BerandaHits
Rabu, 28 Nov 2017 17:08

Gunung Agung Menuju Fase Kritis

Erupsi Gunung Agung terlihat dari salah satu Pura di Kubu, Karangasem, Bali, Minggu (26/11/2017).(AFP/Sonny Tumbelaka)

Gunung Agung berada pada masa kritis menjelang letusan besar. Akankah seperti kejadian pada 1963?

Inibaru.id – Aktivitas Gunung Agung terus mengalami peningkatan. Pada Selasa (28/11/2017) sore, gunung yang terletak di Karanganyar, Bali tersebut terlihat mengeluarkan letusan terus-menerus. Dentumannya bahkan terdengar hingga jarak 12 kilometer dari kawah.

Kasubid Mitigasi Bencana Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), I Gede Suantika mengatakan, Gunung Agung tengah memasuki fase kritis menuju letusan yang lebih besar. Dia pun menginstruksikan kepada warga dan wisatawan sekitar untuk waspada.

Dilansir dari Kompas.com, Selasa (28/11), Gempa tremor overscale secara terus-menerus ini mengindikasikan adanya pergerakan magma dalam jumlah besar ke permukaan. Ada dua kemungkinan pergerakan magma, yaitu efusif dan eksplosif.

Tipe efusif terjadi jika magma bergerak dalam jumlah besar memenuhi kawah lalu meluber keluar kawah. Sementara tipe eksplosif adalah saat magma bergerak seketika disertai terbentuknya awan panas.

Baca juga: 
Debu Vulkanik Gunung Agung, Maskapai Tutup Mesin dan Ratusan Penerbangan Dibatalkan

Tak Usah Panik terhadap Efek Letusan Gunung Agung

Aktivitas Gunung Agung yang kian menjadi-jadi itu pun memantik kepanikan warga. Sebagian masyarakat takut jika letusan dasyat yang terjadi pada 1963 akan kembali terulang dalam waktu dekat.

Tak hanya warga Bali, sejarah letusan Gunung Agung pada 1963 juga menghantui masyarakat Indonesia, bahkan negeri jiran.

Dilansir dari Liputan6.com, Selasa (28/11), gunung setinggi 3.031 mdpl itu meletus 54 tahun lalu. Saat itu, sekurang-kurangnya 1.600 orang tewas dan 296 orang luka. Mayoritas korban jiwa jatuh karena awan panas dan dampak aliran piroklastik. 

Efek erupsi Gunung Agung pada 1963 juga mengglobal. Pada sejumlah tempat, bulan terlihat lebih temaram. Suhu Bumi pun menurun lantaran material erupsi mengurangi intensitas sinar matahari. Lebih dari itu, kekeringan juga melanda Tiongkok bagian selatan.

Mantan Kepala Badan Geologi, Surono, mengatakan, korban yang tinggi pada erupsi Gunung Agung kala itu terjadi bukan saja dari kekuatan letusannya, tapi juga banyaknya penduduk yang tinggal di zona bahaya.

"Sebagian warga menolak diungsikan," kenangnya.

Setahun

Untuk diketahui, 54 tahun silam Gunung Agung tercatat mengalami erupsi selama hampir setahun. Mulai meletus pada 18 Februari 1963, lalu mencapai kulminasi atas pada  23 Februari 1963, gunung tertinggi di Bali ini baru tenang pada 27 Januari 1964.

Wilayah Pura Besakih, Rendang, dan Selat dihujani batuan kecil nan tajam, pasir, dan abu panas. Lahar juga dimuntahkan, disertai awan panas yang membumbung tinggi.

Meski ada kemungkinan akan berulang, Kepala Data dan Informasi Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho memprediksi, letusan dahsyat pada 1963 tak akan terjadi pada 2017.

“Erupsi besar masih mungkin terjadi, tapi tidak sebesar 1963 karena energi dalam dapur magma lebih kecil, tidak sampai 20 kilometer seperti kala itu,” ungkap Sutopo, “tinggi letusan material dan dampaknya juga berbeda.”

Baca juga: 
Status Awas Gunung Agung, Zona Bahaya Jadi 10 Kilometer
Siap-Siap, Gempa Bumi Diprediksi Sering Muncul pada 2018

Dia menambahkan, kondisi masyarakat kala itu dengan sekarang juga berbeda. Komunikasi, peringatan, informasi, dan peralatan saat ini jauh lebih baik.

“Sampai saat ini bahkan belum ada korban meninggal. Ya, mudah-mudahan tidak ada," harapnya.

Hingga Selasa, 22 desa dalam radius 10 km dari titik bencana telah terpapar dampak erupsi Gunung Agung. Desa-desa itu adalah Ababi, Pidpid, Nawakerti, Datah, Bebandem, Jungutan, Buana Giri, Tulamben, Dukuh, Kubu, Baturinggit, Ban, Sukadana, Menanga, Besakih, Pempatan, Selat, Peringsari, Muncan, Dudat Utara, Amertha Bhuana, dan Sebudi.

Sutopo mengimbau warga untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan selalu mengenakan masker. “Jangan lupa kurangi pasir yang ada di atap biar rumah nggak roboh," tutupnya.

Kendati situasi di sekitar Gunung Agung mulai genting, sejumlah wilayah lain di Bali masih relatif aman. Warga masih beraktivitas secara normal. Beberapa destinasi wisata seperti Ubud, Nusa Penida, Denpasar, Pulau Menjangan, hingga Pantai Lovina juga masih dikunjungi wisatawan. (GIL/SA)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Wali Kota Agustina Akui Sempat Kewalahan Menangani Banjir Semarang

21 Feb 2026

Bukan Cantik Berwarna-warni, Anggrek Misterius di Hutan Merapi Ini Justru Beraroma Ikan Busuk!

21 Feb 2026

Statistik Catat Hanya Ada 2.591 Tunawisma di Seluruh Jepang

22 Feb 2026

Boleh Nggak Sih Pulang Setelah Tarawih 8 Rakaat di Masjid Lalu Witir di Rumah?

22 Feb 2026

Bersiap Sambut Pemudik, Jateng Akan Kebut Perbaikan Jalan

22 Feb 2026

Arus Mudik Lebaran 2026 dalam Bayang-Bayang Cuaca Ekstrem di Jateng

22 Feb 2026

Deretan Poster Humor Ramadan di Mijen; Viral dan Jadi Spot Ngabuburit Dadakan

22 Feb 2026

Manisnya Buah Tanpa Biji dan Perampokan Kemandirian

22 Feb 2026

Meriung Teater Ketiga 'Tengul' melalui Ruang Diskusi Pasca-pentas

22 Feb 2026

Ini Dokumen Wajib dan Cara Tukar Uang Baru Lebaran 2026 yang Perlu Kamu Tahu!

22 Feb 2026

Mengapa Orang Korea Suka Minum Alkohol dan Mabuk?

23 Feb 2026

Tren Makanan Kukusan Makin Populer, Sehat bagi Tubuh?

23 Feb 2026

Ratusan Jemaah Tiap Hari, Tradisi Semaan di Masjid Agung Kauman selama Ramadan

23 Feb 2026

Bukan Perlu atau Tidak, tapi Untuk Kepentingan Apa Perusahaan Media Adopsi AI

23 Feb 2026

Menelusuri Jejak Sejarah Intip Ketan, Camilan Warisan Sunan Kudus

23 Feb 2026

Akhir Penantian 8 Tahun Petani Geblog Temanggung Berbuah Embung Manis

23 Feb 2026

Viral, Harga Boneka Monyet Punch Naik Gila-gilaan di Internet!

24 Feb 2026

Negara Mana dengan Durasi Puasa 2026 yang Terlama dan Tersingkat?

24 Feb 2026

Menyusuri Peran Para Tionghoa di Kudus via Walking Tour 'Jejak Naga di Timur Kota'

24 Feb 2026

Antisipasi Banjir, Pemkot Semarang akan Rutin Bersihkan Sedimentasi Sungai

24 Feb 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: