BerandaHits
Selasa, 28 Jul 2025 17:41

Ilmuwan Gunakan Hiu sebagai Sensor Hidup Lautan Prediksi Badai

Hiu digunakan para ilmuwan untuk memprediksi badai. (Unsplash)

Dalam langkah inovatif menghadapi badai yang makin ekstrem, ilmuwan kini menjadikan hiu sebagai sensor hidup untuk mengumpulkan data penting dari lautan.

Inibaru.id - Dalam upaya memahami badai yang kian ganas akibat perubahan iklim, ilmuwan kini mencoba pendekatan yang tidak biasa: bekerja sama dengan hiu. Alih-alih hanya mengandalkan pesawat seperti yang dilakukan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), para peneliti melengkapi tiga ekor hiu di Samudra Atlantik dengan sensor canggih.

“Hiu-hiu ini seperti sensor berjalan yang terus-menerus mengumpulkan data penting dari lautan,” kata Aaron Carlisle, ahli ekologi kelautan dari University of Delaware, seperti dikutip dari Independent, Sabtu (26/7/2025). Carlisle memimpin proyek ini dan menyebut langkah ini sebagai jawaban atas keterbatasan teknologi yang selama ini hanya mampu mengakses sebagian kecil dari luasnya lautan.

Sensor yang dipasangkan pada hiu digunakan untuk mengukur suhu dan konduktivitas air laut, dua indikator penting dalam memprediksi badai. Selama ini, suhu permukaan laut yang meningkat akibat pemanasan global menjadi penyebab badai semakin besar dan kuat. Meski tidak ada jaminan bahwa hiu-hiu tersebut akan berenang langsung ke jalur badai, data yang mereka kirim tetap krusial untuk memperkirakan arah dan kekuatan badai.

Satelit hanya mampu membaca permukaan laut, sementara robot bawah air (glider) cenderung mahal dan lambat. Di sinilah keunggulan hiu sebagai makhluk hidup yang cepat dan tahan lama di laut membuat mereka ideal untuk menjadi ‘mitra’ ilmuwan.

“Mereka lebih efisien daripada robot glider karena lebih cepat dan bisa berada di laut lebih lama. Harapannya hiu-hiu ini bisa melengkapi dan bekerja sama dengan alat pemantau cuaca yang sudah ada saat ini,” ujar Caroline Wiernicki, ahli ekologi hiu sekaligus mahasiswa PhD yang terlibat dalam riset ini.

Nantinya, hiu-hiu akan dilepaskan di jalur badai. (Shutterstock)

Dalam proyek ini, dua ekor hiu mako dipasangi tag untuk mengukur suhu, kedalaman, dan konduktivitas air, sementara seekor hiu putih diberi tag satelit guna melihat potensi spesies ini untuk riset jangka panjang. Hiu martil dan hiu paus juga sedang dipertimbangkan untuk diuji coba ke depannya.

Menurut Carlisle, salah satu hiu mako telah berhasil mengirimkan data suhu kepada tim, namun hiu lainnya berenang di perairan yang terlalu dangkal sehingga sensornya belum aktif. Hiu mako dipilih karena kebiasaan mereka yang sering naik ke permukaan, memudahkan transmisi data ke satelit, dan kecepatan renangnya yang bisa mencapai lebih dari 64 kilometer per jam.

Sensor yang dipasang sudah dirancang agar tidak menyakiti atau merusak sirip hiu. Ini penting, karena keberadaan hiu sendiri sedang terancam. Data dari International Fund for Animal Welfare menunjukkan satu dari tiga spesies hiu dan pari kini masuk kategori terancam punah. Populasi mereka telah merosot lebih dari 70 persen sejak 1970-an akibat penangkapan ikan berlebihan. Setiap tahun, sekitar 100 juta hiu dibunuh untuk keperluan perikanan komersial, setara dengan 190 hiu per menit.

Jika uji coba ini berhasil, tim peneliti berencana menandai puluhan hiu tiap tahun dan memasukkan datanya ke dalam model komputer prediksi badai. Masa depan prediksi cuaca ekstrem mungkin tak hanya bergantung pada satelit atau teknologi robotik tetapi juga pada predator laut yang selama ini justru kerap diburu.

Langkah kreatif memanfaatkan hiu sebagai sensor hidup ini membuka harapan baru dalam memahami dan memprediksi badai secara lebih akurat. Namun, keberhasilan upaya ini juga bergantung pada keberlanjutan populasi hiu di alam liar.

Untuk itu, mari dukung riset-riset ilmiah dan upaya konservasi laut dengan lebih peduli terhadap ekosistem laut serta menolak praktik perburuan hiu yang merusak keseimbangan alam. Masa depan prediksi cuaca bisa dimulai dari langkah kecil menjaga laut tetap lestari, Gez. (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Asal Nama Rondo Royal, Jajanan Tape Goreng Khas Jepara

11 Okt 2026

Penonton MotoGP Mandalika 2026 Tembus 157 Ribu, Cetak Rekor Baru

12 Okt 2026

Gentengisasi Jateng Disiapkan, 1,1 Juta Keping Genteng Dibutuhkan

13 Okt 2026

Pemerintah Tutup Permanen Ekspor Benih Lobster, Penyelundup Bakal Diburu

14 Okt 2026

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: