Jejak Garnisun di Salatiga, Kota Paling Indah di Jawa Tengah

Dikenal sebagai kota paling indah di Jawa Tengah, wilayah yang menjadi poros antara Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta ini juga pernah menjadi pusat militer (garnisun) di Jawa. Gimana jejak garnisun di Salatiga? 

Inibaru.id – Awal-awal datang ke Jawa pada masa kolonialisme, para elite Belanda selalu tinggal di dalam benteng berdinding tinggi dengan kanal mengelilinginya. Mereka baru berani keluar kandang dan mendirikan bangunan di luar benteng setelah konflik dengan bumiputra berkurang.

Kota pesisir seperti Batavia, Semarang, dan Surabaya yang semula menjadi pusat dagang dan tempat tinggal juga mulai ditinggalkan karena kota-kota tersebut dianggap kurang sehat lantaran berdiri di atas bekas rawa. Mereka pun memindahkan permukiman ke pedalaman yang tetap strategis dan sehat.

Salatiga, wilayah yang menjadi persimpangan antara Semarang, Surakarta, Magelang, dan Yogyakarta, kemudian menjadi salah satu pilihan utama. Semasa Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) berkuasa di Jawa, Salatiga adalah kota garnisun. Permukiman dan pelbagai fasilitas umum juga didirikan di kota sejuk tersebut.

Kini, jejak garnisun di Salatiga masih tersisa. Beberapa bangunan kolonial terserak di mana-mana, meski kondisinya sebagian nggak lagi paripurna. Sejarawan Salatiga Eddy Supangkat mengatakan, ada 144 bangunan peninggalan kolonial yang terhitung sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) di kota yang terkenal dengan enting-enting gepuknya itu.

Rumah Historia Salatiga

Eddy sengaja saya temui karena dia tahu banyak tentang bangunan-bangunan bersejarah di Salatiga. Bertempat di Rumah Historia, Jalan Sononirto No 654, lelaki yang juga pernah berprofesi sebagai jurnalis itu belum lama ini banyak bercerita tentang bangunan bersejarah di Salatiga yang telah menarik perhatiannya sejak kecil.

Dia memang telah mencintai sejarah sejak kecil, yang tumbuh seiring cerita dari nenek-kakeknya. Hingga kini, sudah 20 buku tentang Salatiga diterbitkannya. Foto-foto jejak garnisun di Salatiga pun dikumpulkannya, yang kini disatukannya dan dipajang di Rumah Historia.

Bangunan yang kini kerap menjadi referensi para pegiat dan pencinta sejarah di Kota Salatiga ini merupakan rumah peninggalan nenek-kakek Eddy.

Di tempat yang berdiri sekitar tiga tahun lalu tersebut, foto-foto lawas tentang Salatiga terpampang. Inilah yang menjadi referensi saya dalam mengulik jejak Salatiga sebagai kota garnisun. 

Jejak Garnisun di Salatiga

Untuk menjamin kelancaran transaksi dagang di Jawa, VOC membangun kantong garnisun di Salatiga. Fort De Hersteller, benteng yang namanya diambil dari nama kapal Belanda yang mendarat ke Batavia, dibangun pada 1746.

Awal abad ke-19 Belanda menempatkan semakin banyak pasukannya di Salatiga, hingga kota kecil yang menjadi poros Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta tersebut pun mendapatkan julukan baru, yakni Kota Militer atau Kota Garnisun.

Saat ini, telah banyak bangunan yang hancur, misalnya Fort De Hersteller. Namun, nggak sedikit pula yang masih tersisa. Bahkan, beberapa bangunan yang tersisa itu masih digunakan hingga sekarang. Inilah beberapa di antaranya.

1. Gedung Pakuwon

Berbekal obrolan dengan Eddy, saya pun memulai penelusuran dari alun-alun kota. Tujuan saya adalah Gedung Pakuwon, bangunan bersejarah di selatan alun-alun yang menjadi tempat Perjanjian Salatiga ditandatangani.

Perlu kamu tahu, Perjanjian Salatiga adalah kesepakatan pembagian wilayah antara tiga penguasa Jawa kala itu, yakni Raden Mas Said, Pakubuwono III, dan Hamengkubuwana I. Dalam perjanjian yang disaksikan VOC ini, Raden Mas Said mendapatkan separuh wilayah Surakarta dan memperoleh gelar Mangkunegara I guna mengakhiri kisruh para keturunan Kerajaan Mataram tersebut.

Sayang, saya gagal masuk ke gedung yang sejak 1980 telah menjadi properti pribadi tersebut lantaran nggak mendapat izin dari sang pemilik. Namun, dari luar bisa terlihat bahwa bangunan itu kurang terawat.

2. Kantor Walikota

Dari Pakuwon, saya segera beralih ke Kantor Walikota Salatiga. Bangunan di Jalan Sukowati ini berada sepelemparan batu saja dari Gedung Pakuwon. Eddy mengatakan, bangunan ini semula milik advokat cum taipan kelahiran Belanda Baron Carel Willem van Heeckeren.

"Dari Carel Willem, kepemilikan berpindah ke GBF van Heeckeren van der Schoot, lalu sempat menjadi milik Semarang Administrasi Mascapai," ujar pemilik Rumah Historia Salatiga tersebut. "Bangunan sempat disewa Pemkot Salatiga, kemudian mereka beli sampai sekarang."

Yang menarik dari bangunan megah dengan halaman luas ini adalah atapnya yang datar dengan sedikit lekukan pemanis. Orang Jawa menyebutnya gedung rata atau papak.

3. Wisma BCA

Bangunan cagar budaya yang perkiraan berusia 100-an tahun ini berlokasi di Jalan Diponegoro (dulu Toentangscheweg). Cukup melihat dari luar, siapa pun tahu gedung dengan dua menara pada sisi kanan-kiri itu merupakan bangunan klasik era kolonial Belanda.

Eddy menjelaskan, semula area sekitar Wisma BCA adalah kawasan elite bertajuk Europeesche Wijk yang hanya boleh dihuni orang Eropa, Asia Timur, dan bumiputra berpenghasilan tinggi. Sementara, bangunan Wisma BCA awalnya merupakan rumah tetirah.

Bergaya art deco beratap lancip dengan ornamen gotik yang dibangun pada awal abad ke-20, gedung yang masih terawat baik ini juga dikenal sebagai De Mestein Pensioens Hotel atau "hotel para pensiunan".

4. GPIB Tamansari

Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Tamansari merupakan gereja tertua di Kota Salatiga. Sejak dibangun pada 1823, alih fungsi bangunan ini beberapa kali dilakukan pada masa kolonial Belanda dan Jepang.

“Dulu GPIB adalah gudang mesiu oleh Belanda. Tapi, karena terjadi ledakkan besar, gudang dipindah ke tempat lain”, ungkap Eddy. "Lonceng pada GPIB Tamansari dibawa langsung dari Negeri Kincir Angin."

Saat kedatangan Jepang, gedung ini sempat vakum, lalu digunakan sebagai gedung pramuka.

5. Rumah Dinas Walikota

Menyeberang dari GPIB Tamansari, ada Rumah Dinas Walikota yang juga merupakan bangunan kuno. Kompleks ini terdiri atas dua bangunan, yakni bangunan utama yang dibangun pada 1825 sebagai tempat bermukim anggota Majelis GPIB. Kemudian, bangunan kedua yang didirikan pada 1830 konon sempat dihuni asisten residen zaman kolonial.

Setahu saya, Presiden ke-1 RI Sukarno bertemu istri keempatnya, Hartini Soewondo, di tempat ini pada 1952.

6. Gardu ANIEM

Bangunan berbentuk kotak yang salah satunya ada di Jalan Adisucipto ini dulunya merupakan gardu listrik kepunyaan Algemeen Nederlands Indische Electriciteits Maatschappij (ANIEM), anak perusahaan gas Hindia Belanda, Nederlandsch-Indische Gasmaatschappij (NIGM).

Sebagai jalur logistik militer pemerintah Hindia Belanda di Jawa, Salatiga memang ditopang 10 gardu listrik dengan kapasitas mumpuni. Gardu NIEM inilah rumah trafonya. Agus Heri Purwanto, salah seorang admin di ruangan berukuran 2,5x2,5 meter itu mengatakan, kini trafonya sudah dipindahkan.

“Beberapa tahun terakhir gardu listrik dimanfaatkan untuk fasilitas umum seperti pembayaran listrik, tempat lapor untuk pemasangan baru, tambah daya, dan migrasi," terang Agus.

7. Satlantas Salatiga

Satlantas Salatiga menempati bangunan tua yang sebelumnya dikenal sebagai Fort de Hock atau Benteng Hock. Dinamai demikian karena perancangnya bernama Hock. Eddy mengatakan, kendati disebut benteng, sejak awal Fort de Hock bukanlah fasilitas pertahanan, tapi asrama tentara. 

Berbeda dengan kebanyakan bangunan kolonial lain, desain kompleks bangunan seluas 20 ribuan meter persegi yang pasca-kemerdekaan RI dialihfungsikan sebagai kantor polisi ini lebih mirip bangunan Yunani yang dipenuhi pilar menjulang dan pintu-pintu nan tinggi.

"Saat ini kompleks bangunan itu menjadi satlantas, dipakai untuk mengurus SIM," kata Eddy di Rumah Historia, Jalan Sononirto No 654 Kota Salatiga.

Oya, di Satlantas Salatiga inilah penelusuran saya berakhir. Tentu saja masih banyak jejak garnisun di kota ini. Mungkin kali lain saya akan kembali lagi ke sini. Kamu punya referensi lain, Millens? (Kharisma Ghana Tawakal/E03)