BerandaHits
Jumat, 27 Feb 2020 12:00

Cerita Kekuatan Secangkir Teh: Sanggup Pengaruhi Peradaban Tiongkok dan Jepang

Teh memiliki sejarah panjang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Teh punya peran penting dalam membentuk peradaban Tiongkok dan Jepang. Bahkan juga merambah ke berbagai belahan dunia lewat kolonialisme.<br>

Inibaru.id - Di Tiongkok ada lebih dari 8000 jenis teh. Informasi itu disampaikan Tauhid Aminulloh, perwakilan dari Wikiti pada Sabtu (22/2/2020) di Hetero Space, Banyumanik, Kota Semarang dalam Kelas Mengenal Teh. Wikiti adalah platform yang dikembangkan oleh KEN8 (Koperasi Edukarya Negeri Lestari) berupa kepakaran tentang komoditas teh.

Dia juga menjelaskan kalau teh di Tiongkok erat kaitannya dengan agama. Pada abad ke-6 SM, di Tiongkok sudah berkembang dua agama yakni Konfusius dan Tao. Menurut kedua agama ini teh adalah minuman keabadian. Para biksu Tao menggunakan teh untuk membantunya berkonsentrasi saat meditasi.

Kemudian di masa Dinasti Han (206 SM-220 M) mulai populer Budhiisme. Tao berakulturasi dengan Budhiisme menjadi Zen. Dari situ muncul pembakuan tata cara upacara teh dan cara produksinya.

Di Tiongkok, teh adalah kegiatan yang sakral. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

“Kemudian beranjak ke Dinasti Tang, teh sudah dinikmati secara publik. Pada masa ini masyarakat betul-betul menghayati bagaimana cara meminum teh. Terlebih seperti apa yang sudah didokumentasikan oleh seorang biksu yang bernama Lu Yu,” jelas Tauhid.

Buku bikinan Lu Yu berjudul Ch'a Ching atau The Classic of Tea. Buku ini memuat 10 bab dalam 3 jilid yang membahas teh dari penanaman, pemrosesan, penyeduhan, hingga upacara untuk minum teh.

Kemudian berlanjut pada Dinasti Sung (907 - 1279M), budidaya teh mulai dikenal. Pemetikan daun teh dilakukan dengan cara teratur dan selektif. Kemudian dibarengi dengan ritual agama. Jadi nggak bisa asal.

Para peserta sedang menyimak edukasi tentang teh. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

“Pada masa ini seorang biarawan dari Jepang yaitu Myoan Eisai, banyak mengambil ilmu dari budidaya teh di Tiongkok. Akhirnya dia membawa ilmunya tersebut saat kembali ke negaranya. Dari situlah, Jepang mulai membudidayakn teh sendiri,” ujarnya. Di masa ini pula berkembang teh putih.

Penjajahan bangsa Mongol pada masa Dinasti Yuan (1271 - 1368) yang dilakukan oleh Kubilai Khan hingga cucunya Genghis Khan, mengubah segalanya.

“Di sini terjadi deskralisasi. Tradisi minum teh bukan lagi sesuatu yang sakral. Masa ini, teh cuma jadi minuman biasa yang biasanya diminum sambil makan dimsum,” ungkap Tauhid.

Nggak cukup dengan memporak-porandakan Tiongkok, bangsa Mongol mencoba memperlebar daerah jajahannya mulai dari Korea, Jepang hingga ke Jawa. Kekejaman bangsa Mongol membuat Jepang terpaksa berhenti berguru kepada Tiongkok.

Era Dinasti Ming, minum teh menjadi semakin maju. Mulai diseduh menggunakan beragam pottery yang indah. Pengolahannya pun memanfaatkan oksidasi.

Tauhid Aminulloh menjelaskan banyak tentang perjalanan teh. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

“Evolusi minum teh di Tiongkok bergulir dalam 3 tahap. Yakni direbus, dikocok, dan diseduh. Hal itu menggambarkan tiga era dinasti; Tang, Sung, dan Ming,” pungkasnya.

Kalau di Jepang, teh yang paling terkenal adalah teh hijau. Jangan salah, teh ini menjadi ilmu terakhir yang mereka dapatkan dari Dinasti Sung. Mereka juga masih menjunjung tinggi kesakralan teh. Ada sebuah upacara minum teh yang bernama “Ryuku Sen”.

“Keberagaman teh Tiongkok adalah jejak atas revolusi dan perubahan radikal. Sementara teh Jepang adalah wujud dari upaya menjaga harmoni,” tandas Tauhid.

Jadi begitu ya, Millens. Teh memiliki pengaruh besar terhadap peradaban Tiongkok dan Jepang. (Audrian F/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Aneka Festival Musim Semi di Korea Selatan yang Bisa Kamu Datangi

5 Mar 2026

Benar Nggak Sih Sawit Bakal Menyelamatkan Indonesia dari Krisis Energi Global?

5 Mar 2026

Wajibkan Pencairan Maksimal H-7 Lebaran, Jateng Aktifkan Posko THR untuk Pengaduan

5 Mar 2026

Uji Coba Bus Listrik untuk Transportasi Publik yang Inklusif dan Ramah Lingkungan

5 Mar 2026

Kekerasan Seksual vs Main Hakim Sendiri; Undip Tegaskan Nggak Ada Toleransi!

5 Mar 2026

Siap-Siap Gerah! Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering

5 Mar 2026

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

'Bom Nuklir' dan 'Perdamaian' yang Viral di Tengah Eskalasi Konfik Timur Tengah

6 Mar 2026

Saking Bekunya Musim Dingin, Warga Laut Baltik Berseluncur dari Satu Pulau ke Pulau Lain

6 Mar 2026

Bukan Emas Lagi; MUI Jateng Ubah Patokan Nisab Zakat Profesi

6 Mar 2026

Duduk Perkara Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip versi Polrestabes Semarang

6 Mar 2026

Oksigen Banyak dari Laut, Terus Kenapa Masih Ribut Soal Hutan?

6 Mar 2026

Tiket Mudik Ludes 400 Ribu! Cek Tanggal Favorit dan Kereta Pilihan di Daop 4 Semarang Ini

6 Mar 2026

Wisata Alam Kalikesek Semakin Ramai, Warga Desa Sriwulan Dapat THR

7 Mar 2026

Masjid Fujikawaguchiko, Tempat Salat dengan Latar Spektakuler Gunung Fuji di Jepang

7 Mar 2026

Sahur Tanpa Nasi Cuma Makan Lauk, Beneran Bikin Kuat Puasa Seharian?

7 Mar 2026

Ikan Air Tawar vs Ikan Laut: Siapa yang Paling Tahan Lawan Pemanasan Global?

7 Mar 2026

Aman Nggak Ya Mudik dengan Mobil Listrik?

8 Mar 2026

Membedah Mitos Minum Air Hangat Bisa Turunkan Berat Badan

8 Mar 2026

Restorative Justice Akhiri Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip Semarang

8 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: