BerandaHits
Kamis, 9 Apr 2025 16:04

Ceplas-Ceplos Bukan Jujur, Anak Perlu Belajar Bicara dengan Empati

Anak perlu diajarkan berempati sejak dini. (Shutterstock)

Anak yang suka ceplas-ceplos sering dianggap lucu atau jujur apa adanya. Padahal, jika dibiarkan tanpa arahan, kebiasaan ini bisa melukai perasaan orang lain dan membuat anak tumbuh tanpa empati.

Inibaru.id - Banyak orang tua yang membiarkan atau bahkan membanggakan anak yang ceplas-ceplos, dengan dalih "memang anaknya jujur." Padahal, jujur nggak sama dengan bebas berkata apa saja tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.

Jika kebiasaan ini dibiarkan, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang sulit berempati dan tidak peka terhadap dampak ucapannya.

Jujur adalah nilai yang penting, tapi harus dibarengi dengan cara penyampaian yang tepat. Anak perlu diajarkan bahwa menyampaikan kebenaran pun ada etikanya. Misalnya, mengatakan bahwa seseorang "jelek" atau "gendut" dengan nada mengejek bukanlah bentuk kejujuran, tapi ketidaksopanan.

Di sinilah peran orang tua untuk membimbing anak memilah kata, memahami konteks, dan belajar menempatkan diri.

Anak-anak memang sedang belajar mengenali dunia dan berekspresi, tapi itu bukan alasan untuk menormalkan perkataan yang menyakitkan. Justru saat itulah waktu terbaik untuk menanamkan nilai empati, sopan santun, dan kesadaran bahwa setiap kata memiliki dampak.

Dengan begitu, anak bisa tumbuh jadi pribadi yang nggak hanya jujur, tapi juga bijak dan penuh pertimbangan dalam berbicara.

Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?

Jangan langsung memarahi atau melabeli anak kasar. (via Halodoc)

Jika anak suka ceplas-ceplos, orang tua nggak perlu langsung memarahi atau melabelinya sebagai anak yang kasar. Yang perlu dilakukan adalah membimbing anak untuk memahami bahwa kejujuran tetap perlu dibarengi dengan cara penyampaian yang baik. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua:

1. Jangan langsung tertawa atau membenarkan

Ketika anak mengatakan sesuatu yang menyakitkan dengan nada ceplas-ceplos, jangan menganggapnya lucu atau membenarkannya di depan orang lain. Tertawa atau memuji anak saat itu justru menguatkan perilaku tersebut.

2. Ajarkan bedanya jujur dan menyakiti

Gunakan momen itu sebagai pelajaran. Katakan, “Apa yang kamu bilang memang benar, tapi cara ngomongnya bisa bikin orang sedih. Bisa nggak kita bilangnya dengan lebih halus?”

3. Berikan contoh konkret

Anak belajar dari meniru. Tunjukkan bagaimana kita menyampaikan kritik atau kejujuran dengan bahasa yang sopan. Misalnya, daripada bilang "Makanannya nggak enak," bisa diganti dengan, "Aku lebih suka rasa yang lain."

4. Latih dengan roleplay

Ajak anak bermain peran. Buat situasi pura-pura dan minta anak mencoba menyampaikan sesuatu dengan cara yang lebih baik. Ini akan membantu mereka terbiasa memilah kata sebelum berbicara.

5. Berikan pujian saat anak berhasil menyampaikan dengan baik

Ketika anak mulai belajar berbicara dengan lebih empatik, beri apresiasi. Katakan, “Ibu bangga kamu bisa bicara jujur dengan cara yang baik. Itu artinya kamu juga peduli sama perasaan orang lain.”

6. Bicarakan soal empati secara rutin

Tanyakan bagaimana perasaan anak jika ada teman yang berbicara kasar padanya. Ini bisa membuka kesadaran bahwa kata-kata bisa menyakitkan, dan empati adalah keterampilan yang penting dalam berinteraksi.

Dengan pendampingan yang konsisten, anak akan belajar bahwa jujur itu penting, tapi menyampaikan dengan bijak dan penuh empati jauh lebih berharga. Mumpung anak kita masih kecil, mari ajarkan sopan santun kepada orang lain, Millens. (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: