BerandaAdventurial
Senin, 30 Nov 2025 13:00

Menjelajahi Kisah sang Pejuang Kesetaraan dari 5 Ruang Utama di Museum RA Kartini

Seorang pengunjung berada di ruang ke empat, dimana karya dan peran, serta peran intelektual dipamerkan. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Pendopo yang dulu adalah 'rumah pingit' Kartini kini beralih fungsi menjadi museum yang menceritakan tentang dirinya; terbagi dalam lima ruangan, membuatnya mudah dipahami pengunjung, termasuk mereka yang awam terhadap sosok pejuang kesetaraan di Indonesia ini.

Inibaru.id – Di balik keteduhan kompleks Dalem Kabupaten Jepara, berdiri sebuah rumah tua yang menyimpan lebih dari sekadar artefak sejarah. Di ruang-ruang senyap inilah jejak langkah para pemikir muda Jawa pernah bergema di penghujung abad ke-19.

Menurut peneliti Kartini sekaligus storyteller di Museum Kartini Jepara, Susi Ernawati, rumah ini bukan hanya tempat tinggal keluarga bangsawan, melainkan juga “ruang kerja gagasan”; tempat ide-ide tentang keadilan dan kemajuan pernah hidup, tumbuh, dan berdebat.

Saat memandu tur kecil di Museum Kartini beberapa waktu lalu, Susi menelusuri setiap ruang bukan sebagai lokasi pasif, melainkan node intelektual yang membentuk karakter dan cara pandang keluarga Sosroningrat.

“Kalau mau memahami Kartini, kita harus memahami ruang-ruang di mana ia tumbuh,” ujarnya.

Seorang pengunjung sedang mengabadikan foto lama tentang karya batik dipamerkan. (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Menurut Susi, Jepara pada akhir abad ke-19 adalah kota pelabuhan yang dinamis. Perdagangan dan perjumpaan antara Eropa-Jawa membuatnya lebih maju dibanding kota kabupaten lain.

“Lingkungan seperti itu yang dilihat Kartini sejak kecil, yang belajar bahwa dunia itu lebih luas dari halaman rumah, dan perubahan selalu mungkin,” kata Susi menggebu-gebu.

Museum Kartini di Jepara secara resmi diresmikan oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, pada Sabtu malam, 15 November 2025. Museum ini berlokasi di kompleks Pendopo Kabupaten Jepara, yang memang memiliki nilai sejarah karena pernah menjadi tempat tinggal RA Kartini.

“Ada lima ruangan yang bisa kita jelajahi di museum ini. Ruang pertama menjelaskan Jepara lama; ruang kedua, ruang tentang keluarga Sosroningrat; sedangkan ruang ketiga adalah karya dan peran,” jelas Susi mengawali tur.

Seorang pengunjung sedang melihat teman-teman Kartini yang sering berkirim surat yang dipamerkan. (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Sementara itu, dia melanjutkan, ruang keempat merupakan ruang karya dan peran serta ruang intelektual. Adapun untuk ruang kelima adalah serambi belakang (batik dan sekolah).

“Intinya, rumah intelektual. Rumah yang melahirkan sosok-sosok hebat dalam berliterasi sehingga bisa mengubah dunia,” kata Susi.

Jepara menjadi ruang pertama yang dijelaskan Susi sebagai kesadaran akan dunia luar, sebuah fondasi yang kelak memberi bentuk pada kerinduan Kartini terhadap pendidikan, kebebasan berpikir, dan kemajuan perempuan.

Di ruang keluarga terpajang sebuah foto yang jarang disebut dalam narasi resmi: Mas Adjeng Ngasirah, istri pertama Bupati Sosroningrat sekaligus ibu kandung Kartini.

“Ini perempuan yang sering luput dalam cerita besar,” ucap Susi sambil menunjuk foto itu.

Seorang pengunjung melihat repro batik karya Kartini yang dipamerkan. (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Ngasirah, putri pasangan Kyai Modirono dan Nyai Hajjah Siti Aminah, adalah ibu dari empat putra dan empat putri. Dalam rumah tangga yang diawasi istri padmi, Ngasirah tetap hadir sebagai pusat moral, hangat, religius, dan ulet.

Di ruang sederhana inilah tiga perempuan muda terpelajar membaca surat kabar Belanda, membahas isu kolonial, menulis esai, dan saling mengkritik gagasan. Mereka menciptakan apa yang disebut intellectual household. Tidak banyak rumah bangsawan Jawa yang punya dinamika seperti ini.

Dari ruangan itu pula lahir tulisan-tulisan awal Kartini yang dimuat di De Echo, jauh sebelum dia dikenal lewat Habis Gelap Terbitlah Terang. Beberapa judul yang Susi sebutkan, yakni Het Huwelijk bij de Kodjas dan Een Oorlogsschip op de Ree, menunjukkan upaya Kartini muda melatih nalar kritisnya.

Ruang terakhir yang dikunjungi adalah serambi belakang, sebuah bagian rumah yang tampak paling sederhana. Namun, justru di sinilah, menurut Susi, ide-ide Kartini bertemu langsung dengan pengalaman hidup perempuan Jepara.

Beberapa pengnjung sedang menikmati ruang-ruang di museum. (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Di serambi inilah foto-foto untuk artikel Het Blauw Verfen diambil, yang kemudian menjadi bagian penting dalam buku klasik De Batik Kunst in Nederlandsch-Indië. Namun, bagi Susi, nilai ruang ini lebih dari sekadar latar foto.

“Serambi belakang sampai regol (pintu gerbang) dulu adalah ruang belajar, ruang bekerja, ruang perempuan berkumpul, bahkan ruang produksi batik. Kartini melihat kerja para perempuan, mendengar cerita mereka, memahami beban sosial yang mereka tanggung,” jelas Susi.

Dari ruang sederhana inilah gagasan Kartini tentang pendidikan, kemandirian, dan pemberdayaan perempuan semakin terasah.

Seorang pengunjung berada di ruang kedua, terpampang foto-foto keluarga Sosroningrat dipamerkan. (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Dia mengingatkan bahwa api intelektual nggak padam setelah Kartini wafat. Roekmini, Kardinah, dan Soematri meneruskan estafet gagasan, salah satunya lewat tulisan mereka Panggilan untuk Jong Java.

“Gagasan tidak mati. Ia hanya menunggu untuk didengarkan lagi,” tutup Susi, masih dengan gaya bicaranya yang khas.

Kini, museum ini berdiri bukan hanya sebagai destinasi sejarah, tetapi juga pengingat, bahwa perubahan besar sering lahir dari ruang-ruang kecil yang sunyi, tempat pikiran bekerja diam-diam.

Kalau ke Jepara, mainlah ke Museum RA Kartini dan rasakan sendiri sensasi menggelegak dari api intelektual yang nggak pernah paham di rumah tersebut. (Imam Khanafi/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Blok GM, Surga Anak Skena, dan Wajah Baru Kota Semarang saat Malam

9 Apr 2026

Puting Beliung Terjang Banyumanik, Pemkot Semarang Akan Perbaiki Rumah Warga Terdampak

9 Apr 2026

Kembalikan Ruh, Tiket Masuk Resmi Ditiadakan dalam Tradisi Bulusan

9 Apr 2026

Pecinan Semarang Bakal Dikelilingi Arak-arakan 50 Kelenteng Akhir Pekan Ini!

10 Apr 2026

30 Persen Jemaah Haji asal Semarang Masuk Kategori Muda, Puluhan di Antaranya Gen Z

10 Apr 2026

Kolaborasi AMSI dan Meta untuk Dukung Jurnalisme Berkualitas

10 Apr 2026

Jaga Produksi, Pengusaha Tahu Semarang Putar Otak saat Harga Kedelai dan Plastik Naik

10 Apr 2026

Ogah Cuma Jadi Formalitas, Sumanto Pengin Bedah LKPJ 2025 Hasilkan Solusi Nyata buat Jateng

11 Apr 2026

Investasi buat Anak Cucu, Sumanto Ajak Relawan Jaga Kali-Rawat Bumi

12 Apr 2026

Kecelakaan (Lagi) di Silayur Semarang, Mau sampai Kapan?

12 Apr 2026

Bernuansa Spiritual, Tradisi Kirab Kelenteng di Pecinan Semarang

13 Apr 2026

Lansia Dominasi Calhaj Asal Semarang, Kesehatan jadi Tantangan Serius

13 Apr 2026

ASN Jateng WFH Tiap Jumat, Sumanto: Jangan Sampai Pelayanan Publik Malah Libur

13 Apr 2026

Dishub Perketat Akses Masuk ke Silayur, Dua Portal Disiapkan untuk Batasi Truk Tronton

14 Apr 2026

Forbasi Matangkan Struktur Organisasi via Rakernas dan Sertifikasi Juri-Pelatih

14 Apr 2026

Ikhtiar Warga Silayur, Kembalikan Tradisi Ruwatan untuk Keselamatan Pengguna Jalan

14 Apr 2026

Grup Cowok: Batas Tipis antara Bercanda dan Pelecehan Seksual

15 Apr 2026

Menanti Surpres, Nasib RUU PPRT Kini di Tangan Presiden

15 Apr 2026

Temuan Fosil Purba di Bumiayu, Diduga Lebih Tua dari Sangiran

16 Apr 2026

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: