BerandaAdventurial
Jumat, 31 Des 2020 11:00

Internet dan Cerita dari Tepi Sungai Mahakam

Tepian sungai Mahakam. (Dok. Metro TV)

Sungai yang membelah Kalimantan Timur ini menjadi penopang kehidupan penduduk di desa-desa kecil. Dari pelabuhan-pelabuhan di Sungai Mahakam ini, pasokan sembako didistribusikan. Kini, berkat internet, proses pengiriman bahan pokok berjalan lancar.

Inibaru.id - Tepian Sungai Mahakam Samarinda cukup sibuk hari itu. Awak kapal barang saling bahu membahu menurunkan barang pesanannya. Sesekali tangan mereka mengusap peluh yang mengucur dari dahi.

Bergeser sedikit ke Terminal Penumpang PT Pelindo tempat kapal-kapal besar berlabuh, para penumpang dari kota-kota lain mendarat. Mereka datang dengan berbagai tujuan.

Tim Bakti Untuk Negeri Ekspedisi Kalimantan mungkin nggak jauh beda dengan para penumpang itu. Tujuan Tim menginjakkan kaki ke Samarinda hendak melihat bagaimana pemanfaatan jaringan internet di Kalimantan. Sejak 2018 lalu, Badan Aksesibilitas Teknologi dan Informasi (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah membangun jaringan internet di sana.

Sungai Mahakam, sungai penopang perekonomian. (Dok. Metro TV)<br>

Seperti kata H Iwan, di pelabuhan, jaringan internet tentu punya peran penting, terutama dalam arus perdagangan.

Menurut pengusaha jasa ekspedisi ini, sebelum ada internet, barang kiriman sering kacau. Salah alamat dan perkiraan waktu yang sering nggak tepat merupakan aneka drama yang harus dilaluinya. Namun itu dulu.

“Sekarang ada bantuan handphone dan sinyal jadi serba mudah. Bisa saling koordinasi dengan pemilik barang. Sinyalnya juga sudah bagus,” ujarnya.

Usai mengulik area pelabuhan, tim ekspedisi ngobrol sebentar dengan plt Kadsi Kominfo Kaltim, Diddy Rusdiansyah. Kalau kata Diddy, sekitar 10 perkotaan atau kabupaten di Kaltim sebetulnya nggak punya masalah berarti dengan internet. Terutama seperti Samarinda, Kutai, Balikpapan dan Bontang.

“Tapi tetap ada daerah-daerah yang masih susah. Kami bersama Bakti terutama, akan terus berupaya untuk menjangkau daerah-daerah yang masih susah sinyal,” ucapnya.

Kaltim juga bersiap menyongsong rencana Pemerintah untuk menjadi ibukota di tahun 2024 nanti. Jika akan jadi ibukota, Kaltim secara potensi sumber daya alam siap dan maka dari itu, bersama Bakti perlu penambahan infrastruktur telekomunikasi dan internet.

Suku Dayak, salah satu suku di Kalimantan dengan budaya yang khas. (Dok. Metro TV)<br>

Mendorong Potensi Wisata

Berkunjung ke Mencoba mencari tahu secara langsung perkataan Diddy Rusdiansyah tadi, Tim ekspedisi mengunjungi Desa Wisata Pampang. Di desa ini memegang tradisi suku dayak yang kuat. Oleh karena itulah, Desa Pampang mempromosikan tradisi Dayak menjadi daya tarik wisata.

Di Desa Pampang, internet sebetulnya sudah masuk pada 2007-2008 lalu. Sayangnya belum optimal. Barulah semua berubah ketika Bakti mulai berbenah.

“Kami sangat terbantu sekali dengan adanya internet. Dulu promosi hanya dari mulut ke mulut saja. Sekarang bisa melalui Instagram dan juga Facebook,” tuturnya.

Perjalanan Tim masih berlanjut. Usai dari Pampang, Tim menuju Tenggarong, Kutai Kartanegara yang juga dilintasi oleh Sungai Mahakam. Kota ini tampak sangat bersih.

Saban tahun, Tenggarong menyelenggarakan Upacara Adat Erau yakni sebuah ritual adat yang memohon rahmat bagi seluruh alam ciptaan. Para raja dan Sultan se-Asia Tenggara berkumpul di Museum Mulawarman. Tujuannya untuk mengenalkan Kerajaan Kutai ke mata dunia.

Internet turut mempromosikan kebudayaan Kalimantan. (Dok. Metro TV)<br>

Setelah dari museum Tim menuju ke sebuah desa yang cukup terpencil. Namanya adalah Desa Budaya Kedang Ipil. Desa ini adalah yang paling tua di Kutai Kartanegara.

Sama seperti Desa Pampang tadi, masyarakat Kedang Ipil juga memegang erat budaya leluhur. Salah satu tradisi yang terus dipertahankan adalah Parung Perang. Yakni pertunjukan ketangkasan yang melibatkan dua lelaki dewasa unjuk bertarung dengan menggunakan perisai. Sungguh tradisi yang menakjubkan.

Meskipun desa ini berada di pelosok, tapi internet sudah masuk sejak 2019. Sejak saat itu juga, aksesibilitas telekomunikasi jadi serba mudah.

“Dulu kalau butuh komunikasi susah. Harus naik bukit dulu untuk dapat sinyal. Itupun juga kadang nggak dapat juga,” kata Sartin, sekretaris adat.

Hm, semoga keberadaan internet bisa membuat desa-desa di sekitar Mahakam juga ikut maju ya, Millens. (IB28/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: