BerandaAdventurial
Rabu, 31 Des 2019 11:00

Sarat Makna dan Nilai Sejarah, Wisata Religi di Vihara Budhagaya Watugong

Vihara Avalokitesvara atau Dhammasala, bagian inti Vihara Budhagaya Watugong. (Inibaru.id/ Audrian F)

Namanya adalah Vihara Budhagaya Watugong. Kalau kamu mencari tempat wisata religi atau sekadar spot foto keren, mampirlah ke sini.

Inibaru.id - Terakhir saya ke Vihara Budhagaya Watugong adalah saat kelas 4 SD. Kala itu dalam rangka piknik kecil-kecilan dengan teman sekelas. Memori yang paling membekas adalah ketika melihat patung Sidharta Gautama tidur. Pada saat itu saya takjub sekaligus bertanya-tanya kenapa sosok yang dikultuskan umat Budha itu patungnya tertidur.

Belasan tahun kemudian tepatnya pada Rabu (27/11) siang saya kembali berkunjung ke sana. Pada kunjungan kali ini saya ditemani oleh Kasiri. Dia adalah pengelola Vihara Budhagaya Watugong. Awalnya dia cerita banyak soal asal-usul Vihara Watugong ini.

Bagian dalam dari Dhammasala. (Inibaru.id/ Audrian F)

“Ini adalah vihara pertama sejak keruntuhan majapahit. Saat itu sekitar tahun 50-an. Belum langsung jadi bangunan begini. Tapi masih terbuat dari kayu dan sempat terbengkalai,” ucap Kasiri.

Pertama saya ditunjukan “Watugong”. Yakni sebuah batu yang erat kaitannya dengan vihara ini. “Ada dua versi sejarah tentang batu ini. Satu bedasarkan buku Babad Tanah Jawa yang ditemukan oleh Sunan Kalijaga, kemudian satunya lagi menurut umat Budha yang ditemukan oleh seorang hartawan bernama Goei Thwan Ling,” jelasnya.

Saya lalu ditunjukan satu per satu tentang apa saja yang ada di vihara ini. Masing-masing memiliki arti dan simbol tersendiri, baik dari bangunan maupun relief.

Patung Budha tidur. (Inibaru.id/ Audrian F)

Misalnya saja dari Vihara Avalokitesvara atau Dhammasala. Tempat ini adalah inti dari Vihara Budhagaya Watugong. Fungsinya untuk tempat puja bakti, penahbisan Samanera-Bikhu, ruang Samadhi, diskusi Dhamma. Di sini jugalah persatuan Budhiisme pada awalnya terhimpun.

Di situ juga ada sebuah relief yang bergambar ular, ayam jago, dan babi. Kata Kasiri relief itu penggambaran dari nafsu manusia, jadi harus diinjak sebelum masuk.

Kemudian ada rumah Kuti Samadhi. Itu adalah rumah samanera-samaneri saat berlatih Samadhi-meditasi. Oh, iya, samanera-samaneri itu istilah untuk santrinya umat Budha ya, Millens.

Beranjak dari situ saya ditunjukkan patung Sidharta Gautama yang tertidur. Nah, ini adalah patung yang pernah membuat saya takjub. Kasiri pun menjelaskan.

“Patung tersebut menggambarkan dhamma sempurna atau khotbah terakhir sebelum Sidharta Gautama menuju nirwana,” terang Kasiri. Ah, akhirnya saya mengerti!

Pagoda Avalokitesvara. (Inibaru.id/ Audrian F)

Kemudian saya diajak ke Pagoda Avalokitesvara. Tinggi 45 meter dan memiliki 7 tingkat. Sesuai tampilan luarnya, dalam pagoda pun berbentuk segi delapan. Terdapat patung Dewi Kwan Im atau yang disebut dengan Dewi Welas Asih dengan ukuran cukup besar di dalam pagoda tersebut. Pun di berbagai sisinya. Patung-patung itu dipasang menghadap ke berbagai arah mata angin agar segala kebaikannya tersebar di berbagai arah.

Di depan pagoda ada pohon Bhodi. Yang istimewa pohon tersebut dibawa langsung oleh seorang bhiksu dari Srilanka yang bernama Bhante Naradha pada 1955. Dia juga menanam satu pohon Bodhi di Istana Bogor dan tiga di Candi Borobudur. Kalau di Vihara Watugong jumlahnya ada dua.

Patung Dewi Kwan Im di dalam pagoda. (Inibaru.id/ Audrian F)

Masih banyak lagi bagian-bagian penting di Vihara ini, seperti Gerbang Sanchi, Tugu Asoka, dan Tugu Arya Athangika Magga. Semuanya memiliki arti penting bagi umat Budha.

Gimana seru kan? Kamu wajib berkunjung ke Vihara Budhagaya Watugong ini, Millens. Selain sebagai wisata religi, banyak spot foto yang instagenik lo. (Audrian F/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Aneka Festival Musim Semi di Korea Selatan yang Bisa Kamu Datangi

5 Mar 2026

Benar Nggak Sih Sawit Bakal Menyelamatkan Indonesia dari Krisis Energi Global?

5 Mar 2026

Wajibkan Pencairan Maksimal H-7 Lebaran, Jateng Aktifkan Posko THR untuk Pengaduan

5 Mar 2026

Uji Coba Bus Listrik untuk Transportasi Publik yang Inklusif dan Ramah Lingkungan

5 Mar 2026

Kekerasan Seksual vs Main Hakim Sendiri; Undip Tegaskan Nggak Ada Toleransi!

5 Mar 2026

Siap-Siap Gerah! Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering

5 Mar 2026

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

'Bom Nuklir' dan 'Perdamaian' yang Viral di Tengah Eskalasi Konfik Timur Tengah

6 Mar 2026

Saking Bekunya Musim Dingin, Warga Laut Baltik Berseluncur dari Satu Pulau ke Pulau Lain

6 Mar 2026

Bukan Emas Lagi; MUI Jateng Ubah Patokan Nisab Zakat Profesi

6 Mar 2026

Duduk Perkara Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip versi Polrestabes Semarang

6 Mar 2026

Oksigen Banyak dari Laut, Terus Kenapa Masih Ribut Soal Hutan?

6 Mar 2026

Tiket Mudik Ludes 400 Ribu! Cek Tanggal Favorit dan Kereta Pilihan di Daop 4 Semarang Ini

6 Mar 2026

Wisata Alam Kalikesek Semakin Ramai, Warga Desa Sriwulan Dapat THR

7 Mar 2026

Masjid Fujikawaguchiko, Tempat Salat dengan Latar Spektakuler Gunung Fuji di Jepang

7 Mar 2026

Sahur Tanpa Nasi Cuma Makan Lauk, Beneran Bikin Kuat Puasa Seharian?

7 Mar 2026

Ikan Air Tawar vs Ikan Laut: Siapa yang Paling Tahan Lawan Pemanasan Global?

7 Mar 2026

Aman Nggak Ya Mudik dengan Mobil Listrik?

8 Mar 2026

Membedah Mitos Minum Air Hangat Bisa Turunkan Berat Badan

8 Mar 2026

Restorative Justice Akhiri Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip Semarang

8 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: