BerandaFoto Esai
Senin, 20 Feb 2022 09:22

Mengulang Masa Kanak-Kanak dengan Bermain Board Game di Semarang

Seorang pengunjung sedang mengambil board game yang disediakan.

Kamu mungkin pernah bermain board game seperti Monopoli atau Ular Tangga sewaktu kecil. Kamu bisa mengulanginya di tempat ini, lo!

Inibaru.id – Niko tampak serius memandang board game di hadapannya. Di depannya ada John, pemuda tanggung yang juga memandang papan permainan yang sama. Di sebelah papan permainan berkonsep strategi itu, kedua ponsel mereka tampak menganggur.

Hm, impian Ardiawan Bagus Harisa benar-benar terwujud, nih! Saya membatin.

Bagus, sapaan akrabnya, adalah pemilik Dhadhu Board Game Cafe Semarang. Selain menyediakan makanan dan minuman fancy, tempat nongkrong di Semarang ini juga memberikan fasilitas tambahan berupa papan permainan atau board game untuk dimainkan pengunjung.

Sebelum mengamati Niko dan John yang asyik memainkan board game, saya memang sempat berjumpa Bagus. Dia banyak bercerita tentang impiannya mendirikan board game cafe itu.

"Tujuan kami simpel, yakni membuat wadah bermain dan nongkrong bersama teman tanpa memegang gawai," terangnya di kafe yang beralamat di Jalan Timoho Raya Tembalang, Kota Semarang, itu belum lama ini.

Dia berharap, berdirinya kafe tersebut akan membuat orang lebih akrab dan saling mengenal. Mereka bisa bersosialisasi sekaligus belajar dari permainan.

"Jangan hanya bersosialisasi dengan gawai, kita perlu bertemu dan quality time,” ungkap Bagus.

Wadah Pencinta Board Game di Semarang

Keinginan Bagus mendirikan kafe yang dilengkapi papan permainan sejatinya sudah dirancang sejak lama. Ide itu muncul pada 2015 lalu. Kala itu dia hadir pada sebuah lomba membangun board game di berbagai kota, termasuk di Semarang.

Pada ajang tersebut, Bagus bertemu dengan para pencinta board game lain dari Semarang. Mereka pun berkumpul dan mulai mendiskusikan kemungkinan pembentukan komunitas board game di Semarang.

Pada kompetisi itu, board game Balap Kuliner menjadi pemenang. Mereka juga membentuk Komunitas Board Game Semarang (KOBAR).

“Namun, kami bingung di mana base camp-nya. Dari situlah tercetus ide membuat kafe itu, hingga akhirnya Dhadhu berdiri pada 2020," kenang Bagus.

Awal berdiri, animo masyarakat Semarang sejatinya lumayan besar. Namun, karena berdiri di tengah pandemi Covid-19, mereka nggak bisa terus buka.

"Kami sering buka tutup, terutama pas pembatasan massa beberapa lalu,” ujar dosen TI di sebuah perguruan tinggi di Semarang ini.

Oya, jangan berpikir board game yang tersedia di sini hanya Monopoly atau Ular Tangga ya. Mereka menyediakan papan permainan yang jauh lebih beragam, lo.

Bagus menjelaskan, setidaknya ada 20 persen board game buatan lokal dan sisanya dari luar negeri dengan berbagai tingkat kesulitan.

Kalau merasa kesusahan memainkannya, kafe ini juga menyediakan Game Master yang akan memandu pengunjung untuk dapat memahami konsep game yang dipilih dan cara memainkannya.

Agar bisa memainkan board game, kamu tinggal memesan makanan dan minuman di kasir, memilih permainan yang pengin dipakai di rak board game yang ada di pojok kafe.

Board game di rak tersebut terdiri atas 3 level, level casual pada bagian bawah, medium party di tengah, dan hardcore heavy pada bagian atas.

"Tiap box game pasti ada indikator minimal umur, lama permainan, dan berapa pemainnya,” jelas Bagus.

Selain dimainkan di tempat, kamu juga bisa menyewanya dengan harga Rp 30 ribu sampai Rp 55 ribu sehari.

"Yang datang sendirian juga nggak masalah, karena ada board game yang bisa dimanikan solo juga,” terangnya.

Belum Banyak Board Game Lokal

Bagus mengaku board game di Indonesia belum banyak berkembang. Dia bahkan berani mendaku diri sebagai pionir di Semarang.

"Pasar di Indonesia masih kurang. Minim support dari banyak kalangan untuk membuat board game yang selain apik juga berkonsep dan mendidik.

John, salah seorang pengunjung yang sempat saya perhatikan tengah bermain gim bersama Niko, mengatakan sangat senang dengan keberadaan kafe bernuansa modern minimalis ini.

“Sering ke sini sejak awal buka. Bisa seminggu sekali main ke sini bareng temen,” terang lelaki bernama lengkap John Andrey William Doney tersebut.

John datang bersama Niko Kusuma. Setelah menjajal berbagai board game di tempat tersebut, keduanya sangat mengapresiasi keberadaan kafe ini. Namun, menurut mereka, perlu ada board game yang lebih bertemakan pendidikan.

"Hampir semua gim yang saya pinjam berkonsep strategi untuk menang saja," tuturnya.

Saya sepakat. Memang ada beberapa permainan bertema pendidikan, tapi cuma untuk level casual atau yang paling mudah, yang lebih cocok untuk anak atau keluarga, sedangkan kebanyakan pengunjung justru anak muda.

Gimana, pengin kembali ke masa kanak-kanak dengan bermain board game di sini, Millens? (Kharisma Ghana Tawakal/E03)

Beberapa komponen board game Root A Game of Woodland Might and Right.
Potret board game Root A Game of Woodland Might and Right sedang dimainkan.
Dua pelanggan asyik bermain board game Imperium Legends.
Fitur board game yang lebih beragam.
Beberapa jenis board game level medium party yang disediakan Dhadhu Cafe.
Dhadhu Board Game Cafe tampak dari luar.
Team Dhadhu Cafe sedang meracik minuman pelanggan di cafe bar.
Game Master menjelaskan cara kerja dan konsep permainan kepada pelanggan cafe.
Ardiawan Bagus Harisa (kiri) founder Dhadhu Board Game Cafe bersama tim.

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Asal-usul Warmindo, Warung Mi Instan yang Berawal dari Burjo

31 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: