BerandaAdventurial
Jumat, 19 Sep 2024 10:13

Menghidu Aroma Bunga Kopi di Lereng Selatan Gunung Ungaran

Bunga kopi mekar pada Agustus-September. (Inibaru.id/ Arie Widodo)

Pada Agustus-September, warga lereng Gunung Ungaran menghirup aroma harum di dekat ladang tempat mereka bekerja. Aroma tersebut berasal dari bunga dari kebun-kebun kopi yang sudah banyak yang terbengkalai.

Inibaru.id – Semenjak seminggu yang lalu, saya memang sudah mulai menyadari keberadaan bunga kopi yang mulai mekar. Persis di samping makam Desa Jubelan, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, kebun kopi mulai menunjukkan warna yang kontras dari biasanya. Meski begitu, aroma khas bunga kopi yang biasanya sangat kuat masih belum tercium.

Menurut keterangan salah seorang warga setempat, Afif, pada Mongso Karo dalam Pranoto Mongso alias Kalender Musim Jawa, bunga kopi akan bermekaran di sana.

“Mongso karo, antara Agustus-September, biasanya bunga kopi mekar,” ucapnya pada Selasa (17/9/2024).

Meski warga desa tersebut sudah jarang yang mengurus kopi dan membiarkan banyak kebun-kebun kopi di sana terbengkalai karena terlalu sibuk mengurus ladang sayur, mereka tahu kalau pada saat Mongso Karo alias puncak musim kemarau mulai berakhir, aroma bunga kopi yang semerbak bakal sering tercium di ladang-ladang yang dekat dengan kebun kopi.

Hal inilah yang kemudian saya alami sendiri tatkala akan menggiling padi di Desa Kalibanger. Saat memakai sepeda motor melewati jalan tembus di antara kebun kopi pada Rabu (18/9), terlihat jelas bunga kopi yang berwarna putih menghiasi kebun kopi yang dominan dengan warna hijau tua.

Nggak hanya membuat pemandangan kebun kopi tersebut jadi cantik, aroma bunga kopi yang khas begitu kuat sampai membuat saya memilih untuk menghentikan laju sepeda motor dan mematikan mesin. Sejenak, saya menikmati aroma dan pemandangan yang biasanya hanya ada beberapa pekan dalam setahun ini sebelum kembali melaju ke tempat penggilingan padi.

Bunga kopi memiliki aroma semerbak yang kuat. (Ajnn/Eri Tanara)

Di tempat tujuan saya, sembari menunggu padi yang saya bawa berubah menjadi beras, saya bertemu dengan Sutoyo, warga Desa Kalibanger. Dia membawa sewadah biji kopi yang sudah dipanen beberapa bulan sebelumnya. Biji kopi yang sudah dijemur ini juga dia giling di tempat tersebut untuk kemudian dijual ke tengkulak.

“Kalau kopi yang sudah dijemur dan digiling, bisa saya jual sampai Rp50 ribu, Rp60 ribu, kadang lebih per kilogramnya. Kalau saya jual langsung berupa biji yang dipanen dari pohon, paling Rp15 ribu atau Rp20 ribuan saja per kilogram,” ceritanya.

Sutoyo hanyalah salah seorang dari sedikit petani yang masih mau merawat pohon kopi di Sumowono, Jawa Tengah. Padahal, semenjak diperkenalkan orang Belanda bernama Grass Valk pada 1904, kopi sempat jadi salah satu komoditas andalan di lereng selatan Gunung Ungaran. Sayangnya, sejak 1987, petani di Sumowono beralih fokus ke sayuran yang mampu memberikan hasil lebih menjanjikan dengan masa tanam yang jauh lebih pendek.

“Hasil kopi yang saya jual sebagai penambah pendapatan untuk keperluan sehari-hari. Kalau jadi pendapatan utama nggak cocok,” terang Sutoyo.

Yang pasti, layaknya saya, Sutoyo juga mengakui suka menghirup aroma bunga kopi yang mekar dalam sepekan belakangan. Apalagi, saat ada keperluan ke Bedono, Kabupaten Semarang, dia pasti melewati jalan yang di sisi kiri dan kanannya adalah kebun kopi.

“Enak banget itu, mas. Orang-orang kan kebanyakan suka aroma kopinya kalau sudah diseduh. Padahal, aroma bunga kopinya nggak kalah mantap,” pungkasnya sembari pulang membawa kopi yang sudah digiling.

Di jalan pulang, saya sengaja kembali melewati kebun kopi seperti sebelumnya. Di sana, kembali sejenak saya berhenti untuk menikmati aroma yang yang mungkin baru bisa muncul lagi setahun ke depan. (Arie Widodo/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: