BerandaHits
Jumat, 1 Jan 2026 19:01

Bukan Tega, Ini Alasan Ilmiah di Balik Fenomena Hewan yang Memakan Anaknya Sendiri!

Monyet tercatat sebagai hewan kanibal. (Wikipedia Commons)

Tindakan ekstrem ini bukan karena hewan-hewan ini "jahat", melainkan bagian dari strategi cerdas untuk bertahan hidup dan menjaga keturunan yang lebih kuat. Yuk, cari tahu kenapa alam punya sisi gelap yang penuh logika ini!

Inibaru.id - Pernah nggak sih kamu melihat kucing peliharaanmu tiba-tiba memakan anaknya sendiri yang baru lahir? Pasti rasanya ngeri, sedih, dan bikin kita mikir: "Kok tega banget, sih?"

Di dunia manusia, tindakan ini jelas kriminal. Tapi di dunia hewan, perilaku yang disebut kanibalisme filial ini ternyata bukan sebuah "gangguan jiwa" atau penyimpangan langka.

Menurut Aneesh Bose, ahli ekologi perilaku dari Swedish University of Agricultural Sciences, tindakan ini justru merupakan bagian dari strategi bertahan hidup yang sudah tertanam dalam insting mereka.

Lantas, apa sih yang bikin para induk ini berubah jadi predator bagi darah dagingnya sendiri? Yuk, kita bedah pelan-pelan alasannya!

Strategi "Investasi" yang Realistis

Salamander memakan 14% keturunannya. Namun penggundulan hutan memperparahnya. (Reuters)

Dalam biologi, membesarkan anak itu butuh investasi energi yang sangat besar. Nah, setiap hewan punya cara main yang beda:

Si Lambat

Hewan seperti gajah atau paus cuma punya satu anak dalam waktu lama. Mereka bakal mati-matian menjaga anaknya karena "investasinya" cuma satu.

Si Cepat

Ikan, serangga, atau tikus punya anak dalam jumlah banyak sekaligus. Buat mereka, kehilangan satu atau dua anak nggak bakal bikin garis keturunan mereka punah. Memakan anak justru jadi cara "balik modal" energi.

Mengorbankan Satu demi Menyelamatkan Seribu

Ada istilah kanibalisme parsial. Ini sering terjadi pada kumbang atau ikan. Kalau makanan lagi susah, induk bakal memakan sebagian anaknya supaya anak yang tersisa punya cukup nutrisi untuk bertahan hidup.

Pada kucing atau anjing, induk biasanya memakan anak yang lahir mati atau sakit sakitan. Alih-alih membiarkan bangkainya membusuk dan mengundang predator atau penyakit, si induk memakannya untuk mengembalikan tenaga setelah proses melahirkan yang melelahkan. Sounds cruel, but it's pure logic!

Konflik Rumah Tangga ala Hewan

Nggak cuma manusia yang punya drama keluarga. Pada beberapa spesies ikan, pejantan sering memakan telur yang ia curigai bukan "anak kandungnya". Si pejantan bisa mencium sinyal kimia untuk tahu mana anaknya dan mana hasil "titipan" pejantan lain.

Lucunya, hal ini sering memicu konflik dengan induk betina. Si ibu bakal menjaga telurnya ketat-ketat supaya si ayah nggak punya kesempatan buat "nyemil" anak-anak mereka.

Tombol "Reset" saat Kondisi Darurat

Kalau kondisi lingkungan lagi kacau misalnya banyak predator atau cuaca ekstrem, hewan seperti kelinci atau tikus bisa melakukan kanibalisme total. Mereka bakal memakan seluruh anaknya sekaligus.

Tujuannya? Untuk mengakhiri periode reproduksi yang dirasa gagal dan mencoba lagi saat kondisi sudah lebih aman. Bagi mereka, lebih baik induknya selamat dan bisa hamil lagi nanti, daripada semua mati sia-sia dimakan predator.

Dunia hewan memang punya sisi gelap yang sulit diterima logika manusia. Tapi di balik kengerian itu, ada mekanisme evolusi yang memastikan sebuah spesies tetap bertahan di kerasnya alam liar.

Meskipun penelitian masih terus berkembang, satu hal yang pasti yaitu perilaku ini jauh lebih kompleks dari sekadar rasa lapar. (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: