BerandaFoto Esai
Senin, 14 Jul 2024 09:00

Gebyok Ukir Jepara di Mata Amim Mustafi

Usaha gebyok ukir Jepara telah menjadi sumber pendapatan Amim Mustafi sejak lebih dari satu dekade lalu.

Lebih dari sedekade menggeluti usaha ini, apa makna gebyok ukir Jepara di mata Amim Mustafi?

Inibaru.id - Kabupaten Jepara di Jawa Tengah hingga kini masih konsisten menjadi salah satu pusat kerajinan ukiran kayu terbesar di Indonesia. Julukan ini terus melekat di kota berjuluk The World Carving Center ini diyakini karena para seniman ukir di sana terus mengalami regenerasi.

Bersisian dengan pekerjaan umum seperti petani, nelayan, dan buruh pabrik, menjadi perajin kayu ukir memang cukup lazim di Jepara, khususnya di wilayah timur. Salah satu karya yang paling banyak mereka garap adalah gebyok ukir.

Sedikit informasi, gebyok adalah dinding atau penyekat rumah yang biasanya terbuat dari kayu yang diukir. Gebyok menjadi ciri khas rumah adat Jawa, meski kini mulai banyak diaplikasikan pada rumah modern untuk memunculkan kesan njawani, estetik, dan "mahal".

Amim Mustafi adalah salah seorang perajin gebyok yang cukup dikenal di Jepara. Karyanya beragam dan pelanggannya pun banyak. Maklum, lelaki 25 tahun ini sudah lebih dari sedekade menggeluti seni ukir, mulai dari bekerja di tempat tetangganya hingga kini punya workshop sendiri.

"Sekitar lima tahun saya ikut (mengukir) di tempat tetangga. Setelah merasa bisa, saya coba bikin usaha sendiri karena mikir (manajemennya) bakal lebih mudah ," ujar lelaki asal Desa Pringtulis, Kecamatan Nalumsari tersebut kepada Inibaru.id belum lama ini.

Harus Sabar dan Telaten

Awal-awal menggeluti profesi ini diakui Amim tidaklah mudah. Menurutnya, mengukir gebyok memang nggak gampang karena karena membutuhkan kesabaran dan ketelatenan untuk menyelesaikannya. Perajin juga harus berhati-hati karena bahan baku pembuatan gebyok cukup mahal.

"Yang dipakai untuk gebyok biasanya adalah kayu jati. Satu gebyok umumnya butuh sekitar 2-3 meter kubik kayu dengan kisaran harga Rp2-3 juta per meter kubik," jelasnya sembari memperlihatkan tumpukan kayu jati yang belum diukir.

Perajin, lanjutnya, memulai pembuatan gebyok dengan memilih bahan yang sesuai, lalu memotong-motongnya menjadi balok sesuai ukuran. Setelahnya, kayu digambari pola tertentu yang nantinya akan menjadi pemandu untuk mengukir.

"Untuk pola bisa bermacam-macam, tergantung pesanan; bisa ukir Jawa atau Bali, wayang, bentuk Rama-Sinta, flora, fauna, hingga kaligrafi; meski yang ini (kaligrafi) masih jarang," papar Amim. "Kalau Jepara, yang paling terkenal adalah ukiran Majapahit."

Memakai Bahan Berkualitas

Menurut Amim, kayu jati sengaja dipilih sebab ia mampu bertahan hingga puluhan tahun. Kayu yang dipilih juga yang kualitasnya bagus. Ciri khasnya, kayu berwarna lebih gelap dan kandungan airnya nggak terlalu banyak.

"Kayu yang murah biasanya jati lokal, berwarna agak putih dengan kandungan air cukup banyak. Kalau yang bagus (berwarna gelap) harganya bisa 2-3 kali lipat lebih mahal (dari jati lokal)," kata dia.

Proses pengukiran, imbuh lelaki yang selalu tampak akrab dengan pekerjanya ini, membutuhkan waktu sekitar 1-2 hari. Setelahnya, kayu dirakit, dicek tingkat presisinya, dan diampelas beberapa tahap agar halus. Terakhir, proses finishing dengan memberi cat doff atau glossy.

"Jika sudah dicat, gebyok perlu menginap dulu di gudang sehari biar kering. Jadi, pembuatan satu gebyok secara keseluruhan kurang lebih butuh waktu dua mingguan lah," simpul dia.

Banyak Permintaan

Menurut Amim, pasar gebyok ukir di Indonesia cukup potensial. Namun, proses yang panjang dengan jumlah pekerja yang terbatas membuatnya acap kesulitan mengejar permintaan yang terburu-buru. Modalnya juga nggak cukup untuk memenuhi semua permintaan karena bahan baku gebyok mahal.

"Ini kan hasil kerajinan tangan, bukan cetak. Sementara, perajin kami terbatas," keluhnya. "Kami juga sudah senior semua karena anak muda lebih milih (kerja) di pabrik."

Namun demikian, dia mengaku tetap mensyukuri hasil yang sejauh ini telah dia dapatkan. Amim senang karena bisnisnya semakin dikenal luas lantaran selain mengandalkan penjualan offline, dia juga rajin berpromosi via Instagram. Ke depan, dia juga berencana aktif di Tiktok.

"Untuk pengiriman, kami biasanya pakai kargo atau pembeli datang langsung. Gebyok dikirim dalam bentuk pisah-pisah, nanti dirakit di sana," terangnya.

Melihat potensi pasar gebyok yang cukup besar tersebut, sangat disayangkan kalau proses regenerasi seniman ukir di Jepara mandek lantaran para pemudanya menyerah dengan profesi ini. Gimana menurutmu, Millens? (Alfia Ainun Nikmah/E03)

Proses awal pembuatan gebyok, membuat pola di kayu jati sebelum diukir.
Gunungan atau wayang menjadi salah satu motif yang paling banyak dipesan untuk gebyok ukir.
Berbagai alat ukir yang menjadi gaman para perajin gebyok di Jepara.
Kayu jati berkualitas baik menjadi kunci utama menciptakan gebyok ukir bernilai jual tinggi.
Proses pengampelasan hasil ukiran sebelum gebyok dicat.
Gebyok ukir sebelum dirangkai. Butuh ketelitian untuk memastikan tiap bagian sinkron atau presisi dengan bagian lain.
Proses pembuatan gebyok yang sudah melalui tahap pengecekan.
Amim Mustafi sedang mengenalkan motif Majapahit yang menjadi ciri khas gebyok ukir Jepara.
Untuk pengiriman, gebyok ukir dikemas dalam bentuk terpisah, lalu dirangkai setelah tiba di tujuan.
Usaha gebyok ukir Jepara telah menjadi sumber pendapatan Amim Mustafi sejak lebih dari satu dekade lalu.

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Di Korea Selatan, Siswa Pelaku Bullying Dipersulit Masuk Universitas

19 Jan 2026

Melegenda di Muntilan, Begini Kelezatan Bubur Mbah Gamping

19 Jan 2026

Terdampak Banjir, Warga Wonorejo Mulai Mengeluh Gatal dan Demam

19 Jan 2026

Antisipasi Doomscrolling, Atur Batas Waktu Youtube Shorts Anak dengan Fitur Ini!

19 Jan 2026

Opsi Layanan Kesehatan 'Jemput Bola' untuk Warga Terdampak Banjir Wonorejo

19 Jan 2026

Bijak Kenalkan Gawai dan Media Sosial pada Anak

19 Jan 2026

Bupati Pati Sudewo Kena OTT KPK! Terkait Kasus Apa?

19 Jan 2026

Jalur Pekalongan-Sragi Tergenang, Sebagian Perjalanan KA Daop 4 Semarang Masih Dibatalkan

19 Jan 2026

Cantiknya Pemandangan Air Terjun Penawangan Srunggo di Bantul

20 Jan 2026

Cara Unik Menikmati Musim Dingin di Korea; Berkemah di Atas Es!

20 Jan 2026

Kunjungan Wisatawan ke Kota Semarang sepanjang 2025 Tunjukkan Tren Positif

20 Jan 2026

Belasan Kasus dalam Dua Tahun, Bagaimana Nasib Bayi yang Ditemukan di Semarang?

20 Jan 2026

Ratusan Perjalanan Batal karena Banjir Pekalongan, Stasiun Tawang Jadi Saksi Kekecewaan

20 Jan 2026

Viral 'Color Walking', Tren Jalan Kaki Receh yang Ampuh Bikin Mental Anti-Tumbang

20 Jan 2026

Nggak Suka Dengerin Musik? Bukan Aneh, Bisa Jadi Kamu Mengalami Hal Ini!

20 Jan 2026

Duh, Kata Menkes, Diperkirakan 28 Juta Warga Indonesia Punya Masalah Kejiwaan!

21 Jan 2026

Jika Perang Dunia III Pecah, Apakah Indonesia Akan Aman?

21 Jan 2026

Ki Sutikno; Dalang yang Tiada Putus Memantik Wayang Klithik Kudus

21 Jan 2026

Statistik Pernikahan Dini di Semarang; Turun, tapi Masih Mengkhawatirkan

21 Jan 2026

Kabar Gembira! Tanah Sitaan Koruptor Bakal Disulap Jadi Perumahan Rakyat

21 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: