BerandaHits
Selasa, 2 Feb 2026 15:01

Berminggu-minggu Terisolasi, Warga Tambaksari Mulai Bangun Jembatan Darurat Sendiri

Pemandangan warga Tambaksari ketika berusaha menacapkan bambu ke dasar sungai sebagai pondasi. (Inibaru.id/ Sundara)

Warga Kampung Tambaksari Semarang yang sudah berminggu-minggu terisolasi di seberang Sungai Bringin akhirnya mulai membangun jembatan darurat sendiri; terbuat dari bambu yang membentang sepanjang 30-an meter dan menelan biaya hingga puluhan juta rupiah.

Inibaru.id - Semangat gotong royong begitu terasa pada Minggu (1/2/2026), saat ratusan warga Kampung Tambaksari, Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang membangun ulang jembatan darurat penghubung desa yang sebelumnya hanyut diterjang arus sungai.

Sejak pagi, warga yang dibantu personel TNI dan Polri saling berbagi tugas untuk membangun jembatan berbahan dasar bambu tersebut; dari memotong hingga membenamkan bambu sebagai fondasi ke dasar sungai. Semuanya dikerjakan secara sukarela.

Lebih dari dua pekan terakhir, tepatnya setelah jembatan penghubung yang menjadi satu-satunya akses desa hanyut tersapu arus sungai Bringin yang meningkat akibat hujan lebat pada Kamis (15/1), semangat saling bahu-membahu ini sejatinya telah terlihat.

Selama jembatan putus, ratusan warga setempat yang terisolasi terpaksa membuat getek atau rakit sederhana untuk menyeberangi sungai yang membelah Mangkang Wetan tersebut. Warga kemudian bergantian menjadi penarik getek untuk membantu tetangga yang harus bersekolah atau bekerja ke luar desa.

Jembatan jadi Kebutuhan Krusial 

Bagi masyarakat Tambaksari, keberadaan jembatan pun menjadi kebutuhan krusial yang sangat mendesak, karena menjadi satu-satunya akses paling memungkinkan untuk menuju Mangunharjo. Tanpa jembatan, mobilitas warga di seberang sungai sangat terbatas, sebagaimana dikatakan Ketua RW 7 Tambaksari, Sumadi.

"Saya terus terang, hari-hari belakangan ini warga kesulitan beraktivitas karena tidak ada akses penghubung," tuturnya saat ditemui Inibaru.id belum lama ini. "Sampah juga menumpuk di pinggir tambak karena tidak ada armada yang bisa mengangkut ke tempat pembuangan akhir."

Meski terisolasi, warga yang tinggal di seberang sungai memilih nggak berpangku tangan. Menurut Sumadi, semangat mereka nggak luntur dan terus mencari cara agar aktivitas sehari-hari bisa tetap berjalan; termasuk bikin getek dan sekarang membangun ulang jembatan darurat dari bambu.

"Warga yang tinggal di seberang sungai tersebar di empat RT dengan jumlah penduduk sekitar 170 keluarga. Semangat mereka benar-benar perlu diacungi jempol," sebutnya.

Bisa Dilalui Kendaraan

Warga sedang memotong dan memilah bambu yang digunakan untuk membangun jembatan darurat. (Inibaru.id/ Sundara)

Sumadi mengungkapkan, jembatan sepenuhnya berbahan utama bambu. Meski bertajuk "darurat", konstruksi jembatan dirancang cukup kokoh dan lebar untuk dilalui kendaraan roda tiga pengangkut sampah. Lantainya dari papan kayu palet atau tripleks yang disusun rapat agar aman dilalui anak-anak.

"Di kanan dan kiri jembatan akan dipasang gedek (anyaman bambu) agar pengendara motor maupun pejalan kaki tidak langsung melihat ke bawah. Intinya, jembatan itu aman untuk dilalui," paparnya.

Setali tiga uang, Lurah Mangkang Wetan, Benny Irawan juga menjamin jembatan darurat tersebut bisa dilalui kendaraan bermotor. Rencana awal memang hanya untuk pejalan kaki, tapi diubah agar bisa dilalui gerobak. Lebarnya sekitar 1,5 meter dan membentang sepanjang 30-36 meter di atas Sungai Bringin.

"Jembatan darurat ini swadaya warga dengan dukungan anggaran swakelola dari Kecamatan Tugu," jelas Benny, Minggu (1/2). "Rencana akan diselesaikan dalam tiga hari. Nanti sepeda motor dan gerobak sampah bisa melintas, karena selama ini warga kesulitan mengangkut sampah ke TPS."

Memperhitungkan Situasi Banjir

Agar nggak tersapu arus lagi, Benny mengungkapkan, konstruksi jembatan telah diperkuat. Bentuknya juga disesuaikan dengan kondisi sungai. Menurutnya, warga juga mengalami kekhawatiran akan kemungkinan banjir kembali melanda lantaran cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi pada Februari ini.

"Sebagai antisipasi, warga telah membuat beberapa penyesuaian. Ketinggian tiang utama dibuat sejajar talud dan tidak dipasang persis di tengah sungai. Jadi, selama tidak terkena air langsung, jembatan ini kemungkinan besar akan cukup kuat," jelasnya.

Jembatan darurat Kampung Tambaksari ditargetkan selesai dalam waktu tiga hari. (Inibaru.id/ Sundara)

Pembangunan jembatan darurat ini diperkirakan akan menelan biaya awal Rp20-35 juta untuk membeli sekitar 40 batang bambu. Benny berharap, pembangunan jembatan akan berjalan lancar dan sesuai target sehingga aktivitas warga bisa segera kembali normal, sembari menunggu pembangunan jembatan permanen.

Sedikit informasi, rencana pembangunan jembatan permanen di wilayah tersebut sejatinya sempat mencuat. Fondasi jembatan telah dibuat, tapi pada akhirnya mangkrak lantaran terjadi sengketa lahan. Terkait hal ini, Ketua DPRD Kota Semarang Kadar Lusman mengaku sudah berkomunikasi dengan Pemkot Semarang.

Politikus asal Mangkang yang biasa disapa Pilus itu mengaku telah mendesak Pemkot Semarang dan BBWS Pemali-Juwana yang bertanggung jawab atas pembangunan jembatan di Tambaksari untuk segera memberikan solusi, mengingat jembatan darurat yang tengah dibangun itu hanyalah solusi jangka pendek.

"Jembatan permanen ini sangat dibutuhkan. Kasihan masyarakat, terutama anak-anak sekolah, karena empat RT di Kampung Tambaksari terhalang Sungai Bringin. Mereka kehilangan akses utama, butuh perhatian dan respons cepat dari pemerintah," ujar Pilus.

Titipkan Kendaraan di Kampung Sebelah

Pilus menegaskan bahwa jembatan menjadi kebutuhan mendesak karena beberapa kali menyaksikan langsung kesulitan warga Tambaksari menjalani hari-hari setelah jembatan hanyut. Anak sekolah berdiri di atas rakit untuk menyeberang, sementara warga menitipkan kendaraan di kampung sebelah.

"Rencana pembangunan jembatan permanen ini kan sudah digagas sejak dua tahun lalu, saat normalisasi Sungai Bringin. Namun, pembangunan terhenti karena akses masuk ke jembatan ternyata akan memakan sebagian tanah milik warga. Terjadilah sengketa lahan," sebutnya.

Nah, demi menghindari persoalan sengketa lahan yang tak kunjung selesai, Pilus mengungkapkan bahwa warga kini sudah bersedia jika lebar jembatan harus dikurangi menjadi sekitar 3,5 meter. Sebelumnya, desain awal jembatan permanen adalah selebar 6-7 meter.

"Yang terpenting bagi warga saat ini adalah jembatan permanen bisa dilalui pejalan kaki, sepeda motor, dan gerobak sampah. Soal lebar, warga tidak akan mempermasalahkan kalaupun harus dipersempit, yang penting aman," tandas Pilus.

Inisiatif warga Kampung Tambaksari yang nggak menunggu bantuan patut ditiru, nih! Sembari terus mendesak Pemkot untuk merealisasikan janjinya, setidaknya warga tetap bisa beraktivitas dengan leluasa. Semoga segera terhubung ya! (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Di Korea Selatan, Siswa Pelaku Bullying Dipersulit Masuk Universitas

19 Jan 2026

Melegenda di Muntilan, Begini Kelezatan Bubur Mbah Gamping

19 Jan 2026

Terdampak Banjir, Warga Wonorejo Mulai Mengeluh Gatal dan Demam

19 Jan 2026

Antisipasi Doomscrolling, Atur Batas Waktu Youtube Shorts Anak dengan Fitur Ini!

19 Jan 2026

Opsi Layanan Kesehatan 'Jemput Bola' untuk Warga Terdampak Banjir Wonorejo

19 Jan 2026

Bijak Kenalkan Gawai dan Media Sosial pada Anak

19 Jan 2026

Bupati Pati Sudewo Kena OTT KPK! Terkait Kasus Apa?

19 Jan 2026

Jalur Pekalongan-Sragi Tergenang, Sebagian Perjalanan KA Daop 4 Semarang Masih Dibatalkan

19 Jan 2026

Cantiknya Pemandangan Air Terjun Penawangan Srunggo di Bantul

20 Jan 2026

Cara Unik Menikmati Musim Dingin di Korea; Berkemah di Atas Es!

20 Jan 2026

Kunjungan Wisatawan ke Kota Semarang sepanjang 2025 Tunjukkan Tren Positif

20 Jan 2026

Belasan Kasus dalam Dua Tahun, Bagaimana Nasib Bayi yang Ditemukan di Semarang?

20 Jan 2026

Ratusan Perjalanan Batal karena Banjir Pekalongan, Stasiun Tawang Jadi Saksi Kekecewaan

20 Jan 2026

Viral 'Color Walking', Tren Jalan Kaki Receh yang Ampuh Bikin Mental Anti-Tumbang

20 Jan 2026

Nggak Suka Dengerin Musik? Bukan Aneh, Bisa Jadi Kamu Mengalami Hal Ini!

20 Jan 2026

Duh, Kata Menkes, Diperkirakan 28 Juta Warga Indonesia Punya Masalah Kejiwaan!

21 Jan 2026

Jika Perang Dunia III Pecah, Apakah Indonesia Akan Aman?

21 Jan 2026

Ki Sutikno; Dalang yang Tiada Putus Memantik Wayang Klithik Kudus

21 Jan 2026

Statistik Pernikahan Dini di Semarang; Turun, tapi Masih Mengkhawatirkan

21 Jan 2026

Kabar Gembira! Tanah Sitaan Koruptor Bakal Disulap Jadi Perumahan Rakyat

21 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: