Inibaru.id - Belakangan ini, istilah superflu ramai berseliweran di media sosial dan grup percakapan. Banyak yang bertanya-tanya, apakah ini penyakit baru, apakah sangat berbahaya, dan apakah Indonesia sedang menghadapi ancaman serius karena penyakit ini? Supaya tidak ikut panik tapi tetap waspada, mari kita bahas superflu dengan apa adanya, Gez.
Kalau menurut situs Labkesmas Kemenkes Makassar, kita perlu meluruskan dulu isu tentang nama penyakit ini. Superflu bukan nama resmi penyakit baru. Istilah ini dipakai untuk menyebut meningkatnya kasus influenza musiman yang penyebarannya lebih cepat dari biasanya.
Penyebab dari penyakit ini adalah virus influenza A(H3N2), tepatnya subclade K, yang sebenarnya masih satu keluarga dengan virus flu yang sudah lama dikenal dan terus dipantau oleh lembaga kesehatan dunia WHO.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat temuan varian ini sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans penyakit pernapasan. Hingga akhir Desember 2025, terdapat 62 kasus yang tersebar di delapan provinsi. Angka tertinggi tercatat di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas penderitanya adalah anak-anak dan perempuan. Meski demikian, Kemenkes menegaskan bahwa situasinya masih terkendali dan belum menunjukkan lonjakan keparahan dibandingkan flu musiman biasa.
Fenomena serupa juga terjadi di beberapa negara lain. Di Amerika Serikat dan Eropa, musim flu 2025–2026 dilaporkan cukup “ramai” dengan dominasi varian H3N2. Inilah yang membuat istilah superflu terdengar dramatis, karena kasus meningkat di banyak negara dalam waktu bersamaan.
Lalu, apa sebenarnya yang membuat flu ini disebut “super”? Ada beberapa faktor. Yang utama adalah penularannya terbilang cepat, terutama di musim tertentu. Varian H3N2 subclade K mendominasi kasus flu musiman, sehingga jumlah penderita tercatat melonjak dengan cepat. Namun, berdasarkan data epidemiologi dan pemantauan WHO, tidak ada bukti bahwa virus ini jauh lebih mematikan atau lebih ganas dibandingkan dengan Covid-19.
"Nggak usah khawatir bahwa ini mirip seperti Covid-19. Ini seperti flu biasa. Kalau tenggorokan sakit atau flu, istirahat, makan segar, dan me time biar sistem imun naik. Kalau demam ya minum obat. Kalau nggak sembuh ya bisa periksakan ke dokter, puskesmas, klinik, atau rumah sakit," saran Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang dr Abdul Hakam sebagaimana dinukil dari Antara, Rabu (7/1/2026).
O ya, soal gejala, superflu juga nggak istimewa. Tandanya tetap mirip flu biasa, yaitu demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, dan badan lemas. Secara klinis, dokter bahkan nggak bisa membedakan varian ini hanya dari gejala fisik tanpa pemeriksaan laboratorium.
Penularannya pun sama, yakni lewat droplet saat batuk, bersin, atau berbicara, serta dari tangan yang menyentuh permukaan terkontaminasi lalu menyentuh wajah. Kelompok yang perlu ekstra waspada dengan penyakit ini adalah balita, lansia, orang dengan penyakit kronis, dan mereka yang daya tahan tubuhnya rendah.
Untuk pencegahan, langkahnya sebenarnya sederhana dan sudah familiar. Vaksin influenza tahunan tetap dianjurkan, terutama bagi kelompok rentan. Selain itu, terapkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti rajin cuci tangan, menerapkan etika batuk, memakai masker saat sakit, cukup istirahat, dan makan bergizi. Jika sedang demam atau batuk, sebaiknya tinggal di rumah dulu. Terakhir, segera ke fasilitas kesehatan jika gejala memburuk.
Singkatnya, superflu bukan monster baru yang perlu ditakuti berlebihan. Ini adalah pengingat bahwa flu masih ada, masih menular, dan tetap perlu disikapi dengan kewaspadaan yang masuk akal. Jadi, kamu harus tetap menjaga kesehatan, sistem imun, dan gaya hidup sehat biar nggak sampai tertular, ya, Gez. (Arie Widodo/E07)
