BerandaHits
Selasa, 27 Okt 2025 11:01

Budaya Tukar Cincin di Korea Selatan, Simbol Cinta yang Kini Dianggap Pengeluaran Tak Bermakna

Budaya tukar cincin di Korea Selatan bisa dilakukan saat pacaran, bertunangan, dan menikah. (Etsy)

Beda dengan zaman dahulu, kini banyak anak muda Korea yang mempertanyakan pentingnya membeli aneka cincin untuk pernikahan, pertunangan, atau menandakan hubungan saat pacaran.

Inibaru.id – Di Indonesia, cincin kawin sering dianggap sebagai simbol cinta abadi antara dua insan. Namun, di Korea Selatan, maknanya kini mulai bergeser. Di tengah biaya pernikahan yang kian tinggi, banyak pasangan muda Negeri Ginseng yang justru mulai mempertanyakan apakah cincin pernikahan masih sepenting itu?

Sebuah survei oleh biro perjodohan Duo mencatat, rata-rata pasangan Korea menghabiskan hingga 360 juta won atau sekitar Rp4,6 miliar untuk persiapan pernikahan, termasuk rumah baru. Tak heran, banyak yang mulai memangkas pengeluaran, salah satunya di bagian cincin.

“Rasanya hanya formalitas,” ujar Oh Ga-yeon (25), calon pengantin yang memilih tidak membeli cincin kawin baru sebagaimana dinukil dari Koreaherald, Senin (20/10/2025). “Kami sudah punya cincin pasangan sejak pacaran, jadi rasanya mubazir kalau harus beli lagi.”

Padahal, tradisi tukar cincin di Korea punya sejarah panjang. Sejak gaya pernikahan Barat masuk pada 1970-an, cincin pertunangan dan cincin kawin menjadi dua hal wajib. Kemudian, budaya itu berkembang menjadi lebih kompleks. Ada “couple ring” untuk menandai hubungan pacaran, hingga “guard ring” untuk memperindah cincin utama. Alhasil, makna cincin pernikahan yang dulunya sakral kini terasa menipis.

Fenomena ini bahkan sempat jadi bahan lelucon di aplikasi anonim Blind. Seorang pengguna menggambarkan jari yang dipenuhi enam cincin berbeda sambil menulis, “Harus beli cincin tunangan, cincin kawin, dan cincin pas pacaran. Buang-buang uang!”

Meski begitu, tidak semua orang sepakat bahwa cincin kawin kehilangan maknanya. Bagi sebagian, justru di situlah nilai emosionalnya tetap hidup. “Cincin kawin itu lambang komitmen,” ujar Lee Jeong-min (24), calon pengantin yang tengah menyiapkan pesta pernikahannya. “Kalau cincin tunangan cuma buat dipamerkan di Instagram, cincin kawin itu simbol kesungguhan. Kamu nggak bisa asal lepas dari tradisi.”

Biaya membeli cincin di Korea Selatan juga cukup mahal. (123rf)

Lee menganggap cincin bukan sekadar perhiasan, melainkan penghormatan bagi keluarga dan tanda pengikat dua pihak. “Pernikahan di sini bukan cuma menyatukan dua orang, tapi dua keluarga,” katanya.

Namun, survei lain dari Gayeon menunjukkan sisi berbeda. Sekitar 41 persen responden mengaku tidak membeli cincin kawin karena merasa nggak benar-benar penting. Sementara 24 persen lainnya memilih mengalokasikan uangnya untuk membeli rumah alih-alih cincin atau benda simbolik lainnya.

Hal ini juga dialami Kim Seong-joo (26), yang menikah pada 2024. Ia dan pasangannya memilih menggunakan cincin pertunangan mereka saat upacara pernikahan. “Daripada beli dua cincin untuk dua acara, lebih baik memakai yang sudah ada,” ujarnya.

Menurut Kim, tren baru ini justru lebih praktis. Banyak pasangan muda kini juga memilih cincin simpel tanpa berlian, bukan karena pelit, tapi karena ingin fungsional. “Kami lebih baik pakai uangnya buat hal yang lebih berarti,” tambah Oh Ga-yeon.

Fenomena ini mencerminkan perubahan nilai generasi muda Korea, dari yang dulu mengedepankan simbol kemewahan menjadi simbol kesederhanaan. Cinta, bagi mereka, tak lagi harus dibuktikan dengan kilau cincin mahal, tapi lewat pilihan hidup yang realistis dan penuh makna.

Kalau menurut kamu sendiri, Gez, budaya tukar cincin apakah juga sudah nggak sepenting itu? (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Wali Kota Agustina Akui Sempat Kewalahan Menangani Banjir Semarang

21 Feb 2026

Bukan Cantik Berwarna-warni, Anggrek Misterius di Hutan Merapi Ini Justru Beraroma Ikan Busuk!

21 Feb 2026

Statistik Catat Hanya Ada 2.591 Tunawisma di Seluruh Jepang

22 Feb 2026

Boleh Nggak Sih Pulang Setelah Tarawih 8 Rakaat di Masjid Lalu Witir di Rumah?

22 Feb 2026

Bersiap Sambut Pemudik, Jateng Akan Kebut Perbaikan Jalan

22 Feb 2026

Arus Mudik Lebaran 2026 dalam Bayang-Bayang Cuaca Ekstrem di Jateng

22 Feb 2026

Deretan Poster Humor Ramadan di Mijen; Viral dan Jadi Spot Ngabuburit Dadakan

22 Feb 2026

Manisnya Buah Tanpa Biji dan Perampokan Kemandirian

22 Feb 2026

Meriung Teater Ketiga 'Tengul' melalui Ruang Diskusi Pasca-pentas

22 Feb 2026

Ini Dokumen Wajib dan Cara Tukar Uang Baru Lebaran 2026 yang Perlu Kamu Tahu!

22 Feb 2026

Mengapa Orang Korea Suka Minum Alkohol dan Mabuk?

23 Feb 2026

Tren Makanan Kukusan Makin Populer, Sehat bagi Tubuh?

23 Feb 2026

Ratusan Jemaah Tiap Hari, Tradisi Semaan di Masjid Agung Kauman selama Ramadan

23 Feb 2026

Bukan Perlu atau Tidak, tapi Untuk Kepentingan Apa Perusahaan Media Adopsi AI

23 Feb 2026

Menelusuri Jejak Sejarah Intip Ketan, Camilan Warisan Sunan Kudus

23 Feb 2026

Akhir Penantian 8 Tahun Petani Geblog Temanggung Berbuah Embung Manis

23 Feb 2026

Viral, Harga Boneka Monyet Punch Naik Gila-gilaan di Internet!

24 Feb 2026

Negara Mana dengan Durasi Puasa 2026 yang Terlama dan Tersingkat?

24 Feb 2026

Menyusuri Peran Para Tionghoa di Kudus via Walking Tour 'Jejak Naga di Timur Kota'

24 Feb 2026

Antisipasi Banjir, Pemkot Semarang akan Rutin Bersihkan Sedimentasi Sungai

24 Feb 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: