Kopi Babah Kacamata Khas Salatiga, Melegenda Sejak 1965

Kopi Babah Kacamata Khas Salatiga, Melegenda Sejak 1965
Beberapa ukuran kemasan dari Kopi Babah Kacamata. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Selalu ada cerita di dalam kepulan asap secangkir kopi panas. Hal ini terbukti dengan uniknya cerita kopi khas Salatiga, Babah Kacamata. Seperti apa ya ceritanya?

Inibaru.id – “Ngopi yuk!” ajak saya kepada kawan lama yang saya kunjungi belum lama ini. Mumpung sedang berada di Kota Salatiga yang berhawa dingin, ritual ngopi bisa jadi cara yang asyik untuk membuat obrolan malam menjelang pagi semakin seru. 

Dari obrolan itu, kawan lama saya mengungkap fakta menarik tentang minuman ini di Salatiga. “Hampir seluruh angkringan di Salatiga pakai kopi ini,” ucapnya sembari menunjukkan kopi berbungkus plastik bersablon seorang lelaki berkacamata.

Pekerja yang sedang melakukan prosesi pengemasan Kopi Babah Kacamata. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)
Pekerja yang sedang melakukan prosesi pengemasan Kopi Babah Kacamata. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)

Kopi Babah Kacamata merupakan sebuah jenama kopi khas Kota Enting-enting Gepuk. Di sana, jenama ini cukup populer. Pendirinya adalah Warsono, sang Babah Kacamata. Dia sudah mulai mengedarkan kopi buatannya ke warung-warung kecil dan pinggir jalan sejak 1965.

Permintaan pedagang warung-warung yang terus berdatangan membuat produksi jenama kopi ini seperti nggak pernah berhenti. Kini, konsumennya bisa mencakup semua kalangan mulai dari angkringan pinggir jalan hingga kafe ternama.

“Menurut saya, kopi ayah saya masih diminati hingga sekarang karena memang kualitas yang terjaga. Juga dengan pembeli yang sudah cocok sejak dahulu,” daku Astana, anak terakhir Warsono yang meneruskan usaha Kopi Babah Kacamata.

Kopi Turun-temurun

Astana, salah satu penerus Kopi Babah Kacamata. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)
Astana, salah satu penerus Kopi Babah Kacamata. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)

Ada alasan mengapa Kopi Babah Kacamata ini terus laris. Astana mengaku pembelinya berasal dari pelbagai umur. Dia yakin jika kopi ini dikenalkan dari orang tua ke anak cucunya hingga akhirnya menjadi kopi turun-temurun yang disukai semua kalangan usia.

Lebih dari 50 tahun memproduksi kopi, Babah Kacamata setia hanya menyediakkan kopi jenis robusta. Astana menjelaskan bahwa resep yang diberikan sang ayah memang hanya menggunakan kopi jenis itu. Sayang, saya nggak bisa bertanya lebih tentang alasan mengapa hanya memakai satu jenis kopi karena Warsono sudah meninggal bertahun-tahun lalu.

“Memang, arabika terkenal enak dan lebih mahal. Tapi apa boleh buat, kami besar dengan robusta dan akan selalu menjual itu,” ucapnya sembari menyapa pesan pelanggan yang datang.

Bagi yang belum tahu, bahan baku Kopi Babah Kacamata di-supply langsung dari Pingit, Magelang, dan Ambarawa. Untuk pemilihan grade kopinya, Astana memberikan kepercayaan penuh kepada mereka (supplier). Dirinya mengaku hanya tinggal terima beres dengan standar biji kopi yang oke punya.

Nampak sekat antara toko dan ruang pengemasan kopi yang menjadi satu. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)
Nampak sekat antara toko dan ruang pengemasan kopi yang menjadi satu. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)

Untuk masalah roasting, bisa dilakukan di dalam toko Babah Kacamata. Namun, seperti penjual lain yang punya resep rahasia, Astana pun benar-benar menjaga kerahasiaan nikmatnya kopi produksinya. Saya nggak bisa menengok jauh ke dalam dapur tersebut. Yang pasti, kopinya halus dan enak!

Kopi Babah Kacamata bisa kalian temui di dekat Pasar Raya Salatiga. Tepatnya di toko berwarna kuning di Jalan Kalinyamat Nomor 16 Salatiga. Tertarik beli kopi legendaris ini, Millens? (Kharisma Ghana Tawakal/E07)