Mengenang Perahu dan Kapal yang Dulu Hilir Mudik di Kali Semarang

Mengenang Perahu dan Kapal yang Dulu Hilir Mudik di Kali Semarang
Kali Semarang dilihat dari atas Jembatan Berok Kota Lama Semarang. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)

Sebagai salah satu jalur utama perdagangan di Semarang tempo dulu, Kali Semarang didatangi orang dari pelbagai wilayah. Sebagian dari mereka bermukim lalu membangun komunitas etnis di bantaran kali dan hidup berdampingan hingga sekarang.

Inibaru.id – Dibandingkan dengan Sungai Musi dengan Jembatan Ampera-nya nan megah di Palembang, Kali Semarang mungkin nggak ada apa-apanya. Nggak panjang, nggak dalam, nggak terlalu lebar juga. Padahal, sungai yang dikenal dengan Jembatan Berok-nya yang bersejarah itu pernah punya arti penting bagi warga Semarang tempo dulu.

Kali Semarang adalah sebuah sungai yang menjadi jalur utama perdagangan berbagai bangsa dari berbagai pulau dan negara yang singgah ke Semarang. Mereka datang untuk berdagang dan meramaikan perekonomian Kota Atlas. Posisinya yang langsung menembus Laut Jawa membuat sungai ini sangat strategis pada masa itu.

Tidak ada yang tahu pasti seberapa panjang Kali Semarang. Yang pasti, sungai ini membentang dari Kecamatan Semarang Utara hingga Lawang Sewu.

“Zaman dahulu pedagang muslim yang datang ke Semarang biasa memarkirkan kapal atau perahunya di Masjid Layur, masjid tertua di Semarang,” jelas Tjahjono Rahardjo, anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Semarang menceritakan sejarah Kali Semarang.

“Mereka biasa sampai pada waktu zuhur dan dilanjutkan oleh sholat di Masjid Layur tersebut,” lanjutnya.

Letak Masjid Layur memang berada di sisi sebelah kanan Kali Semarang jika dilihat dari arah utara. Menara Masjid Layur Semarang pun kabarnya pernah dijadikan mercusuar, bangunan untuk membantu navigasi kapal dan perahu dengan cahaya.

Namun, takmir masjid tidak membenarkan desas-desus tersebut. Sejak dulu, fungsi menara masjid hanya untuk azan. Maklum, pada zaman dahulu memang belum ada pengeras suara seperti speaker dan sejenisnya.

Majid Layur yang menjadi pemberhentian kapal dan perahu yang berlayar di Kali Semarang pada jaman kolonial. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)
Majid Layur yang menjadi pemberhentian kapal dan perahu yang berlayar di Kali Semarang pada jaman kolonial. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)

Salah seorang tukang becak yang biasa mangkal di Jembatan Berok bernama Slamet Gombloh ikut menceritakan pengalamannya tentang Kali Semarang saat dia masih muda.

“Dulu saya masih sempat itu mengantar orang Bugis lewat Kali Semarang menggunakan perahu,” kenangnya.

Warga asli Bandarharjo yang sejak lahir memang hidup di sekitar Kali Semarang ini bahkan menyebut sungai itu dulu juga jadi habitat buaya. “Dulu Kali Semarang itu ada bajolnya (buaya-nya). Kalau ada orang punya hajat nanggap wayang atau apa mereka suka mononton.”

“Bentuk bajolnya itu badan buaya tapi kepalanya wujud manusia,” cerita Pak Slamet sembari mengelap penutup plastik becaknya dari tetesan gerimis.

Pak Slamet juga bercerita bahwa Kali Semarang kini sudah tidak difungsikan seperti awalnya, yaitu sebagai jalur transportasi dan perdagangan.

“Dulu mulai tahun berapa saya lupa, Kali Semarang di muaranya dibuat untuk pembendung banjir, jadi beberapa tahun ini banjir sudah lumayan nggak terlalu. Tapi di bulan kedua kemarin sempet banjir besar sampai melebar ke jalanan dan trotoar,” terang Pak Slamet sembari mengacungkan telunjuk tangan ke arah trotoar pejalan kaki Jl. Pemuda.

“Dulu itu hanya satu ruas jembatan saja tapi tepatnya tahun berapa saya lupa dan dibentuk dua ruas,” pungkas Slamet.

Jembatan Berok yang asli adalah yang ruas sebelah kanan. Jika dilihat dari Jalan Pemuda, persis lurus dengan jalan tersebut. Jembatan ini sangat penting kegunaaannya, khususnya di daerah Semarang Timur, karena juga berfungsi sebagai pembendung air yang masuk dari laut.

Pak Slamet Gombloh, seorang tukang bejak warga asli Bandarharjo, sebuah desa yang berpepetan langsung dengan Kali Semarang. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)
Pak Slamet Gombloh, seorang tukang bejak warga asli Bandarharjo, sebuah desa yang berpepetan langsung dengan Kali Semarang. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)

Berbeda dengan cerita Pak Slamet, seorang juru parkir di sebuah bank di dekat Jembatan Berok bernama Bu Ngatini mengaku nggak memiliki pengalaman serupa. Meski lahir pada 1968, dia sudah nggak menjumpai perahu ataupun kapal hilir mudik melewati Kali Semarang. Padahal, dia juga lahir dan besar di Kelurahan Bandarharjo.

“Belum pernah liat orang pakai perahu lewat Kali Semarang. Sejarahnya bagaimana juga kurang tahu. Mungkin itu zaman sebelum saya lahir,” jelas Bu Ngatini.

Apapun itu, Kali Semarang memiliki peran besar dalam mengembangkan perekonomian Kota Semarang dan ikut mempengaruhi berkumpulnya komunitas multi-etnis yang tinggal di sekitarnya. Kini, kamu bisa menemukan warga dari Kampung Melayu, Kampung Pecinan, Kampung Arab, dan Kampung Jawa yang hidup rukun di sekitar Kali Semarang.

Jadi kepikiran, mungkin nggak ya perahu atau kapal bisa kembali melaju di Kali Semarang, Millens. (Kharisma Ghana Tawakal/E07)