mRNA," jelas Prof. Hinky.

Pada 2022, sebuah video mengklaim bahwa vaksin Covid-19 mRNA menyebabkan kematian pada lansia di atas 70 tahun dalam 2 hingga 3 tahun setelah vaksinasi. Pernyataan ini tidak benar.

Hingga kini, belum ada penelitian yang membuktikan kematian pasca-vaksinasi disebabkan langsung oleh vaksin. Kematian lansia mungkin dipengaruhi oleh komorbid atau infeksi Covid-19, bukan vaksin mRNA.

"Sampai sekarang, tidak ada laporan bahwa vaksin Covid-19 mRNA menyebabkan kematian pada lansia," tutup Prof. Hinky.

Tuh kan nggak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai vaksinasi! Meskipun demikian, alangkah baiknya jika kita tetap menjalankan protokol kesehatan. (Siti Zumrokhatun/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

'Bom Nuklir' dan 'Perdamaian' yang Viral di Tengah Eskalasi Konfik Timur Tengah

6 Mar 2026

Saking Bekunya Musim Dingin, Warga Laut Baltik Berseluncur dari Satu Pulau ke Pulau Lain

6 Mar 2026

Bukan Emas Lagi; MUI Jateng Ubah Patokan Nisab Zakat Profesi

6 Mar 2026

Duduk Perkara Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip versi Polrestabes Semarang

6 Mar 2026

Oksigen Banyak dari Laut, Terus Kenapa Masih Ribut Soal Hutan?

6 Mar 2026

Tiket Mudik Ludes 400 Ribu! Cek Tanggal Favorit dan Kereta Pilihan di Daop 4 Semarang Ini

6 Mar 2026

Wisata Alam Kalikesek Semakin Ramai, Warga Desa Sriwulan Dapat THR

7 Mar 2026

Masjid Fujikawaguchiko, Tempat Salat dengan Latar Spektakuler Gunung Fuji di Jepang

7 Mar 2026

Sahur Tanpa Nasi Cuma Makan Lauk, Beneran Bikin Kuat Puasa Seharian?

7 Mar 2026

Ikan Air Tawar vs Ikan Laut: Siapa yang Paling Tahan Lawan Pemanasan Global?

7 Mar 2026

Aman Nggak Ya Mudik dengan Mobil Listrik?

8 Mar 2026

Membedah Mitos Minum Air Hangat Bisa Turunkan Berat Badan

8 Mar 2026

Restorative Justice Akhiri Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip Semarang

8 Mar 2026

Berburu Baju Bekas sekaligus Bantu Korban Kekerasan di Bazar Preloved Sintas

8 Mar 2026

Sarung Tangan Karet Bekas Ternyata Bisa Jadi 'Penyedot' Polusi

8 Mar 2026

Srikandi Ojol Jateng Kini Punya Aplikasi Khusus Anti-Pelecehan

8 Mar 2026

Musim Mudik, Pengendara Diimbau Istirahat di Rest Area Maksimal 30 Menit

9 Mar 2026

Menilik Keseruan Momen Membeli Kebutuhan Lebaran

9 Mar 2026

PDAM Semarang Gelar 'Operasi Ketupat', 14 Ribu Penunggak Jadi Sasaran

9 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: