BerandaHits
Minggu, 24 Jan 2026 15:01

Negativity Bias, Alasan Mengapa Otak Kita Lebih Peka terhadap Berita Buruk

Ilustrasi: Manusia punya kecenderungan untuk lebih cepat menangkap, mengingat, dan bereaksi terhadap stimulus negatif dibandingkan stimulus positif dengan intensitas yang sama.(Unsplash/Vitaly Gariev)

Meski intensitasnya sama, manusia punya kecenderungan lebih cepat menangkap, mengingat, dan bereaksi terhadap stimulus negatif ketimbang positif. Kecenderungan yang dikenal sebagai negativity bias inilah alasan mengapa otak kita lebih peka terhadap berita buruk.

Inibaru.id - Vania Putri mengaku, mood-nya sedang buruk banget belakangan ini. Masalahnya sepele, karena ada seorang temannya yang mengkritik fesyennya lantaran sepatu yang dia pakai terlihat lebih ngejreng dari biasanya.

"Aku nggak tahu kenapa, kritik itu bikin aku terngiang-ngiang terus sampai terbawa mimpi, padahal aku tahu bahwa masalahnya sesepele itu. Hubungan kami juga baik-baik saja, bahkan pada hari-hari lain, dia banyak memuji penampilanku," tutur Vania pada Rabu (21/1/2026).

Apa yang terjadi pada Vania ini, dalam dunia psikologi acap disebut sebagai negativity bias; kecenderungan otak manusia untuk memberi perhatian, bobot emosional, dan daya ingat yang lebih besar pada pengalaman atau informasi negatif dibandingkan yang positif.

Kita mungkin pernah merasakan bahwa satu komentar negatif jauh lebih membekas dibanding sepuluh pujian atau satu berita buruk membuat suasana hati runtuh meski sebelumnya hari berjalan baik-baik saja.

Ini bukan sekadar kebiasaan berpikir pesimistis, melainkan mekanisme psikologis yang telah dipelajari secara luas oleh para peneliti dan memiliki akar biologis serta evolusioner yang kuat.

Apa Itu Negativity Bias?

Perlu diketahui, istilah negativity bias merujuk pada kecenderungan manusia untuk lebih cepat menangkap, lebih lama mengingat, dan lebih kuat bereaksi terhadap stimulus negatif dibandingkan stimulus positif dengan intensitas yang sama.

Psikolog Roy Baumeister dalam artikel berjudul Bad Is Stronger Than Good (2001) menyimpulkan bahwa peristiwa buruk secara konsisten memiliki dampak psikologis yang lebih besar daripada peristiwa baik.

“Peristiwa buruk berdampak lebih kuat pada kondisi dan proses psikologis dibandingkan peristiwa baik,” tulis Baumeister, menjelaskan bahwa dengan kata lain, satu pengalaman buruk seringkali “mengalahkan” banyak pengalaman baik dalam memengaruhi emosi dan penilaian seseorang.

Mengapa begitu? Para ahli evolusi menjelaskan bahwa negativity bias berperan penting dalam kelangsungan hidup manusia purba. Otak manusia berevolusi dalam lingkungan yang penuh ancaman, termasuk yang datang dari predator, kelaparan, dan bahaya fisik.

Pengalaman Buruk Berakibat Fatal

Psikolog dan penulis Hardwiring Happiness, Rick Hanson mengatakan, otak manusia secara default bekerja seperti “velcro untuk hal buruk dan teflon untuk hal baik”.

"Otak lebih mudah menempel pada pengalaman buruk karena kegagalan mengenali ancaman pada masa lalu bisa berakibat fatal. Sementara, meskipun menyenangkan, pengalaman positif tidak selalu menentukan hidup dan mati," jelasnya.

Secara neurologis, stimulus negatif memicu respons yang lebih kuat di amigdala, bagian otak yang berperan dalam pengolahan emosi dan rasa takut. Ketika amigdala aktif, tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin, membuat pengalaman negatif terasa lebih intens dan lebih mudah diingat.

Penelitian dalam jurnal Nature Neuroscience menunjukkan bahwa otak memproses rangsangan negatif lebih cepat dibanding rangsangan positif, bahkan sebelum kita menyadarinya secara sadar. Itulah mengapa kritik singkat bisa terasa menghantui berhari-hari, sementara pujian sering cepat terlupakan.

Negativity Bias di Kehidupan Modern

Ilustrasi: De era digital yang dibanjiri informasi, media dan medsos turut andil dalam menguatkan negativity bias di diri kita. (Unsplash/Dan Stephens)

Di era digital, negativity bias menjadi jauh lebih kuat karena kita hidup di lingkungan yang dipenuhi tsunami informasi yang acapkali gagal dibendung. Faktor apa saja yang memengaruhi menguatnya negativity bias? Yang pertama tentu saja media dan berita.

Berita buruk seperti krisis, konflik, dan kejahatan cenderung menarik lebih banyak perhatian. Penelitian menunjukkan bahwa judul berita bernada negatif lebih sering diklik dan dibagikan.

Selain itu, media sosial juga punya peran yang begitu besar. Komentar negatif sering terasa lebih “berisik” daripada puluhan komentar positif. Ini membuat pengguna lebih mudah merasa diserang, nggak cukup baik, atau cemas.

Untuk mengantisipasi "serangan negatif", kita pun jadi merasa harus mengonsumsi berita di media dan medsos. Maka, muncullah kebiasaan doomscrolling atau terus-menerus membaca berita buruk yang berpotensi meningkatkan kecemasan dan stres.

Dikutip dari American Psychological Association (APA), paparan informasi negatif yang berulang dapat meningkatkan kecemasan, stres kronis, dan perasaan nggak berdaya.

Dampak dan Cara Mengendalikan Negativity Bias

1. Dampak Negativity Bias

Negativity bias yang tidak disadari dapat berdampak luas, antara lain:

  • Meningkatkan kecemasan dan depresi, karena otak terus fokus pada ancaman dan kegagalan;
  • Merusak hubungan sosial, sebab satu konflik kecil bisa menutupi banyak interaksi positif;
  • Menurunkan kepercayaan diri, karena kritik lebih membekas daripada apresiasi; dan
  • Memengaruhi pengambilan keputusan, membuat seseorang lebih takut gagal daripada berani mencoba.

Psikolog klinis menyebut bahwa dalam hubungan personal, dibutuhkan sekitar lima interaksi positif untuk menetralkan satu interaksi negatif. Perbandingan ini dikenal luas dalam studi relasi yang dikembangkan oleh John Gottman, profesor emeritus psikologi di Universitas Washington.

2. Cara mengendalikan Negativity Bias

Negativity bias nggak bisa dihilangkan sepenuhnya karena ia bagian dari sistem otak manusia. Namun, para ahli sepakat bahwa bias ini bisa dikelola. Beberapa pendekatan yang direkomendasikan para psikolog antara lain:

  • Melatih kesadaran (mindfulness) agar pikiran nggak otomatis terjebak pada hal negatif;
  • Savoring, yakni secara sengaja memperpanjang dan menyadari pengalaman positif agar tersimpan lebih kuat dalam memori;
  • Membatasi konsumsi berita negatif, terutama sebelum tidur; dan
  • Menulis jurnal syukur, yang terbukti secara ilmiah membantu menyeimbangkan fokus otak.

Selain itu, Rick Hanson juga menyarankan satu praktik sederhana yang bisa kita lakukan secara rutin, yakni memberi waktu 10–20 detik untuk benar-benar merasakan pengalaman positif, agar otak sempat menyimpan memori itu di dalam otak.

Negativity bias bukan tanda kelemahan mental atau sikap pesimis, melainkan warisan biologis yang dulu membantu manusia bertahan hidup. Namun, di dunia modern yang penuh informasi dan tekanan psikologis, bias ini bisa menjadi bumerang jika nggak disadari.

Dengan memahami bagaimana negativity bias bekerja, kita bisa lebih bijak dalam menyikapi emosi, informasi, dan pengalaman sehari-hari; serta memberi ruang yang lebih adil bagi hal-hal baik yang sering luput dari perhatian. Selamat bertumbuh! (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: