BerandaAdventurial
Selasa, 29 Sep 2025 08:00

Pameran Pop-up Patiayam; Rerie Ajak Generasi Muda Menyapa Sejarah

Pameran Pop-up Patiayam sebagai pemungkas HUT Kudus. (Inibaru.id/ Anam)

Menggabungkan komunitas skuter dengan pameran pop-up, Scooter Green Patiayam menjadi cara kreatif untuk mengenalkan Situs Patiayam di Kudus kepada publik.

Inibaru.id - Halaman Museum Purbakala Patiayam, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah mendadak ramai pada Minggu (28/9/2025). Ratusan pengunjung tumpah ruah dalam acara Scooter Green Patiayam yang dikemas dengan cara yang unik.

Nggak hanya parade skuter dan aksi peduli lingkungan, event dalam rangka HUT Kudus ini juga diikuti dengan pameran yang merangkul Yayasan Dharma Bakti Lestari bersama Center for Palaeontology and Archaeological Studies (CPAS).

Pameran pop-up itu menampilkan artefak, foto, dan dokumentasi penelitian Situs Patiayam, menghadirkan jejak fosil dan kisah panjang peradaban manusia purba di kawasan Muria. Di tengah riuhnya anak muda berfoto dengan motor klasik mereka, terselip suasana reflektif: pengunjung diajak menyapa sejarah, membaca kembali catatan kehidupan yang terkubur jutaan tahun lalu di Patiayam.

Upaya merangkul khalayak, terutama anak muda, nggak lepas dari sosok Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR RI. Sejak beberapa tahun terakhir, perempuan yang akrab disapa Rerie itu memang telah konsisten menjadikan Patiayam bukan sekadar objek penelitian, melainkan sumber nilai kebangsaan.

“Bangsa yang besar menghargai sejarahnya,” ujar Rerie saat dihubungi via telepon, Minggu (28/9). "Patiayam adalah situs purbakala yang keberadaannya mampu mereproduksi kekayaan sejarah peradaban manusia untuk memperkokoh nilai-nilai kebangsaan yang kita miliki.”

Bukan Sekadar Tumpukan Fosil

Bagi perempuan yang merupakan anggota Komisi X DPR RI dari Dapil II Jawa Tengah itu, Patiayam bukan sekadar tumpukan fosil, tapi juga catatan perjalanan manusia yang masih bisa berbicara pada masa kini.

“Wilayah Patiayam adalah modal bagi masyarakat Kudus untuk memahami bahwa negara kita kaya dan bagaimana kita mampu menelisik lebih dalam peninggalan masa lalu,” jelas Rerie.

Patiayam, yang berada di Dukuh Kancilan, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus, merupakan bagian dari Pegunungan Muria. Hingga kini lebih dari 1.500 fosil ditemukan di kawasan tersebut. Salah satu temuan ikoniknya adalah gading gajah purba (Stegodon trigonocephalus).

Sejak ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah pada 2005, Patiayam terus mengundang perhatian akademisi, pecinta sejarah, hingga komunitas. Fosil di sini relatif utuh, berkat lapisan abu vulkanik halus yang memelihara jejaknya sejak ratusan ribu tahun silam.

Pameran sebagai Jendela

Pameran pop-up dalam gelaran Scooter Green Patiayam 2025. (Inibaru.id/ Anam)

Pameran dalam gelaran Scooter Green Patiayam 2025 ini menjadi cara kreatif untuk mengenalkan Patiayam kepada publik. Skuter antik yang berseliweran di lapangan justru menjadi pintu masuk anak muda untuk singgah di museum, menoleh ke koleksi, dan berdialog tentang sejarah.

“Menjadikan Situs Patiayam sebagai Cagar Budaya Nasional merupakan kerja bersama untuk memperjuangkan kemanusiaan,” tegas Rerie. "Semakin banyak orang muda terlibat, semakin kuat pula energi untuk melestarikan situs ini."

Menurutnya, penelitian dan pengelolaan situs purba Patiayam bukan hanya soal menggali masa lalu. Dia percaya, kesejahteraan masyarakat setempat bisa lahir dari pengelolaan yang serius.

“Semoga hasil dari penelitian mendalam terhadap situs Patiayam ke depan akan membuka mata para pemangku kepentingan agar lebih serius mengelola kawasan ini, agar masyarakat setempat lebih sejahtera,” harapnya.

Perpaduan yang Jarang Ditemukan

Skuter warna-warni yang terparkir di halaman, musik pop yang familiar di telinga anak muda, dan pameran yang mematut koleksi fosil berjajar, adalah perpaduan yang cukup unik karena menampilkan satu lanskap budaya yang jarang ditemukan.

Pameran pop-up ini memang digelar sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, mengikat sejarah dengan kepedulian ekologis, serta mengingatkan bahwa Patiayam bukan hanya milik para arkeolog, tetapi juga semua pihak yang ingin belajar tentang jati diri bangsa.

Pelestari fosil sekaligus pemandu di Museum Patiayam Ari Mustaqim mengatakan, kehadiran pameran dalam rangkaian Scooter Green Patiayam menjadi cara efektif mempertemukan publik dengan sejarah. Ditemui di tengah pameran, menurutnya dua hal itu ternyata "nyambung" saat disatukan.

“Biasanya pengunjung datang khusus ke museum, tapi dengan adanya pameran pop-up ini, orang yang awalnya tertarik dengan acara skuter bisa sekalian melihat fosil-fosil yang kami tampilkan. Jadi ada jembatan antara hobi anak muda dengan kesadaran sejarah,” ujarnya.

Gading Gajah Purba sebagai Primadona 

Di antara koleksi yang ditampilkan, Ari menyebut fosil gading gajah purba Stegodon trigonocephalus selalu jadi magnet. Dia menuturkan, sejauh ini fosil tersebut memang menjadi primadona museum. Ukurannya besar dan usianya mencapai ratusan ribu tahun.

"Saat dipamerkan di luar ruangan, pengunjung bisa lebih dekat mengamati detail teksturnya. Banyak yang baru kali pertama tahu kalau di Kudus pernah hidup gajah purba sebesar itu,” katanya. "Kami ingin mengatakan bahwa Patiayam bukan sekadar bukit, tapi ada cerita juga di dalamnya."

Selain fosil gajah, Ari menambahkan, pameran juga menghadirkan koleksi yang merekam kekayaan alam dan kehidupan purba di Patiayam; mulai dari fosil hewan laut, banteng, kerbau purba, hingga artefak batu hasil budaya manusia prasejarah.

"Kami ingin menunjukkan bahwa Patiayam adalah pusat cerita panjang tentang perubahan alam dan manusia yang pernah tinggal di sini. Jadi, kami harap kolaborasi ini (komunitas skuter dengan Patiayam) akan membuat generasi muda lebih akrab dengan sejarah, terpantik rasa ingin tahunya, dan punya kesadaran untuk melestarikan Patiayam," harapnya.

Yap, semoga harapannya terkabul dan ke depan sejarah nggak hanya tersimpan di lemari kaca, tapi juga hidup dalam ingatan para pengunjung. (Imam Khanafi/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: