BerandaHits
Minggu, 9 Mar 2024 17:00

Kaum Freeter di Korea: Bekerja Secukupnya, Bahagia Seterusnya

Freeter, orang-orang yang memilih pekerjaan paruh waktu dan nggak lagi memikirkan karier. (Netflix)

Demi menikmati hidup dan menghindari stres, kaum 'freeter' di Korea memilih bekerja secukupnya lalu menyisakan lebih banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang disukai.

Inibaru.id – Kehidupan Hong Banjang di Desa Gongjin yang santai dan tenang dalam drakor Hometown Cha-Cha-Cha agaknya menjadi gambaran yang pas tentang gimana sebagian anak muda di Korsel memilih jalan hidupnya. Merekalah yang kini dikenal sebagai kaum freeter.

Belakangan, pola pikir itu acap diadopsi anak muda usia antara 20-30 tahun di sana. Nggak seperti kebanyakan orang yang memilih mendaki karier mati-matian dengan mengorbankan sebagian besar waktunya, para freeter hidup dalam "kebebasan".

Nggak hanya di Korsel, gaya hidup ini juga cukup dikenal di Jepang. Gambaran itu bisa kamu temukan pada tokoh utama dalam film Jepang Perfect Days, yakni Hirayama. Sosok yang berprofesi sebagai pembersih toilet tersebut sejatinya memungkinkan untuk meniti karier yang lebih mentereng karena keluarganya cukup berada, tapi dia menolaknya.

Lelaki paruh baya itu memilih pekerjaan "biasa" yang nggak terlalu menghasilkan uang demi bisa menghabiskan waktu lebih lama untuk kesenangan pribadinya. Inilah freeter, yang berasal dari kata "free worker". Orang Jepang menyebutnya “furita”.

Hidup yang Sederhana

Pekerjaan paruh waktu dianggap bisa memberikan banyak waktu untuk menikmati kehidupan. (Twitter/tang_kira)

Kaum freeter diperkirakan mulai dikenal di Jepang pada awal 1990-an. Kala itu, banyak anak muda lebih memilih menikmati hidup sederhana tanpa ambisi muluk-muluk. Mereka nggak berpikir tentang peningkatan karier, memiliki harta benda, atau hal besar lainnya.

Pola pikir ini terbentuk setelah mereka terpaksa beradaptasi dengan resesi ekonomi yang melanda Jepang kala itu. Mereka yang hanya memungkinkan untuk bekerja paruh waktu ternyata berhasil memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari situlah istilah furita muncul.

Orang-orang furita nggak terlalu memusingkan jenjang karier. Mereka bisa bergonta-ganti pekerjaan semau mereka. Yang terpenting bagi mereka adalah memenuhi kebutuhan. Saat uang yang terkumpul cukup, mereka akan memilih untuk menikmati hidup dengan bebas.

Besar kemungkinan pola pikir furita itu kemudian diadopsi di Korsel. Inilah yang membuat sebagian kaum muda di Negeri Gingseng menjadikannya sebagai gaya hidup.

Waktu untuk Diri Sendiri

Banyak anak muda di Korsel memilih menjadi freeter agar memiliki waktu lebih banyak untuk diri sendiri. (Pexels/Allan Mas)

Kim, seorang penjaga kasir di sebuah minimarket di Korsel mengaku menjalani profesinya yang sekarang karena ingin mendapatkan kebahagiaan dan kebebasan. Sebelumnya, sosok 30 tahun ini telah bekerja selama lima tahun sebagai karyawan di sebuah perusahaan besar.

"Sejak lulus kuliah, yang aku rasakan hanya bekerja dan nggak punya waktu untuk diriku sendiri," ujarnya, dikutip dari Naver (26/2/2024). "Setelah memutuskan untuk jadi freeter, yang sekarang aku rasakan lebih penting daripada masa depan yang absurd.”

Di Korsel, pilihan untuk menjadi freeter belakangan memang semakin populer. Survei yang dilakukan Statistics Korea selama lima tahun terakhir menyebutkan, jumlah pekerja paruh waktu dengan durasi kerja kurang dari 30 jam seminggu meningkat dari 12,2 persen pada 2019 jadi 16,4 persen pada 2022.

Dalam survei tersebut, 71 persen anak muda menyebut freeter sebagai opsi yang lebih baik untuk hidupnya. Alasannya, gaya hidup ini membuat mereka terbebas dari stres, punya lebih banyak waktu untuk melakukan hobi, atau bisa berganti pekerjaan kapan saja sesuai keinginan mereka.

Di tengah tuntutan karier para pekerja yang acap menguras tenaga dan waktu, keberadaan para freeter di Jepang dan Korsel tentu menjadi opsi yang menggiurkan untuk dilirik. Kalau pendapatan pekerja paruh waktu di Indonesia setinggi di sana, banyak yang berminat juga nggak, ya? (Arie Widodo/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: