BerandaAdventurial
Rabu, 26 Jul 2022 20:00

Gerimis, Pasar Semawis, dan Rasa Rindu yang Nggak Habis-Habis

Pasar Semawis atau juga disebut Warung Semawis digelar di sepanjang Gang Warung, Pecinan Semarang. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Pasar Semawis yang kembali dibuka setelah dua tahun pandemi sukses membawa saya bernostalgia, mengulang rindu yang nggak habis-habis meski malam itu rada gerimis.

Inibaru.id - Sabtu malam kelabu. Gerimis sempat turun di tengah perjalanan saya menuju Pecinan Semarang, belum lama ini. Namun, hal itu agaknya nggak menghentikan langkah orang-orang untuk memeriahkan malam di Pasar Semawis, tempat yang juga saya tuju.

Begitu mendengar kabar bahwa pasar malam di jantung pecinan itu sudah kembali dibuka setelah dua tahun vakum didera pandemi, saya nggak bisa menahan kerinduan bertandang ke sana. Saya rindu pada membaurnya orang-orang dari berbagai usia, etnis, agama, dan latar belakang di sana.

Memasuki bilangan Kranggan, kendaraan mulai mengular; sebagian berjalan pelan, sisanya diparkir di bahu Jalan Wachid Hasyim. Saya yang gagal mencapai Gerbang Pecinan pun akhirnya memutuskan memarkir kendaraan sekitar 500 meter dari sana.

"Wah, nek Sebtu ngene rame, Mbak! Wingi lha sepi!" kata seorang juru parkir dengan logat Jawa Semarangan, yang intinya mengatakan bahwa kalau Sabtu tempat itu memang ramai, nggak seperti Jumat.

Anak muda Semarang menjadikan Semawis sebagai salah satu tempat untuk mengisi malam pada akhir pekan. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Saya sebetulnya sudah menduganya. Pasar yang digelar saban Jumat, Sabtu, dan Minggu itu pasti bakal diserbu pengunjung pada akhir pekan. Namun, pengunjung malam itu yang didominasi anak muda rupanya jauh melebihi dugaan saya.

Meski begitu, agak lega rasanya karena sebagian orang masih bermasker. Kalaupun ada yang abai, beberapa petugas patroli akan segera menegur mereka. Saya pun bisa leluasa melepas rindu di pasar yang sudah digelar sejak 2004 tersebut.

Nggak pengin buru-buru jajan, saya memilih berjalan pelan hingga ujung Gang Warung, menikmati hiasan lampion dan ornamen merah di sepanjang gang dan alunan musik khas kafe yang berpadu dengan keriuhan orang-orang yang mengantre makanan atau sekadar duduk di pinggir jalan.

Pada sisi kiri jalan, berderet warung yang menjual makanan modern maupun tradisional. Hampir setiap warung ada pelanggan untuk dilayani. Beberapa tenda bahkan mempunyai antrean pengunjung yang luar biasa banyak.

Beberapa penjaja makanan dipenuhi calon pembeli yang beresedia mengantre cukup panjang. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Di sisi kanan, berderet meja dan kursi untuk mereka yang mau makan santai sembari menikmati musik, mengamati orang-orang berjalan, atau bercerita panjang dan dalam dengan sahabat. Semarak dan semangat Semawis nggak pernah berubah dari dulu hingga sekarang, batin saya.

Betul, ruh gelaran mingguan ini nggak banyak berubah, bahkan setelah dibungkam pandemi. Perbedaannya mungkin lebih pada penataan tenda yang lebih rapi, jenis makanan yang didominasi street food modern, serta pengunjung yang sependek pengamatan saya kebanyakan adalah anak muda.

Puas mengamati, saya duduk di trotoar, mengistirahatkan kaki sembari menyapa pengunjung yang juga sedang rehat. Helar Wilda Adella, seorang mahasiswi yang tinggal di Gunungpati, Semarang, malam itu seperti saya, sengaja mengunjungi Semawis untuk mengurai kesuntukkan.

“Mau merasakan keramaian Semawis, mau wisata kuliner, dan mau quality time sama teman,” jelasnya saat saya menanyai tujuannya jauh-jauh datang ke pasar yang buka dari pukul 18.00 hingga 23.00 WIB itu.

Beragam jenis makanan dan minuman kekinian bisa kita dapatkan di Pasar Malam Semawis. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Menurutnya, penganan yang dijual di Semawis unik, enak, jarang ada di tempat lain, dan harganya masuk akal. Saya mengamini. Harganya memang terhitung lebih ekonomis ketimbang jajan di pusat perbelanjaan; Semawis menawarkan suasana yang lebih hangat, ramai, dan bebas.

Tiara Puspita, seorang pengunjung lain, juga mengaku menikmati berwisata kuliner di Semawis. Sudah lama menunggu dibuka kembali setelah pandemi, perempuan berjilbab itu akhirnya puas membeli makanan-makanan yang pengin dicicipi.

“Selain makanan khas Indonesia, di sini kita bisa memilih membeli korean food, japanese food, thai food, dan street food luar negeri lainnya,” terangnya.

Malam itu, Tiara, panggilan akrabnya, mengalokasikan Rp 100 ribu untuk acara berburu kulinernya di Semawis. Nominal itu lebih dari cukup untuk bisa mencicip nggak kurang dari tiga jenis makanan berbeda di pasar yang digelar Komunitas Pecinan (Kopi) Semawis itu.

Puas memanjakan lidah dengan makanan favorit, Tiara bersama sahabatnya memutuskan pulang. Seperti dirinya, saya pun bergegas kembali ke parkiran untuk pulang.

Sembari menghabiskan minuman dan camilan, dalam hati saya membatin, Semawis sama sekali nggak kehilangan daya tariknya. Meski gerimis, ia tetap ramai; dan kerinduan saya juga nggak ada habis-habisnya di tempat ini! Ha-ha. (Siti Khatijah/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: