BerandaFoto Esai
Senin, 28 Mar 2021 14:47

Orang-Orang di Pembuangan Akhir Jatibarang, Bertahan dan Terus Bertahan!

Di Jatibarang, di antara sampah-sampah yang nggak berhenti datang, ada puluhan orang-orang yang menggantungkan hidupnya. Dari sampah mereka mencari kepingan rupiah untuk bertahan hidup dan menjalankan kehidupan.<br>

Inibaru.id - Sejak saya tiba pukul 09.00 WIB hingga dua jam setelahnya, sampah-sampah terus berdatangan di TPA Jatibarang Semarang, Jawa Tengah. Sejak itu pula para pemulung terus bekerja di bawah gunungan sampah. Mereka menanti sampah tiba dan berdamai dengan cangkul eskavator yang terus mengeruk.

Di tengah hiruk-pikuk itu, salah seorang pemulung menepi. Peluh keringatnya bercucuran dan raut wajahnya tampak merah karena terpanggang matahari.

Topi penutup kepala dan keranjang yang ada di punggungnya dilepas. Dia menuju ke sejenis tempat peristirahatan yang hanya ditutup dengan kain seadanya; tampaknya memang sengaja dibuat untuk sekadar rehat barang sepeminuman teh. Di sana ada tumpukan botol dan plastik hasil kerja setengah harinya, bersebelahan dengan kursi bekas untuk mengeluk punggung.

“Istirahat dulu. Capek saya,” ujar lelaki yang hanya mau dipanggil Tikno dan menolak difoto itu, Kamis (24/3/2021). "Ada korek, Mas?" tanya dia kemudian, yang segera saya sahut dengan gelengan kepala.

Tikno tergolong orang baru di Jatibarang. Dia mengaku baru empat bulan bekerja sebagai pemulung setelah tersingkir dari pekerjaan lama sebagai buruh, sebagai dampak dari pandemi.

“Ya, (memulung) daripada tidak kerja. Lebih baik begini,” kata lelaki asal Salatiga tersebut.

Kendati terbilang baru di Jatibarang, mengais rezeki dari sampah bukanlah hal awam bagi Tikno. Sebelumnya, dia pernah bekerja di Bantar Gebang, pusat pembuangan akhir di Jakarta. Sehari-hari dia mengumpulkan plastik, sampah yang paling laku dijual.

Plastik penampung barang biasa dihargai Rp 1.000, sedangkan ember bekas sekitar Rp 1.800-2.000. Sementara, botol adalah sampingan karena harganya terbilang murah, sekitar Rp 300-600 saja. Botol plastik umumnya akan diberikan ke pengepul, sebelum disetorkan ke pabrik lagi.

Saban hari, Tikno bisa meraih Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. Penghasilan yang sejatinya lumayan. Namun, dia mengaku nggak pengin terus bekerja sebagai pemulung. Kondisi yang belum bersahabatlah yang membuat dia bertahan.

"Semua ini sebagai perjalanan hidup," tuturnya bijak.

Menua Bersama Sampah

Lain Tikno, lain pula Reni yang kini telah menginjak usia 60 tahun. Saat bertemu dengannya, dia baru saja selesai mengais sampah. Perempuan paruh baya itu menggendong keranjang besar penuh dengan barang-barang bekas. Sampah dalam gendongannya itu bahkan tampak lebih besar daripada ukuran tubuhnya yang nggak terlalu tinggi.

Reni cukup ramah. Kepada saya, dia mengaku sudah menjadi pencari sampah sejak usianya masih gadis, bahkan setelah menikah.

“Sudah sejak gadis, menikah, dan sekarang jadi janda!” kelakarnya, lalu terkekeh. Reni sebetulnya lelah. Namun,menurutnya, hutang, biaya hidup, dan ongkos sekolah anak telah menantinya.

Ah, miris rasanya. Saya nggak bisa membayangkan, gimana mereka bisa tiap hari berkutat dengan sampah. Tentu bakal lebih banyak cerita pahit ketimbang kisah-kisah sukses di antara tumpukan sampah warga se-Kota Semarang itu.

Namun, terkadang, ada juga yang ketiban untung, misalnya menemukan segepok uang atau sebentuk perhiasan. Cerita ini pernah dialami Soleman. Lelaki 50 tahun tersebut mengaku pernah menemukan uang dengan jumlah hingga ratusan juta. Tumpukan uang itu hanya terbungkus plastik kresek warna hitam.

“(Tapi), karena duit itu saya sempat berurusan dengan polisi,” ujar lelaki yang mengaku sudah 20 tahun lebih juga bekerja sebagai pengepul sampah itu. Namun, Soleman mengaku bangga, karena berkat sampah, dia mampu menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya.

Ya, ya, saya pikir, mereka memang patut bangga. Saya pun pulang dengan perasaan yang karut-marut. Melangkahkan kaki keluar dari Jatibarang, saya sempat melihat beberapa rumah semi-permanen seperti punya Tekno. Di antara rumah-rumah itu, yang terngiang di kepala saya adalah sebuah boneka rusak usang dan buku tipis berisi doa-doa.

Apakah doa agar bisa membayar hutang bakal menjadi salah satu permohonan yang orang-orang ini rapalkan? (Audrian F/E03)

Salah seorang pemulung sampah di Jatibarang.<br>
Di bawah timbunan sampah.<br>
Mengangkut hasil kerja.<br>
Mendaki gunungan sampah.<br>
Selain pemulung, ada juga pengemudi truk yang saban hari berkeliling Kota Semarang untuk mengumpulkan sampah.<br>
Melepas dahaga di antara barang-barang bekas yang dikumpulkan.<br>
Soleman bersama istrinya di sela-sela istirahat.<br>
Boneka di antara tumpukan sampah.<br>
Tidur di rumah-rumahan seadanya.<br>
Doa agar terbebas dari hutang.<br>

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Di Korea Selatan, Siswa Pelaku Bullying Dipersulit Masuk Universitas

19 Jan 2026

Melegenda di Muntilan, Begini Kelezatan Bubur Mbah Gamping

19 Jan 2026

Terdampak Banjir, Warga Wonorejo Mulai Mengeluh Gatal dan Demam

19 Jan 2026

Antisipasi Doomscrolling, Atur Batas Waktu Youtube Shorts Anak dengan Fitur Ini!

19 Jan 2026

Opsi Layanan Kesehatan 'Jemput Bola' untuk Warga Terdampak Banjir Wonorejo

19 Jan 2026

Bijak Kenalkan Gawai dan Media Sosial pada Anak

19 Jan 2026

Bupati Pati Sudewo Kena OTT KPK! Terkait Kasus Apa?

19 Jan 2026

Jalur Pekalongan-Sragi Tergenang, Sebagian Perjalanan KA Daop 4 Semarang Masih Dibatalkan

19 Jan 2026

Cantiknya Pemandangan Air Terjun Penawangan Srunggo di Bantul

20 Jan 2026

Cara Unik Menikmati Musim Dingin di Korea; Berkemah di Atas Es!

20 Jan 2026

Kunjungan Wisatawan ke Kota Semarang sepanjang 2025 Tunjukkan Tren Positif

20 Jan 2026

Belasan Kasus dalam Dua Tahun, Bagaimana Nasib Bayi yang Ditemukan di Semarang?

20 Jan 2026

Ratusan Perjalanan Batal karena Banjir Pekalongan, Stasiun Tawang Jadi Saksi Kekecewaan

20 Jan 2026

Viral 'Color Walking', Tren Jalan Kaki Receh yang Ampuh Bikin Mental Anti-Tumbang

20 Jan 2026

Nggak Suka Dengerin Musik? Bukan Aneh, Bisa Jadi Kamu Mengalami Hal Ini!

20 Jan 2026

Duh, Kata Menkes, Diperkirakan 28 Juta Warga Indonesia Punya Masalah Kejiwaan!

21 Jan 2026

Jika Perang Dunia III Pecah, Apakah Indonesia Akan Aman?

21 Jan 2026

Ki Sutikno; Dalang yang Tiada Putus Memantik Wayang Klithik Kudus

21 Jan 2026

Statistik Pernikahan Dini di Semarang; Turun, tapi Masih Mengkhawatirkan

21 Jan 2026

Kabar Gembira! Tanah Sitaan Koruptor Bakal Disulap Jadi Perumahan Rakyat

21 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: