BerandaAdventurial
Jumat, 2 Okt 2025 14:47

Suasana Penuh Kesederhanaan di 'Rumah Terakhir' Sosrokartono di Kudus

Sunarto tengah memimpin doa bersama para peziarah di Makam Sosrokartono. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Nggak hanya menjadi bagian dari dirinya semasa hidup, kesederhanaan juga begitu kentara di tempat peristirahatan terakhir Sosrokartono di Kaliputu, Kabupaten Kudus.

Inibaru.id - Pagi belum beringsut pergi dan tanah yang diselimuti embun masih basah ketika saya tiba di kompleks permakaman di Desa Kaliputu, Kabupaten Kudus ini. Wangi kamboja menyebar di udara, menambah kesan syahdu pagi itu.

Melemparkan pandangan mengelilingi permakaman, nggak ada satu orang pun yang terlihat, kecuali sosok lelaki paruh baya berpeci hitam yang tengah khidmat menyapu dedaunan kering yang terserak di tanah. Namanya Sunarto, tapi lebih akrab disapa Mbah Narto.

Mbah Narto adalah juru kunci di kompleks pemakaman yang dikenal sebagai Pesaeran Sedo Mukti itu, yang di dalamnya terdapat makam Sosrokartono, kakak dari pahlawan nasional RA Kartini. Selain berziarah, pagi itu saya memang sengaja pengin bertemu dengan sosok yang seolah menyatu dengan pekerjaannya itu.

Sedikit informasi, makam Sosrokartono mudah dikenali karena sekitarnya sudah dipaving dan diberi naungan permanen. Bagian depan makam juga sudah diberi ambalan beralas karpet untuk tempat duduk peziarah. Meski sederhana, makam ini cukup bersih dan terawat.

“Sudah bertahun-tahun saya di sini,” ucap Mbah Narto ramah. “Tugas saya sederhana, yakni menjaga kebersihan, keamanan, dan menyambut siapa saja yang datang berziarah. Tapi di balik kesederhanaan itu, ada rasa tanggung jawab besar, karena yang saya jaga adalah jejak seorang tokoh besar.”

Saya sepakat menyebut Sosrokartono sebagai tokoh besar. Meski sosoknya mungkin nggak akan dikenang masyarakat awam tanpa menyebutkan nama RA Kartini, bagi saya, mendiang adalah sosok yang "nyaris legendaris".

Makam Sosrokartono. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Lahir pada 1877, dia tumbuh sebagai bocah bumiputera yang jenius. Sejak muda, Sosrokartono sudah akrab dengan teks Latin, puisi Virgilius, dan kitab-kitab Jawa kuno. Herry A Poeze, sejarawan Belanda, pernah mencatat bahwa Sosrokartono menguasai 26 bahasa; sembilan bahasa Timur dan 17 bahasa Barat.

Karena kepiawaiannya itu, dia bahkan sempat menjadi kepala penerjemah Liga Bangsa-Bangsa di Jenewa pada 1919. Orang Belanda bahkan sempat menjulukinya sebagai si Jenius dari Timur sekaligus Pangeran Jawa.

Jika menghendaki, banyak yang mengatakan bahwa Sosrokartono bisa hidup mewah di Eropa. Namun, Mbah Narto mengatakan, kejayaan intelektual itu nggak membuat dirinya lupa pada tanah kelahirannya. Pada akhirnya dia justru memilih pulang ke Nusantara.

“Beliau justru kembali, memilih jalan sunyi. Dari situ saya belajar, kebesaran bukan soal harta atau jabatan, tapi ketulusan,” tuturnya setelah meletakkan sapu dan mempersilakan saya duduk, matanya menerawang ke arah nisan junjungannya itu.

Kepulangan Sosrokartono pada 1925 memang menandai perubahan besar dalam hidupnya. Setelah sempat memimpin sekolah di Bandung, dia mendalami laku spiritual Jawa. Dia membuka praktik pengobatan tradisional, bukan dengan tarif tertentu, melainkan dengan filosofi "kantong bolong".

Artinya, siapa pun yang datang berobat boleh memberi seikhlasnya. Filosofi itu terangkum dalam ungkapan Jawa yang diwariskan Sosrokartono, yakni "Sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake".

Menurut Mbah Narto, falsafah yang berarti kaya tanpa harta, sakti tanpa jimat, menyerbu tanpa pasukan, dan menang tanpa merendahkan, inilah yang perlu dikenang dari sosok Sosrokartono, karena mengajarkan kesederhanaan dan kepedulian terhadap sesama.

"Banyak peziarah datang ke sini untuk mencari berkah, tapi yang sebenarnya diwariskan beliau adalah ajaran hidup sederhana dan peduli sesama. Itu yang harus diingat,” katanya.

Makam Sosrokartono. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Di dalam makam yang selalu dijaga kebersihannya itu, para peziarah kerap duduk diam, membaca doa, atau sekadar menyentuh nisan Sosrokartono. Menurut Mbah Narto, tiap pekan ada saja yang datang, baik dari Kudus maupun luar kota.

“Ada yang datang karena ingin tahu sejarah, ada pula yang mendengar bahwa beliau bisa menyembuhkan orang lewat doa dan air putih. Saya menerima mereka semua, memberi ruang untuk berziarah dengan tenang,” tutur Mbah Narto.

Dia percaya, menjaga makam ini bukan hanya urusan fisik, tetapi juga menjadi upaya menjaga ruh keteladanan. Kalau makam kotor, bagaimana orang bisa meresapi ajarannya? Inilah yang membuat Mbah Narto tetap bersemangat dan tekun menjaga kompleks permakaman itu.

Dalam banyak catatan, Sosrokartono memang menolak segala bentuk kemewahan duniawi. Fa menjadikan huruf “alif” sebagai simbol hidup—tegak lurus, sederhana, dan menghubungkan manusia dengan Tuhan.

Di situlah akar dari ajaran Ilmu Sunyi yang ditekuni Sosrokartono; yakni melepaskan diri dari ego, hasrat, dari keinginan duniawi yang berlebihan. Menurut Mbah Narto, keberadaan dirinya di tempat tersebut sedikit banyak juga terpengaruh oleh ilmu sunyi itu.

“Orang mungkin melihat saya hanya tukang bersih-bersih makam, tapi bagi saya, ini pengabdian. Kalau bukan saya yang merawat, siapa lagi?” ujar Mbah Narto sambil tersenyum.

Saya paham maksudnya. Saya ingin bertanya lebih banyak lagi, tapi saya urungkan karena beberapa peziarah mulai berdatangan. Mereka menyalami Mbah Narto, lalu duduk bersimpuh di depan makam. Saya senang melihat mantan jurnalis itu begitu dihormati di sini.

Sosrokartono pernah mengatakan, "Saya adalah manusia, oleh karena itu kemanusiaan tidaklah asing bagi saya." Ucapan itu bukanlah angin lalu, karena semasa hidupnya, sosok kharismatik ini memang sehumanis itu, termasuk ketika mendirikan tempat pengobatan untuk rakyat dengan bayaran yang nggak memberatkan.

Sosok yang mangkat pada 8 Februari 1952 itu menunjukkan kepada kita bahwa kecerdasan intelektual bisa berpadu dengan kedalaman spiritual untuk menjadikan pengabdian kepada kemanusiaan sebagai bentuk ibadah tertinggi. (Imam Khanafi/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Belajar Langsung dari Mbah Atemo, Belasan Anak Muda Lestarikan Mainan Tradisional Berbahan Kertas Bekas

6 Jul 2026

Mengenal Bunga Edelweiss Jawa, Si "Bunga Abadi" yang Justru Terancam Punah

6 Jul 2026

Dikira Bahasa Gaul, "Anjir" Justru Kosakata Lama Nelayan Pantura

7 Jul 2026

Penelitian Terbaru Ungkap Fakta Baru Manusia Hobbit Flores

8 Jul 2026

Muhammadiyah Resmikan KucingMu, Kampanyekan Kepedulian terhadap Hewan

9 Jul 2026

Pemerintah Tetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan, Ini Dasar Pertimbangannya

10 Jul 2026

BRIN Targetkan Luncurkan Satelit NEO-1 pada Januari 2027, Tonggak Kemandirian Teknologi Antariksa Indonesia

13 Jul 2026

Indonesia dan India Berkolaborasi Konservasi Candi Prambanan, Perkuat Pariwisata Budaya Kelas Dunia

14 Jul 2026

Warisan Sejarah Indonesia Kembali, Dua Arca Buddha Kuno Dipulangkan dari AS

14 Jul 2026

4 Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Makanan Berbahan Tepung Tapioka Terbaik 2026 Versi Taste Atlas

15 Jul 2026

Istana Kepresidenan Yogyakarta Kini Bisa Dikunjungi Gratis, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

16 Jul 2026

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: