BerandaHits
Senin, 9 Nov 2025 13:01

Kebijakan Redenominasi Rupiah Kembali Mencuat, Target Realisasi pada 2027

Ilustrasi: Pemerintah menargetkan RUU Redenominasi Rupiah rampung pada 2027. (Unsplash/Mufid Majnun)

Pemerintah menargetkan RUU Redenominasi Rupiah rampung pada 2027 sesuai PMK Nomor 70 Tahun 2025. Kebijakan ini bertujuan menyederhanakan nominal uang, meningkatkan efisiensi ekonomi, menjaga stabilitas rupiah, dan memperkuat kredibilitas mata uang nasional.

Inibaru.id - Pemerintah Indonesia kembali menghidupkan rencana penyederhanaan mata uang rupiah atau redenominasi melalui penyusunan RUU tentang Perubahan Harga Rupiah yang ditargetkan rampung pada 2027.

Hal itu sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 70 Tahun 2025 tentang Rencana Strategis Kementerian Keuangan Tahun 2025–2029 yang ditetapkan pada 10 Oktober lalu dan diundangkan pada 3 November 2025.

Untuk mempersiapkannya, Kementerian Keuangan menunjuk Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) sebagai penanggung jawab utama penyusunan RUU Redenominasi.

Perlu diketahui, ini bukanlah pembahasan baru. Gagasan ini mencuat pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dan sempat digulirkan oleh Bank Indonesia. Namun, pelaksanaannya selalu tertunda karena berbagai tekanan ekonomi.

Tujuan Utama Redenominasi

Ilustrasi: Salah satu tujuan redenominasi adalah untuk meningkatkan kredibilitas rupiah di tingkat global. (Antara via VOI)

Penyusunan RUU Redenominasi dilakukan untuk meningkatkan efisiensi perekonomian nasional dan memperkuat stabilitas nilai rupiah. Pemerintah menilai, kebijakan ini penting untuk menjaga daya beli masyarakat serta meningkatkan kredibilitas rupiah di tingkat global.

Dalam dokumen Renstra Kemenkeu 2025–2029, terdapat empat alasan utama yang melandasi urgensi RUU Redenominasi:

  1. Meningkatkan efisiensi perekonomian. Penyederhanaan nominal, seperti mengubah Rp100.000 menjadi Rp100, akan mempermudah pencatatan akuntansi, transaksi, dan administrasi keuangan.
  2. Menjamin kesinambungan pertumbuhan ekonomi. Regulasi baru dianggap penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berkelanjutan.
  3. Menjaga stabilitas dan daya beli rupiah. Proses redenominasi dilakukan secara terkendali agar tidak menimbulkan inflasi atau kebingungan di masyarakat.
  4. Meningkatkan kredibilitas rupiah. Denominasi yang lebih sederhana diyakini akan memperkuat persepsi nilai rupiah di mata internasional.

Bagian dari Langkah Strategis Kemenkeu 2025-2029

Pemerintah juga menegaskan pentingnya membedakan antara redenominasi dengan sanering. Redenominasi adalah penyederhanaan nilai nominal mata uang tanpa mengubah daya belinya, sementara sanering dilakukan dalam kondisi krisis dengan memangkas nilai uang sekaligus daya belinya, yang biasanya merugikan masyarakat.

Redenominasi dilakukan secara bertahap dan membutuhkan masa transisi (co-circulation), di mana uang lama dan uang baru beredar bersamaan, untuk memastikan masyarakat beradaptasi tanpa kehilangan nilai.

Selain RUU Redenominasi, Kemenkeu juga mencantumkan tiga rancangan undang-undang lain dalam program legislasi nasional jangka menengah 2025–2029, yaitu:

  1. RUU tentang Perlelangan (target selesai 2026)
  2. RUU tentang Pengelolaan Kekayaan Negara (target selesai 2026)
  3. RUU tentang Penilai (target selesai 2025)

“Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran strategis Kemenkeu, diusulkan empat RUU yang menjadi bidang tugas Kemenkeu yang ditetapkan dalam program legislasi nasional jangka menengah tahun 2025–2029,” tulis PMK 70/2025.

Pemerintah menilai, kondisi ekonomi Indonesia yang relatif stabil memberi momentum tepat untuk memulai langkah redenominasi secara bertahap. Proses persiapan hukum hingga sosialisasi publik akan menjadi tahapan penting sebelum implementasi penuh pada 2027.

Menurutmu, perlukah Indonesia melakukan redenominasi, Gez? (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Wali Kota Agustina Akui Sempat Kewalahan Menangani Banjir Semarang

21 Feb 2026

Bukan Cantik Berwarna-warni, Anggrek Misterius di Hutan Merapi Ini Justru Beraroma Ikan Busuk!

21 Feb 2026

Statistik Catat Hanya Ada 2.591 Tunawisma di Seluruh Jepang

22 Feb 2026

Boleh Nggak Sih Pulang Setelah Tarawih 8 Rakaat di Masjid Lalu Witir di Rumah?

22 Feb 2026

Bersiap Sambut Pemudik, Jateng Akan Kebut Perbaikan Jalan

22 Feb 2026

Arus Mudik Lebaran 2026 dalam Bayang-Bayang Cuaca Ekstrem di Jateng

22 Feb 2026

Deretan Poster Humor Ramadan di Mijen; Viral dan Jadi Spot Ngabuburit Dadakan

22 Feb 2026

Manisnya Buah Tanpa Biji dan Perampokan Kemandirian

22 Feb 2026

Meriung Teater Ketiga 'Tengul' melalui Ruang Diskusi Pasca-pentas

22 Feb 2026

Ini Dokumen Wajib dan Cara Tukar Uang Baru Lebaran 2026 yang Perlu Kamu Tahu!

22 Feb 2026

Mengapa Orang Korea Suka Minum Alkohol dan Mabuk?

23 Feb 2026

Tren Makanan Kukusan Makin Populer, Sehat bagi Tubuh?

23 Feb 2026

Ratusan Jemaah Tiap Hari, Tradisi Semaan di Masjid Agung Kauman selama Ramadan

23 Feb 2026

Bukan Perlu atau Tidak, tapi Untuk Kepentingan Apa Perusahaan Media Adopsi AI

23 Feb 2026

Menelusuri Jejak Sejarah Intip Ketan, Camilan Warisan Sunan Kudus

23 Feb 2026

Akhir Penantian 8 Tahun Petani Geblog Temanggung Berbuah Embung Manis

23 Feb 2026

Viral, Harga Boneka Monyet Punch Naik Gila-gilaan di Internet!

24 Feb 2026

Negara Mana dengan Durasi Puasa 2026 yang Terlama dan Tersingkat?

24 Feb 2026

Menyusuri Peran Para Tionghoa di Kudus via Walking Tour 'Jejak Naga di Timur Kota'

24 Feb 2026

Antisipasi Banjir, Pemkot Semarang akan Rutin Bersihkan Sedimentasi Sungai

24 Feb 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: