BerandaAdventurial
Sabtu, 31 Jan 2025 19:00

Candi Gunung Wukir, Prasasti Canggal, dan Jejak Sejarah Kerajaan Medang

Candi Gunung Wukir bercorak Hindu.. (Dinkominfo Magelang)

Meski kini hanya menyisakan reruntuhan, keberadaan Candi Gunung Wukir tetap menjadi saksi kejayaan peradaban Hindu di Jawa.

Inibaru.id - Candi Gunung Wukir, yang terletak di Dusun Canggal, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, merupakan salah satu peninggalan sejarah penting di Indonesia.

Candi ini dikenal karena menjadi situs pertama yang mencantumkan tahun pendiriannya, sehingga menjadi titik awal penanggalan dalam sejarah Kerajaan Medang di Mataram.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispuspa) Kabupaten Magelang Wisnu Budi Argo Budiono mengungkapkan, Candi Gunung Wukir atau Candi Canggal adalah candi Hindu yang ditemukan bersama dengan Prasasti Canggal.

“Situs Candi Gunung Wukir atau Candi Canggal, adalah candi bercorak Hindu yang ditemukan (bersama) Prasasti Canggal, yang mencantumkan tahun pembuatannya, sehingga menjadi tonggak sejarah; kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta,” kata Wisnu Budi, Kamis (30/1/2025).

Dari Prasasti Canggal, para peneliti memperkirakan bahwa pendiri Candi Gunung Wukir adalah Raja Sanjaya, yang juga merupakan pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Mataram Kuno.

Pada masa itu, kompleks candi terdiri atas empat bangunan utama, yakni satu candi induk dan tiga candi perwara (pendamping) di depannya.

“Sayangnya, keadaan candi-candi dari batu andesit tersebut tidak lagi utuh, hanya menyisakan sedikit reruntuhan. Namun, dari penemuan yoni dan arca Nandi (lembu), dapat diketahui bahwa Candi Gunung Wukir bercorak Hindu,” ujar Wisnu.

Candi ini berdiri di atas sebuah bukit yang merupakan bagian dari kawasan Dataran Kedu. Untuk mencapainya, pengunjung harus mendaki sekitar 300 meter dari Dusun Canggal.

"Lokasinya pun cukup strategis, berada di jalur penghubung antara Kecamatan Salam dan Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang," kata dia.

Sarat Peninggalan Sejarah

Prasasti Canggal menyebutkan bahwa candi ini didirikan pada masa pemerintahan Raja Sanjaya, sekitar tahun 732 M atau 654 tahun Saka. (Dinkominfo Magelang)

Berdasarkan catatan Wikipedia, Dataran Kedu memiliki banyak peninggalan sejarah. Sekitar Candi Gunung Wukir ditemukan beberapa peninggalan dari era yang sama, seperti Candi Losari (ditemukan pada 2004) dan Petirtaan Mantingan (ditemukan pada 2019).

Nggak jauh dari sana, di barat laut, juga terdapat Candi Gunungsari dan Candi Ngawen. Mayoritas candi ini berada di Kecamatan Salam, kecuali Candi Ngawen.

Candi Gunung Wukir diyakini sebagai salah satu candi tertua yang dapat dikaitkan dengan penanggalan sejarah. Prasasti Canggal yang ditemukan pada 1879 di reruntuhan candi, menyebutkan bahwa pendirian candi ini terjadi pada masa pemerintahan Raja Sanjaya, sekitar tahun 732 M atau 654 tahun Saka.

Prasasti tersebut memuat berbagai informasi mengenai Kerajaan Medang atau Mataram Hindu. Nama asli candi ini diduga adalah Shiwalingga di Kunjarakunja, adapun nama Gunung Wukir merujuk pada lokasi tempatnya berdiri.

Kompleks reruntuhan candi memiliki luas sekitar 50x50 meter. Bangunan candi tersusun dari batu andesit, terdiri atas satu candi utama dan tiga candi perwara. Selain prasasti, di area candi juga ditemukan yoni, lingga (simbol Dewa Siwa), serta arca lembu betina Nandi.

Yoni berukuran besar ditemukan di candi utama, sedangkan dua yoni lebih kecil berada di candi perwara.

Rusak Berat saat Ditemukan

Menurut catatan Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta, banyak candi di Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Magelang, yang terbuat dari batu andesit, bahan yang umum ditemukan di sekitar gunung berapi.

Batu-batu candi disusun tanpa adonan khusus, kecuali pada bagian luar tertentu. Setelah struktur terbentuk, barulah ornamen dipahatkan pada permukaannya yang sudah diratakan.

Saat ditemukan, sebagian besar candi dalam kondisi rusak berat, dengan bebatuan yang berserakan di berbagai tempat. Bahkan, beberapa batuan bersejarah tersebut telah digunakan untuk keperluan lain, seperti tanggul atau pondasi rumah warga sekitar.

Kerusakan candi ini diperkirakan terjadi akibat berbagai faktor, seperti bencana alam termasuk banjir, gempa bumi, dan letusan gunung berapi, serta akibat peperangan dan perebutan kekuasaan. Dalam konflik kerajaan, pusat pemerintahan sering kali menjadi sasaran penghancuran, termasuk bangunan suci seperti candi.

Pelaku wisata Jeep Jurang Jero di Muntilan, Rofi’i berharap, kawasan Candi Gunung Wukir dapat dimanfaatkan sebagai jalur wisata sejarah.

“Yang jelas, peninggalan Candi Wukir yang berada di atas bukit Gunung Wukir rutenya cukup menantang saat dilalui dengan berjalan kaki. Selain melewati kampung dan rumah penduduk, wisatawan juga bisa melihat rimbunnya pohon-pohon bambu di sepanjang jalan,” ujar Rofi’i.

Wah, sayang banget ya jika banyak bagian candi yang hilang. Sebaiknya memang direstorasi untuk kemudian dijadikan kawasan wisata edukasi dan budaya ya, Millens? (Siti Zumrokhatun/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: