BerandaHits
Senin, 28 Feb 2021 12:30

Kenangan Senior Breakdance Semarang; Pecah Konflik Kelompok dan Rela Bolos Sekolah

Jamal sebagai Bboy lama punya banyak kenangan selama melakoni breakdance di Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Sekian lama menjadi seniman Breakdance di Semarang, banyak kenangan khusus yang mereka miliki. Para penari breakdance yang juga dikenal sebagai Bboy ini terkadang harus mengatasi konflik antar-kelompok. Tumbukan yang terjadi antara event breakdance dengan jadwal belajar, membuat mereka harus memilih salah satunya.

Inibaru.id - Meski sekarang gaungnya nggak terlalu terdengar, breakdance di Semarang pernah jaya. Subkultur seni jalanan ini sempat meramaikan jagat hiburan.

Sekitar 2005 silam, ada sebuah acara di stasiun tv nasional bertajuk Lets Dance. Sebagai salah satu acara yang digandrungi, Let's Dance juga turut berperan dalam menaikkan eksistensi breakdance di Indonesia, termasuk Kota Semarang. Alam Sang Saka, membagi kenangannya dengan saya.

“Tiap SMA, dan daerah bahkan punya namanya masing-masing,” ujar Breakdance boy (sebutan untuk seniman breakdance) ini, Minggu (14/2/2021). Saka telah menggeluti Breakdance sejak awal 2000-an, Millens.

Sebagai tarian yang lekat dengan citra anak muda, breakdance tumbuh subur di sekolah. Saka membeberkan beberapa sekolah di Semarang memiliki ekstrakulikuler breakdance, antara lain SMA 5, SMA 11, dan SMA 7. Beberapa universitas juga memiliki unit kegiatan ini. Nggak heran jika kampus-kampus sering mengadakan event breakdance.

Meskipun cuma tarian, breakdance Semarang punya sentimen kelompok. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Punya Sentimen Kelompok

Saka juga menceritakan kalau breakdance pernah menimbulkan sentimen kelompok. Bukan karena berebut tempat latihan atau saling senggol, Millens.

“Mekipun tarian, kami saling adu gerakan, namanya battle,” kata Alam. Perseteruan karena battle nggak main-main lo. Satu sekolah atau daerah bisa turun dan terlibat! Kalau dilihat, gerakan battle memang terkadang tampak saling mengejek. Nah, ejekan ini kemudian merembet ke perkelahian fisik.

Untungnya, keributan ini nggak terlalu fatal. Bukan anak breakdance namanya kalau nggak bisa menyelesaikan masalah dengan cara sendiri.

“Kami selesaikan lewat battle dance,” jelas Saka.

Meski dapat menimbulkan gesekan, pantang bagi Saka untuk bertengkar karena dance. Dia justru lebih suka menjadi penengah jika ada konflik.

Battle dance dipilih sebagai jalan keluar pertikaian. Biar adil, yang menjadi juri adalah siswa-siswa SMA dari sekolah yang netral. Pemenang akan dipilih penonton yang hadir dalam battle dance

Meski jalan keluar telah ditempuh, nggak lantas membuat beberapa Bboy kapok cari masalah. Saka menyebut, beberapa konflik disebabkan orang-orang "itu" lagi.

Orang-orang breakdance lawas Semarang punya banyak kenangan. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Bolos Sekolah Demi Breakdance

Namanya juga keranjingan hobi, bolos sekolah pun diterjang. Jamal, rekan satu kelompok Saka menceritakan pengalamannya semasa sekolah. Demi mengikuti turnamen di uar kota, lelaki ini nekat cabut dari sekolah.

“Bahkan waktu battle itu masih pakai seragam sekolah,” kenang Jamal.

Semasa menempuh pendidikan di SMA 5 Semarang, Jamal aktif nge-breakdance. Mencari rferensi mengenai gerakan breakdance juga belum segampang sekarang. Dulu, dia harus membeli kaset breakdance dari kaset dan sebuah website berbahasa Prancis bernama Style2ouf.

"Itu webiste sudah nggak ada. Dulu saya cari-cari di Yahoo. Zadul banget memang," tutupnya sambil terkekeh.

Bisa dibilang, latihan keras Jamal sewaktu sekolah nggak sia-sia. Pada 2017, Jamal mewakili Indonesia menjadi breakdancer profesional di kancah internasional. Salah satu event yang pernah Jamal ikuti adalah Battle Of The Year tingkat Asia yang diselenggarakan di Thailand.

Wah seru ya, Millens, pengalaman breakdance para Bboy ini. (Audrian F/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Cantiknya Pemandangan Air Terjun Penawangan Srunggo di Bantul

20 Jan 2026

Cara Unik Menikmati Musim Dingin di Korea; Berkemah di Atas Es!

20 Jan 2026

Kunjungan Wisatawan ke Kota Semarang sepanjang 2025 Tunjukkan Tren Positif

20 Jan 2026

Belasan Kasus dalam Dua Tahun, Bagaimana Nasib Bayi yang Ditemukan di Semarang?

20 Jan 2026

Ratusan Perjalanan Batal karena Banjir Pekalongan, Stasiun Tawang Jadi Saksi Kekecewaan

20 Jan 2026

Viral 'Color Walking', Tren Jalan Kaki Receh yang Ampuh Bikin Mental Anti-Tumbang

20 Jan 2026

Nggak Suka Dengerin Musik? Bukan Aneh, Bisa Jadi Kamu Mengalami Hal Ini!

20 Jan 2026

Duh, Kata Menkes, Diperkirakan 28 Juta Warga Indonesia Punya Masalah Kejiwaan!

21 Jan 2026

Jika Perang Dunia III Pecah, Apakah Indonesia Akan Aman?

21 Jan 2026

Ki Sutikno; Dalang yang Tiada Putus Memantik Wayang Klithik Kudus

21 Jan 2026

Statistik Pernikahan Dini di Semarang; Turun, tapi Masih Mengkhawatirkan

21 Jan 2026

Kabar Gembira! Tanah Sitaan Koruptor Bakal Disulap Jadi Perumahan Rakyat

21 Jan 2026

Ternyata Bumi Kita Nggak Seburuk Itu, Simak Kabar Baik Pemulihan Alam Belakangan Ini!

21 Jan 2026

Kata Pakar Soal Makanan yang Bisa Bertahan Lebih dari 12 Jam

22 Jan 2026

Apakah Indonesia Sudah Memasuki Puncak Musim Hujan?

22 Jan 2026

Tradisi Unik jelang Ramadan; Nyadran 'Gulai Kambing' di Ngijo Semarang

22 Jan 2026

Bukan Cuma Rokok, Tekanan Finansial Juga Jadi Ancaman Serius buat Jantung

22 Jan 2026

Pantura 'Remuk' Pasca-Banjir, Pemprov Jateng Mulai Hitung Kerugian dan Siapkan Strategi Baru

22 Jan 2026

Menurut PBB, Dunia Sudah Memasuki Fase Kebangkrutan Air Global!

23 Jan 2026

Waktu-waktu Terburuk untuk Liburan ke Jepang pada 2026

23 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: