BerandaHits
Jumat, 1 Jan 2026 11:01

'Nengajo', Tradisi Berkirim Kartu Tahun Baru di Jepang yang Semakin Memudar

Tradisi berkirim kartu ucapan tahun baru atau 'nengajo' di Jepang. (Fukuoka Now)

Gara-gara teknologi dan media sosial, tradisi tahun baru di Jepang berupa berkirim kartu ucapan tahun baru alias 'nengajo' semakin pudar.

Inibaru.id - Di Jepang, tahun baru bukan cuma soal kembang api, makanan khas osechi, atau kunjungan ke kuil. Ada satu tradisi lama yang dulu nyaris tak terpisahkan dari pergantian tahun, yaitu mengirim kartu ucapan tahun baru atau nengajo. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kebiasaan ini pelan-pelan mulai memudar, tergeser oleh pesan singkat dan media sosial.

Nengajo biasanya dikirim ke teman, kerabat, dan rekan kerja agar tiba tepat pada 1 Januari. Kartu-kartu ini sering dihiasi ilustrasi zodiak Tiongkok, desain musiman, tulisan tangan berisi kabar singkat tentang setahun terakhir, plus doa dan harapan untuk tahun yang baru. Tradisi ini begitu besar sampai kantor pos Jepang punya sistem khusus untuk mengatur pengirimannya, lengkap dengan nomor undian berhadiah yang bikin orang makin semangat mengirim kartu.

Namun, seiring maraknya aplikasi pesan seperti Line dan media sosial, banyak orang mulai memilih berhenti mengirim nengajo. Fenomena ini bahkan punya istilah sendiri, yaitu nengajo-jimai, yang berarti “pensiun” dari tradisi kartu tahun baru.

Alasan dari mulai pudarnya tradisi ini cukup sederhana dan sangat relevan dengan zaman sekarang. Pesan digital dianggap sudah cukup, lebih cepat sampai, dan tidak merepotkan di tengah kesibukan akhir tahun.

Menariknya, berdasarkan sebuah survei yang diungkap Japantoday, Minggu (28/12/2025) yang dilakukan terhadap orang-orang yang berhenti mengirim nengajo, menunjukkan bahwa hampir 80 persen dari mereka baru berhenti melakukannya dalam lima tahun terakhir. Keputusan ini didasari perasaan menyiapkan kartu fisik sangat memakan waktu dan tenaga, apalagi saat Desember sudah penuh dengan aneka pekerjaan dan urusan keluarga. Sekilas, keputusan ini terasa praktis dan masuk akal.

Menulis kartu ucapan tahun baru dianggap nggak praktis. (Wa-magazine)

Tapi menariknya, setelah berhenti melakukannya, banyak yang justru mulai merasa ada yang hilang saat tahun baru. Pesan tahun baru di media sosial sering terasa terburu-buru, karena terkadang cuma berupa stiker atau emoji. Tidak sedikit pula yang sadar mereka kehilangan kontak dengan teman lama atau kerabat jauh, karena nengajo selama ini jadi satu-satunya momen rutin untuk saling menyapa.

Banyak responden mengaku kembali merasakan nilai nengajo justru saat menerima kartu secara tak terduga, setelah mereka sendiri berhenti mengirimnya. Sensasi membuka kotak surat, memegang kartu fisik, membaca tulisan tangan seseorang, memberi kehangatan yang sulit digantikan pesan digital. Perasaan “diingat” ini ternyata cukup kuat dan membekas.

Tak heran, lebih dari separuh responden menyatakan ingin kembali mengirim kartu tahun baru, meski tidak lagi sebanyak dulu. Kali ini, mereka ingin lebih selektif seperti dengan cukup mengirimnya untuk orang-orang terdekat, keluarga, atau mereka yang punya peran penting dalam hidup. Dengan begitu, tradisi ini terasa lebih personal dan tidak lagi membebani.

Menariknya, tidak satu pun responden merasa terganggu saat menerima nengajo. Sebaliknya, kartu-kartu itu memunculkan rasa senang, nostalgia, dan kedekatan emosional. Di tengah dunia yang serba cepat dan digital, nengajo menjadi pengingat bahwa meluangkan waktu sejenak untuk menulis dan mengirim sesuatu dengan niat tulus masih punya makna.

Meski kian pudar, tradisi kartu tahun baru di Jepang belum benar-benar hilang. Ia mungkin berubah bentuk jadi lebih sederhana, lebih jarang, tapi pesannya tetap sama, yakni membuka tahun baru dengan perhatian dan kehangatan yang terasa nyata. (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sulit Cari Kerja Formal, Banyak Lulusan S1 Jadi Pengemudi Ojol

18 Des 2025

Mulai Tahun Depan, Registrasi Kartu SIM Harus dengan Verifikasi Wajah

18 Des 2025

Pindah ke Air Baku, Upaya Memperlambat Penurunan Muka Tanah di Pesisir Semarang

18 Des 2025

Ternak Ayam 'Kub' di Pekarangan Kantor Camat, Telurnya Dibagikan Gratis

18 Des 2025

Libur Nataru Seru dan Aman Bareng Kereta Api, Daop 4 Semarang Siaga Pol-polan!

18 Des 2025

Nasib Satwa Liar Kita; Habitat Hilang, Pemburu Menghadang!

18 Des 2025

Pengin Libur Nataru di Yogyakarta? Ketahui Dulu Lokasi Parkir Dekat Malioboro Ini

19 Des 2025

Kala Satu Episode Pokemon di Televisi Bikin Ratusan Orang Masuk Rumah Sakit

19 Des 2025

Menguji Kepekaan Mahasiswa pada Lingkungan dalam KPI Creative Show 2025

19 Des 2025

SPPG di Semarang Didorong untuk Pakai Bahan Baku Lokal, Bukan Industri

19 Des 2025

Krisis Iklim, Kemandirian Pangan, dan Pentingnya Daya Adaptasi Petani

19 Des 2025

Cadangan Beras 334 Ribu Ton, Stok Pangan Jateng Aman selama Libur Nataru

19 Des 2025

Komdigi Lagi 'Sapu Bersih' Aplikasi Mata Elang yang Bisa Curi Datamu

19 Des 2025

Bukan Cuma Jago Orasi, Bung Karno Ternyata 'Si Anak Skena Kebun' Sejati!

19 Des 2025

Cerita Tahu Gecot Pak Imoeh, Jadi Legenda Kuliner Purbalingga Sejak 1960-an

20 Des 2025

Kok Bisa Sih Kaus Bahan Polyester Cepat Bau?

20 Des 2025

312 Mahasiswa Baru Sabet Beasiswa OSC 2025, Totalnya Capai Rp29 Miliar!

20 Des 2025

Samudra Ternyata Nggak Sepi, Lo! Intip Gimana Pandemi Bikin Laut Kembali 'Bernyanyi'

20 Des 2025

Paket Wisata Kano Bisa Kamu Coba di Rawa Pening

21 Des 2025

Syahdunya Sarapan Pagi di Soto Pak Parno, Prawirotaman, Yogyakarta

21 Des 2025

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: