BerandaHits
Minggu, 17 Mei 2025 14:01

Melindungi Anak di Dunia Digital; dari Child Grooming hingga Kekerasan Seksual

Ilustrasi: Luasnya pertemanan di dunia digital memunculkan kemungkinan anak mengalami kekerasan seksual. (Freepik)

Belum habis kasus child grooming di dunia maya selesai dibaca, kasus grup Facebook 'Fantasi Sedarah' muncul. Lalu, apa saja yang harus dilakukan orang tua untuk melindungi anak dari kekerasan seksual di era digital ini?

Inibaru.id - Suatu sore, seorang ibu di Jakarta yang enggan disebutkan namanya ini menemukan pesan aneh di ponsel anaknya yang berusia 10 tahun: "Ayo main ke rumahku, aku punya banyak mainan." Pesan itu berasal dari akun gim daring yang ternyata dikelola oleh lelaki dewasa.

Kejadian tersebut tentu mengejutkan dirinya. Dia takut buah hatinya menjadi korban predator anak. Kekhawatiran ini tentu saja wajar. KPAI pernah mengatakan bahwa ada ribuan laporan kejahatan seksual anak di ranah daring selama 2023, dengan 62 persen korban diincar melalui platform gim dan media sosial.

Fakta ini memicu alarm untuk para orang tua. Sebuah survei dari ECPAT Indonesia pada 2023 menyebutkan, setidaknya 1 dari 4 anak pernah menerima pesan nggak pantas dari orang asing di internet. Maka, menjadi kewajiban kedua orang tua untuk menjaga buah hati mereka.

Belum juga kasus ini menemukan jalan terang, belakangan muncul sebuah grup di Facebook bertajuk "Fantasi Sedarah" yang membuat siapa pun yang membacanya akan sontak meruntuk. Alih-alih melindungi, member grup itu justru menjadikan anggota keluarga sebagai bagian dari fantasi seksual mereka. Sial!

Wadah Para Predator

Polda Metro Jaya menyebut, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan Meta untuk menyelidiki grup Facebook "Fantasi Sedarah" sejak satu pekan lalu. Grup juga sudah ditutup.

DIkutip dari Tirto, Jumat (16/5/2025), Direktorat Perlindungan Perempuan dan Anak Bareskrim Polri mengatakan telah menelusuri grup yang diduga menjadi wadah para predator anak itu. Adapun terkait siapa pemilik akun dan para membernya, dia meminta masyarakat untuk bersabar.

Sementara itu, KPAI menegaskan bahwa pihaknya juga akan terus mengawal perkembangan kasus ini karena grup tersebut sangatlah meresahkan. Komisioner KPAI Dian Sasmita berharap pihak kepolisian bisa segera melakukan penindakan untuk menyelamatkan anak-anak dari para predator.

"Perlu juga intervensi pendamping ke keluarga dari orang-orang yang telah masuk komunitas tersebut," ucap Dian, Jumat (16/5).

Melindungi Anak dari Predator 

Ilustrasi: Melindungi anak di dunia digital bukanlah pekerjaan mudah, tapi bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan. (Shutterstock via Euractiv)

Kita semua berharap keberadaan grup tersebut segera ditindaklanjuti para pihak berwenang. Namun, lebih dari itu, hal ini menjadi peringatan keras untuk kita semua, bahwa bahaya pelecehan seksual pada anak, termasuk child grooming adalah nyata.

Untuk bisa melindungi anak dari para predator, berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan para orang tua:

1. Mengetahui modus child grooming

Belajar dari sejumlah kasus yang pernah terjadi di Indonesia, modus para predator anak bisa bermacam-macam. Salah satunya menjadi "teman gim daring". Dia menyamar sebagai anak-anak, lalu memberi hadiah berupa skin atau item berbayar.

Modus berikutnya adalah memberi pujian pada foto anak di Instagram atau Tiktok, lalu beralih pesan pribadi (DM). Pesan di platform medsos tersebut kemudian bisa berlanjut ke pesan yang lebih privat, hingga berakhir dengan ancaman menyebarkan screenshot foto editan atau semacamnya.

Selanjutnya adalah modus role play (RP). Pelaku bisa menyamar sebagai fan berat seorang idol K-pop atau karakter anime, lalu mengajak "role play" karakter idol kesukaan korban. Kasus yang pernah terjadi, korban diberi foto editan dirinya dipasangkan dengan bias K-pop untuk menjalin kedekatan.

2.Membaca tanda peringatan pada anak

Mengutip dari Panduan Perlindungan Anak KemenPPPA pada 2023, bacalah tanda peringatan yang muncul pada diri anak untuk mengetahui adanya ketidakberesan.

Jika anak tiba-tiba sering menghapus riwayat chat, memiliki gawai atau uang tanpa penjelasan, atau menolak difoto atau sangat protektif terhadap ponsel, mungkin ini adalah sebuah peringatan keras bagi orang tua untuk mendekati buah hatinya tersebut.

3. Mengintervensi dengan cara yang benar

Alih-alih bertanya, "Adakah yang menganggu kamu?", seorang psikolog UI mengatakan, lebih baik orang tua mencoba menceritakan sebuah kasus grooming yang diliput media, lalu tanya pendapat anak. Cara "intervensi" ini bisa jadi lebih efisien ketimbang melakukan tuduhan.

4. Manfaatkan teknologi dan aturan perlindungan anak

Orang tua sejatinya bisa memantau aktivitas anak di dunia digital melalui aplikasi yang disediakan platform umum seperti Google atau medsos macam Instagram dan Tiktok.

Untuk memantau aktivitas aplikasi anak, orang tua bisa menggunakan Google Family Link. Dengan fitur ini, akun anak akan tertaut dengan email kita sehingga aktivitasnya bisa kita pantau tanpa harus bertanya kepadanya. Sementara, untuk akun medsos, kita bisa memanfaatkan fitur "Private Account".

Selain itu, orang tua juga wajib menerapkan aturan 3W:

  • Who (Boleh berteman online hanya dengan yang dikenal di dunia nyata).
  • What (Tidak membagikan foto seragam sekolah/ lokasi).
  • Where (Gunakan komputer di ruang keluarga, bukan kamar tidur).

5. Yang dilakukan saat predator terlanjur menyerang

Semoga situasi ini nggak pernah terjadi. Namun, jika pada akhirnya predator anak terlanjut menyerang, beberapa hal ini harus kita lakukan:

  • Dokumen: Screenshot semua bukti sebelum pelaku menghapusnya.
  • Laporkan: Laporkan ke Aduan Konten Kominfo (https://aduankonten.id) atau Patrolisiber.id.
  • Dukung: Hubungi Yayasan Pulih (021-78842530) untuk pendampingan psikologis.

Di Bandung, seorang ayah berhasil menyelamatkan anaknya setelah melihat notifikasi transfer pulsa yang mencurigakan. Pelaku yang mengancam akan menyebar foto korban akhirnya ditangkap berkat rekaman chat yang disimpan.

Perlu kamu tahu, perlindungan anak bukan hanya tugas orang tua, tapi juga lingkungan sekitar; dan tentu saja anak itu sendiri. Buatlah anakmu mampu melindungi diri. Hari ini, tanyakanlah pada anak: "Kalau dapat hadiah dari teman asing di gim daring, apa yang akan kamu lakukan?" (Siti Khatijah/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: