BerandaAdventurial
Jumat, 16 Okt 2025 14:10

Jejak Trah Citrosoma, Era Kepemimpinan Jepara Dua Abad setelah Ratu Kalinyamat

Pintu masuk ke pemakaman Citrosoma di Sendang Jepara (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Jejak panjang kekuasaan Jepara yang berpusat di Desa Sendang memunculkan cerita, mulai dari heroisme Ratu Kalinyamat hingga Ki Wuragil Djiwosuto dua abad setelahnya yang melahirkan trah Citrosoma.

Inibaru.id - Menjadi suksesor Ratu Kalinyamat yang namanya begitu populer di seantero Nusantara tentu bukanlah tugas yang mudah. Namun, sepertinya Jepara memang selalu diberkahi pemimpin yang luar biasa. Salah satunya adalah trah Citrosoma yang muncul sekitar dua abad setelah pahlawan nasional itu mangkat.

Kalau kamu pernah ke Jepara, kompleks permakaman keturunan Citrosoma yang mulai memerintah Jepara pada awal abad ke-18 itu berlokasi di Desa Sendang, Kecamatan Kalinyamatan; wilayah pesisir yang dulu diyakini sebagai pusat pemerintahan Kota Ukir.

Keberadaan Desa Sendang sebagai pusat pemerintahan nggak lepas dari legenda terbentuknya wilayah itu, yang begitu dikenal luas di kalangan masyarakat setempat. Menurut warga, nama "Sendang" diambil dari sebuah keajaiban kecil yang pernah muncul di lokasi tersebut.

Kisah itu bermula ketika warga tengah menggali tanah di kawasan pesisir itu. Namun, alih-alih menemukan air asin, dia justru menjumpai mata air tawar muncul dari dalam lubang galian. Air yang berharga ini kemudian ditampung menjadi sendang atau kolam air, sekaligus menamai daerah tersebut sebagai Desa Sendang.

Keberadaan mata air itu membuat tempat ini menjadi persinggahan, bahkan menjadi pusat pemerintahan, termasuk berdirinya Keraton Kalinyamat yang dikenal karena perputaran ekonominya yang bagus dan armada lautnya yang begitu kuat.

Kompleks Makam Citrosoma

Komplek pemakaman Citrosoma di Sendang Jepara (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Menjadikan Desa Sendang sebagai pusat pemerintahan agaknya masih terus dilakukan hingga ratusan tahun kemudian, termasuk saat trah Citrosoma dipercaya sebagai penguasa Jepara sekitar 1700-an. Bukti keberadaannya bisa dilihat dari Kompleks Makam Citrosoma yang berlokasi di desa tersebut.

Kompleks Makam Citrosoma tampak seperti si renta yang hidup dalam kesunyian, tapi terasa teduh karena dinaungi sejumlah pohon dengan jari-jari percabangan yang begitu banyak dan menghitam serta kulit yang telah berkerut dimakan waktu.

Deretan nisan batu yang kusam dan berlumut mungkin usianya sepantaran dengan pohon-pohon itu. Pun demikian dengan bangunan Masjid Annur yang ubinnya begitu dingin, terlihat bersahaja dengan satu menara untuk mengumandangkan azan yang berdiri di sisi barat makam.

Masjid yang dibangun pada masa Citrosoma III ini diyakini sebagai salah satu yang tertua di Jepara. Struktur bangunannya telah beberapa kali direnovasi, tapi jejak arsitektur lamanya masih terasa: tiang-tiang kayu jati, atap tumpang tiga dan ornamen ukiran sederhana yang menandai estetika Islam pesisiran abad ke-18.

Sepelemparan batu dari masjid itu, deretan nisan yang berjajar rapi terpahat nama-nama trah Citrosoma yang pernah menjadi adipati Jepara, mulai dari mendiang Ki Wuragil Djiwosuto yang kemudian dikenal sebagai Adipati Citrosoma I hingga sembilan keturunannya.

Ihwal Mula Trah Citrosoma

Komplek pemakaman Citrosoma di Sendang Jepara (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Ki Wuragil Djiwosuto adalah pengawal Sultan Agung Mataram yang dikenal karena keberaniannya meredam ontran-ontran di pesisir utara Jawa, termasuk menumpas pasukan Belanda yang mencoba menguasai wilayah pesisir bersama para adipati dari Probolinggo hingga Tegal.

Atas jasanya, Pakubuwono I memberinya gelar Bupati Prangwadono beserta sebilah keris pusaka bernama Kyai Bethok. Dia kemudian diberi gelar Adipati Citrosoma I dan diangkat sebagai Bupati Jepara pada 1708 menggantikan Adipati Soedjonopoera.

Sejak saat itulah nama Citrosoma menjadi gelar turun-temurun sebagai penguasa Jepara, yang berlangsung hingga sembilan keturunan. Juru kunci Kompleks Makam Citrosoma mengatakan, semasa hidup, Adipati Citrosoma I nggak hanya dikenal sebagai penguasa wilayah, tapi juga tokoh spiritual.

“Beliau itu orangnya wirasat, sakti, tapi rendah hati. Karena itulah tempat ini selalu ramai peziarah,” ujar sosok yang memilih disebut sebagai Mbah Kuncen itu kepada Inibaru.id, belum lama ini.

Sekilas melihat, makam trah Citrosoma tampak sederhana dengan sedikit penanda kebangsawanan seperti jirat atau kijing yang besar dengan hiasan makuta gepeng di puncaknya. Jirat besar inilah yang membedakan mereka dengan "penghuni" lain di permakaman tersebut.

Ramai pada Bulan Agustus

Komplek pemakaman Citrosoma di Sendang Jepara (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Salah satu nisan yang paling mudah dikenali adalah makam Adipati Citrosoma VII, yang bernama lahir Raden Mas Soedargo, yang memimpin Jepara hingga akhir abad ke-19. Di dekatnya ada Citrosoma VI, bupati Jepara periode 1810–1850 yang bernama asli Ki Noto.

Oya, salah satu yang menarik di kompleks permakaman ini adalah keberadaan nisan RMAA Sosroningrat (Bupati Jepara pada 1881) dan Mas Ayu Ngasirah, kedua orang tua RA Kartini yang sejatinya juga terdapat di kompleks permakaman Sedo Mukti, Kaliputu, Kabupaten Kudus.

Namun, terlepas dari misteri yang hingga kini belum terpecahkan tersebut, Kompleks Makam Citrosoma adalah salah satu "arsip" dari penggalan periode kekuasaan di Jepara yang begitu berharga bagi warga setempat.

Jika mereka menjadi penguasa yang lalim selama menjabat, trah Citrosoma mungkin kini sudah dilupakan warga Jepara. Namun, kemeriahan haul Citrosoma pada bulan Agustus yang selalu dihadiri ratusan peziarah menjadi tanda bahwa mereka dikenang sebagai sosok yang positif sejauh ini.

Di antara nisan-nisan tua dan suara azan dari Masjid Annur, kompleks permakaman ini bukan sekadar tempat peristirahatan, tapi buku terbuka yang mencatat sejarah Jepara selama era kolonialisme, termasuk kisah heroik dan kebijaksanaan yang melekat di dalamnya. Ada yang pernah ke sini, Gez? (Imam Khanafi/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Blok GM, Surga Anak Skena, dan Wajah Baru Kota Semarang saat Malam

9 Apr 2026

Puting Beliung Terjang Banyumanik, Pemkot Semarang Akan Perbaiki Rumah Warga Terdampak

9 Apr 2026

Kembalikan Ruh, Tiket Masuk Resmi Ditiadakan dalam Tradisi Bulusan

9 Apr 2026

Pecinan Semarang Bakal Dikelilingi Arak-arakan 50 Kelenteng Akhir Pekan Ini!

10 Apr 2026

30 Persen Jemaah Haji asal Semarang Masuk Kategori Muda, Puluhan di Antaranya Gen Z

10 Apr 2026

Kolaborasi AMSI dan Meta untuk Dukung Jurnalisme Berkualitas

10 Apr 2026

Jaga Produksi, Pengusaha Tahu Semarang Putar Otak saat Harga Kedelai dan Plastik Naik

10 Apr 2026

Ogah Cuma Jadi Formalitas, Sumanto Pengin Bedah LKPJ 2025 Hasilkan Solusi Nyata buat Jateng

11 Apr 2026

Investasi buat Anak Cucu, Sumanto Ajak Relawan Jaga Kali-Rawat Bumi

12 Apr 2026

Kecelakaan (Lagi) di Silayur Semarang, Mau sampai Kapan?

12 Apr 2026

Bernuansa Spiritual, Tradisi Kirab Kelenteng di Pecinan Semarang

13 Apr 2026

Lansia Dominasi Calhaj Asal Semarang, Kesehatan jadi Tantangan Serius

13 Apr 2026

ASN Jateng WFH Tiap Jumat, Sumanto: Jangan Sampai Pelayanan Publik Malah Libur

13 Apr 2026

Dishub Perketat Akses Masuk ke Silayur, Dua Portal Disiapkan untuk Batasi Truk Tronton

14 Apr 2026

Forbasi Matangkan Struktur Organisasi via Rakernas dan Sertifikasi Juri-Pelatih

14 Apr 2026

Ikhtiar Warga Silayur, Kembalikan Tradisi Ruwatan untuk Keselamatan Pengguna Jalan

14 Apr 2026

Grup Cowok: Batas Tipis antara Bercanda dan Pelecehan Seksual

15 Apr 2026

Menanti Surpres, Nasib RUU PPRT Kini di Tangan Presiden

15 Apr 2026

Temuan Fosil Purba di Bumiayu, Diduga Lebih Tua dari Sangiran

16 Apr 2026

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: