BerandaHits
Sabtu, 9 Jan 2026 09:01

Ketahui Serba-serbi Superflu Berikut Biar Nggak Khawatir Berlebihan

Ilustrasi: Superflu sedang banyak dibicarakan di media sosial.(RS Lavalette)

Karena ada embel-embel "super"-nya, banyak orang khawatir dengan superflu yang sudah banyak ditemukan di Indonesia. Tapi, apakah penyakit ini mematikan layaknya Covid-19 dulu?

Inibaru.id - Belakangan ini, istilah superflu ramai berseliweran di media sosial dan grup percakapan. Banyak yang bertanya-tanya, apakah ini penyakit baru, apakah sangat berbahaya, dan apakah Indonesia sedang menghadapi ancaman serius karena penyakit ini? Supaya tidak ikut panik tapi tetap waspada, mari kita bahas superflu dengan apa adanya, Gez.

Kalau menurut situs Labkesmas Kemenkes Makassar, kita perlu meluruskan dulu isu tentang nama penyakit ini. Superflu bukan nama resmi penyakit baru. Istilah ini dipakai untuk menyebut meningkatnya kasus influenza musiman yang penyebarannya lebih cepat dari biasanya.

Penyebab dari penyakit ini adalah virus influenza A(H3N2), tepatnya subclade K, yang sebenarnya masih satu keluarga dengan virus flu yang sudah lama dikenal dan terus dipantau oleh lembaga kesehatan dunia WHO.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat temuan varian ini sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans penyakit pernapasan. Hingga akhir Desember 2025, terdapat 62 kasus yang tersebar di delapan provinsi. Angka tertinggi tercatat di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas penderitanya adalah anak-anak dan perempuan. Meski demikian, Kemenkes menegaskan bahwa situasinya masih terkendali dan belum menunjukkan lonjakan keparahan dibandingkan flu musiman biasa.

Fenomena serupa juga terjadi di beberapa negara lain. Di Amerika Serikat dan Eropa, musim flu 2025–2026 dilaporkan cukup “ramai” dengan dominasi varian H3N2. Inilah yang membuat istilah superflu terdengar dramatis, karena kasus meningkat di banyak negara dalam waktu bersamaan.

Superflu nggak semematikan Covid-19. (Samudrafakta)

Lalu, apa sebenarnya yang membuat flu ini disebut “super”? Ada beberapa faktor. Yang utama adalah penularannya terbilang cepat, terutama di musim tertentu. Varian H3N2 subclade K mendominasi kasus flu musiman, sehingga jumlah penderita tercatat melonjak dengan cepat. Namun, berdasarkan data epidemiologi dan pemantauan WHO, tidak ada bukti bahwa virus ini jauh lebih mematikan atau lebih ganas dibandingkan dengan Covid-19.

"Nggak usah khawatir bahwa ini mirip seperti Covid-19. Ini seperti flu biasa. Kalau tenggorokan sakit atau flu, istirahat, makan segar, dan me time biar sistem imun naik. Kalau demam ya minum obat. Kalau nggak sembuh ya bisa periksakan ke dokter, puskesmas, klinik, atau rumah sakit," saran Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang dr Abdul Hakam sebagaimana dinukil dari Antara, Rabu (7/1/2026).

O ya, soal gejala, superflu juga nggak istimewa. Tandanya tetap mirip flu biasa, yaitu demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, dan badan lemas. Secara klinis, dokter bahkan nggak bisa membedakan varian ini hanya dari gejala fisik tanpa pemeriksaan laboratorium.

Penularannya pun sama, yakni lewat droplet saat batuk, bersin, atau berbicara, serta dari tangan yang menyentuh permukaan terkontaminasi lalu menyentuh wajah. Kelompok yang perlu ekstra waspada dengan penyakit ini adalah balita, lansia, orang dengan penyakit kronis, dan mereka yang daya tahan tubuhnya rendah.

Untuk pencegahan, langkahnya sebenarnya sederhana dan sudah familiar. Vaksin influenza tahunan tetap dianjurkan, terutama bagi kelompok rentan. Selain itu, terapkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti rajin cuci tangan, menerapkan etika batuk, memakai masker saat sakit, cukup istirahat, dan makan bergizi. Jika sedang demam atau batuk, sebaiknya tinggal di rumah dulu. Terakhir, segera ke fasilitas kesehatan jika gejala memburuk.

Singkatnya, superflu bukan monster baru yang perlu ditakuti berlebihan. Ini adalah pengingat bahwa flu masih ada, masih menular, dan tetap perlu disikapi dengan kewaspadaan yang masuk akal. Jadi, kamu harus tetap menjaga kesehatan, sistem imun, dan gaya hidup sehat biar nggak sampai tertular, ya, Gez. (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

'Bom Nuklir' dan 'Perdamaian' yang Viral di Tengah Eskalasi Konfik Timur Tengah

6 Mar 2026

Saking Bekunya Musim Dingin, Warga Laut Baltik Berseluncur dari Satu Pulau ke Pulau Lain

6 Mar 2026

Bukan Emas Lagi; MUI Jateng Ubah Patokan Nisab Zakat Profesi

6 Mar 2026

Duduk Perkara Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip versi Polrestabes Semarang

6 Mar 2026

Oksigen Banyak dari Laut, Terus Kenapa Masih Ribut Soal Hutan?

6 Mar 2026

Tiket Mudik Ludes 400 Ribu! Cek Tanggal Favorit dan Kereta Pilihan di Daop 4 Semarang Ini

6 Mar 2026

Wisata Alam Kalikesek Semakin Ramai, Warga Desa Sriwulan Dapat THR

7 Mar 2026

Masjid Fujikawaguchiko, Tempat Salat dengan Latar Spektakuler Gunung Fuji di Jepang

7 Mar 2026

Sahur Tanpa Nasi Cuma Makan Lauk, Beneran Bikin Kuat Puasa Seharian?

7 Mar 2026

Ikan Air Tawar vs Ikan Laut: Siapa yang Paling Tahan Lawan Pemanasan Global?

7 Mar 2026

Aman Nggak Ya Mudik dengan Mobil Listrik?

8 Mar 2026

Membedah Mitos Minum Air Hangat Bisa Turunkan Berat Badan

8 Mar 2026

Restorative Justice Akhiri Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip Semarang

8 Mar 2026

Berburu Baju Bekas sekaligus Bantu Korban Kekerasan di Bazar Preloved Sintas

8 Mar 2026

Sarung Tangan Karet Bekas Ternyata Bisa Jadi 'Penyedot' Polusi

8 Mar 2026

Srikandi Ojol Jateng Kini Punya Aplikasi Khusus Anti-Pelecehan

8 Mar 2026

Musim Mudik, Pengendara Diimbau Istirahat di Rest Area Maksimal 30 Menit

9 Mar 2026

Menilik Keseruan Momen Membeli Kebutuhan Lebaran

9 Mar 2026

PDAM Semarang Gelar 'Operasi Ketupat', 14 Ribu Penunggak Jadi Sasaran

9 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: