BerandaAdventurial
Selasa, 26 Sep 2022 15:16

Oktoberfest; Kenapa Orang Jerman Suka Minum Bir?

Selama Oktoberfest berlangsung, orang-orang akan mengenakan pakaian tradisional dan menikmati bir sepuas-puasnya. (Oktoberfesttour)

Setelah vakum selama dua tahun, Oktoberfest akhirnya digelar lagi tahun ini. Pertanyaannya, kenapa orang Jerman begitu suka minum bir?

Inibaru.id - Moses Wolff dalam bukunya Meet Me in Munich mengatakan, masyarakat Munchen bisa bertahan dalam pelbagai kondisi buruk, tapi hampir nggak bisa hidup tanpa bir. Sedikit banyak hal ini menjelaskan kenapa Oktoberfest begitu meriah setiap tahun.

Perlu kamu tahu, Oktoberfest adalah festival bir tahunan terbesar di dunia yang digelar di Jerman, tepatnya di Theresienwiese, Munchen. Tiap tahun, festival yang biasanya berlangsung selama 16 hari sejak pertengahan September hingga awal Oktober ini selalu dibanjiri pengunjung, termasuk tahun ini.

Setelah vakum selama dua tahun akibat pandemi Covid-19, tahun ini Oktoberfest kembali digelar dan saat ini tengah berlangsung. Pembukaan festival yang agaknya ditunggu hampir tiap orang di Jerman itu berlangsung pekan lalu, Sabtu (17/9/2022), ditandai dengan teriakan, "O'zapft is!" oleh Walikota Munich Dieter Reiter.

Teriakan itu kemudian disertai penyadapan bir pertama dengan cara menancapkan semacam keran yang dipukul memakai palu. Segelas bir yang ditampung dari tong tersebut lalu diserahkan ke Perdana Menteri Bavaria Markus Soder sekaligus menandakan digelarnya kembali Oktoberfest.

Minum dan Bersenang-senang

Pembukaan festival bir terbesar di dunia, Oktoberfest yang ke-187 di Munich, Jerman, Sabtu (17/9/2022). (Reuters/Lukas Barth)

Namanya juga festival bir, tentu saja semua orang ke Oktoberfest untuk menikmati bir dan mabuk. Seperti kata Wolff, masyarakat Jerman memang nggak bisa lepas dari minuman beralkohol yang dibuat dengan teknik fermentasi tersebut.

Wolff menulis, jauh sebelum Oktoberfest digelar, orang Munchen sudah mengenal semacam perayaan minum bir bersama. Tradisi yang biasa dimulai pada Oktober tersebut digelar untuk menghabiskan stok bir yang ada sekaligus menandai musim baru pembuatan bir.

Pesta rakyat tersebut terus bertahan hingga sekarang. Di tenda-tenda besar, masyarakat dari berbagai kalangan bercengkerama, tertawa dan bersenang-senang sembari menenggak bir dan kudapan khas Bavaria. Ingar-bingar itu kian meriah dengan lantunan musik folk yang seperti nggak pernah berhenti.

Oya, satu ciri khas yang juga melekat dalam Oktoberfest adalah busana tradisional yang mereka kenakan; para perempuan memakai dirndl dress, sedangkan laki-laki mengenakan lederhosen atau celana kulit selutut. Lalu, mereka menari!

Sejarah Oktoberfest

Oktoberfest kali pertama digelar pada 12 Oktober 1810. (Yes-trips)

Oktoberfest kali pertama digelar pada 12 Oktober 1810. Namun, bentuknya belum seperti sekarang. Semula, festival ini merupakan pesta pernikahan antara pangeran Bavaria yang kelak menjadi Raja Ludwig I dengan Theresa, seorang putri dari Sachsen Hildburghausen.

Pesta selama enam hari itu dilangsungkan di tanah lapang di gerbang kota yang saat ini dikenal sebagai Theresienweise. Seluruh warga diundang, lengkap dengan jamuan makan dan minum tanpa henti, serta parade yang nggak ada habisnya; juga pacuan kuda yang menjadi hiburan utamanya.

Dikutip dari Tirto (12/10/2019), pesta rakyat yang terbilang sukses itu kemudian memantik para pejabat setempat untuk menggelar pesta rakyat serupa, tapi dengan konsep berbeda. Ludwig I menginginkan konsep adu kuat, tangkas, dan cepat; tapi sirkus, komedi putar, dan minum bir lebih menggiurkan.

Ludwig I sempat mencoba membatasi bir pada perayaan itu dengan menaikkan harga bir pada 1844, tapi ditentang keras oleh orang Munchen. Sejak itu, Oktoberfest justru menjadi lebih besar dan begitu identik dengan pesta bir. Pada 1896, tenda-tenda bir pun berdiri.

Oktoberfest menjadi incaran banyak orang di seluruh dunia karena menurut Beergembira, festival itu selalu menawarkan varian bir edisi terbatas dari enam bir lokal Bavaria, yakni Augustiner, Hacker-Pschorr, Hofrau, Lowenbrau, Paulaner, dan Spaten.

Kamu tertarik menyambangi Oktoberfest juga, Millens? Segera ke Jerman deh, mumpung pestanya belum berakhir! (Siti Khatijah/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: